murniramli

Belajar menyusun paper yang baik

In Penelitian Pendidikan on Oktober 25, 2007 at 11:40 am

Sudah hampir 10 hari saya tak bisa menulis sebaris kalimat pun di blog, padahal kebiasaan lembur di depan komputer masih saya jalani. Bukan karena tak ada ide, tapi karena professor saya sedang bersemangat mengecek thesis saya dan 3 kali seminggu saya harus menghadap beliau dan menyetorkan perkembangan tulisan.

Sekalipun sudah pernah menulis thesis ketika S1 dan S2 di Indonesia, dan bahkan pernah kuliah metode penelitian, plus tata cara menulis yang baik di IPB dulu, tapi berhadapan dengan thesis berbahasa Jepang, kelihatan sekali saya masih selevel TK (^_^)

Akhirnya beberapa minggu yang lalu, saya beli buku teknik menulis paper dalam bahasa Jepang dan ada satu point yang memberikan pelajaran berharga kepada saya yang mendadak jongkok IQ-nya (>_<). Selama 3 kali bolak balik menghadap sensei, saya gagal menyampaikan apa yang ingin saya tulis dan bagaimana menyusun komposisi paper agar orang yang membacanya tak berhenti hingga pendahuluan saja, atau langsung lompat ke kesimpulan.

Sama dengan professor yang lain saya kira, professor saya cenderung tak mau memberitahukan secara tegas ini salah atau ini benar, tapi meminta saya mencari dan memutuskan sendiri. Jadilah saya setiap pagi diserang keringat dingin sesudah shalat subuh, dan kepala hanya berisi paper,paper, dan paper. Ada 18 halaman paper yang sedianya disubmit ke Journal kampus bulan ini, penampakannya sdh lusuh dan penuh coretan warna-warni. Orang yg setiap hari bertemu saya di kereta pasti gerah dengan pemandangan saya memegangi dan memelototi kertas-kertas lecek itu.

Tapi saya gembira karena hari ini, kata sensei, ada kemajuan pola berfikir di paper yang saya tulis, dan beliau tidak berkata “ganbatte kudasai” yang artinya (selamat bekerja), seperti biasanya tapi mengucapkan “ganbarimasyou” (mari kita bekerja keras). Wah, saya jadi bersemangat. Sekalipun sibuk sekali dengan jabatan rangkapnya sebagai kepala sekolah, tapi setiap kali bertemu selalu saja pintu ruangannya sudah terbuka sebelum saya datang. Beliau benar-benar menunggu saya rupanya. GR mode !

Sekarang saya coba gambarkan cara menyusun outline tulisan yg saya baca dari buku Jepang tadi :

1. Pikirkan ide baru apa yang ingin disampaikan (bagian kesimpulan).

2. Agar pembaca mengerti kenapa ide baru itu tercetus, maka harus disajikan cara berfikir yang kita pakai sebagai point of view, atau dasar kita menganalisa masalah, berikut data yang mendukung analisa. Biasaya 2-3 dasar analisa yang dipakai. Misalnya jika menyangkut kebijakan pendidikan, maka dapat dianalisa dari sisi kemaanfaatan, kelayakan dan keberlanjutannya.

3. Apa masalah yang diangkat di paper. Fakta yang membuat kita tertarik untuk menganalisanya.

4. Supaya orang lain mengerti ide baru yang kita lontarkan, maka kita harus menyampaikan kepada pembaca pengetahuan apa, ilmu apa, teori apa, fakta apa yang harus mereka fahami terlebih dahulu supaya sejalan dengan alur berfikir kita. Di bagian ini, penelitian-penelitian terdahulu yang terkait perlu dicantumkan.

5. Langkah akhir, baca secara menyeluruh outline yang sudah dibuat dan perhatikan apakah sudah sambung menyambung.

Bagi yang sudah sering menulis tulisan ilmiah barangkali ini langkah yang sudah ada di luar kepala. Juga bagi penulis bidang sains, barangkali agak mudah dengan hasil eksperimentasi yang jelas dan teori pendukung yang kuat.

Tapi bagi saya, yang terbiasa menulis panjang-panjang dan dengan kalimat yang diusahakan indah 😀 , saya sekarang kesusahan menulis kalimat ilmiah yang kaku. Tapi, sama seperti teman2 yang sekarang pun sedang tepekur di depan laptop dan tumpukan buku, saya tak mau berputus asa untuk hal ini.

Iklan
  1. Mbak tulisannya bermanfaat banget…kebetulan saya baru mulai nulis thesis…jadinya semangat lagi buat nulis. Boleh nggak mbak kalo mbak murni saya mintai comment about my thesis, kebetulan bidang pendidikan juga. Paling nggak semakin banyak yang kasih komentar semakin nambah wawasan juga kan? Kalo mbak Murni bersedia nanti saya emailkan aja, malu soalnya baru bab 1 itupun masih amburadul banget.

    murni : Mba Heni, saya bersedia saja, sekalian belajar 🙂
    Hanya bulan2 ini saya sangat sibuk. Nanti paper Mba, jadi keteteran gara-gara saya telat ngomentari.

  2. Kiat menulis tesis ? Arigatou. 😀

  3. Selamat menulis, ya mbak. Makasih untuk tipsnya.

    murni : sami-sami, Mba Santi

  4. lho.. kirain dah di Indonesia buat ikut konferens IRSA Institute di ITB minggu depan. Datang ngga?

    Mba, saya baru diberi kabar kalo saya presentasi oleh panitia tgl 24 Okt, lalu diminta submit full paper tgl 27.
    Tgl 27-28 ada gakkai di Nagano. Tiket belum pesen. Ta pikir conference nya ngga jadi, ternyata yg presentasi buanyak pisan.
    Ngga jadi ikut, Mba…ndak bisa manage paper2. Tgl 10/11 ada gakkai lagi di Nagano. Rencana-ne pulang mo radha lama, sekalian u penelitian
    tapi kayaknya belum bisa. Mba Fau ikut ya ?

  5. Assalaamu’alaikum
    Bu, ternyata penggunaan ganbarimashou dan ganbatte kudasai itu berbeda “sense”-nya ya?
    Saya baru tahu… Arigatou..

    Saya ingin juga mendapat beasiswa dari monbusho untuk research student, tapi pengalaman saya menulis jurnal belum seberapa :(. Tapi, saya terus belajar Bu… 🙂

    Jangan kehilangan semangat ya Bu! Semoga thesisnya cepat selesai dan Ibu bisa kembali ke Indonesia… 😀

    Wassalaam

    __bowo;

    utagai ni gambarimasyou 🙂

  6. ora mudeng

    murni : aku yo ra mudheng, Gus 😀
    Wis nulis yo ?

  7. Subahanallah, bermanfaat sekali bu. Terima Kasih atas informasinya

    murni : Alhamdulillah ada manfaatnya.

  8. walah ternyata…… gampang tenan nek
    mbak murni sing menerangi …hehehe…

    Kayake… Anda telah
    menjalani phase “mengenali”
    melampaui phase momok misteri “kesulitan” dan
    memberitahu juga menawarkan kemudahan ilmu
    menulis metodologi penelitian

    Strata/kasta/phase/perilaku penguasa-2 ilmu :
    Selamat Anda telah ngelakoni strata perilaku Seorang Profesor [satu kriteria kusebut demikan], dimana.. :
    menawarkan sesuatu sebenarnya sulit menjadi serba mudah [karena tabir rahasia terbuka sudah],
    bukannya membuat sesuatu hal yang sebenarnya mudah dibikin sulit, strata perilaku Seorang Pasca Sarjana [S2], biar kelihatan menguasai end keren masih butuh pengakuan atas penguasaan ilmunya hihihi….
    atau serba membuat mudah menjadi sulit, karena kebingungan atau sebaliknya sesuatu yang sulit jadi dibikin mudah karena disederhanakan, strata perilaku Seorang Sarjana [S1] hehehe

    mohon ditinjau/dikoreksi/konsultasikan kepada mbak Murni …

    skali-3 nulis ttg. wong jepun mengenali & merawat alam lingkungannya [dalam perspektif pendidikan, perilaku,pelaku bisnis ,pamong praja & industrina]
    ku tunggu lho tulisannya nggih… [mekso kie]

    Selamat menjalani & mengawinkan dua budaya
    dalam jalinan keakraban & persahabatan diantara
    keduanya untuk saling mengerti juga memahami.

    Selamat menjadi Atase Kebudayaan “Diplomat karier” KBRI.
    Beruntunglah KeDubes Indonesia Konsuler Cabang..mana.. Kyoto….atau…? punya seseorang
    duta karier yang mumpuni dan ngelakoni ilmune
    wis ndak pelit ilmu, ramah lagi tak sombong end
    baik hati …. kapan ya kubisa menduplikasi/tiruna

  9. Pak Ardi,

    Komentar Bapak selalu saya tunggu lho….:D
    Karena penuh pujian heheheh….yg membuat saya harus membaca ulang tulisan2 yg Bpk komentari, untuk mengecek di bagian mana yg sebenarnya org tertarik dan dapat mengambil manfaat.
    kadang2 setelah dibaca ulang, saya juga terkagum2 bisa menyusun kalimat yg bagus. Bukan berarti saya mengagumi diri sendiri, tapi kagum dg kepandaian yg dianugerahkan kepada saya olehNYA.

    Btw, Pak, pujiannya terlalu berlebihan 🙂
    Yg layak dipuji cuma DIA. Saya cuma ikut nebeng hehehe….

    Tulisan ttg pemeliharaan lingkungan di Jepang, insya Allah saya akan tulis.

    terima kasih sudah berkunjung, Pak

  10. krungu tulisan thesis kok wis kudu ngelu sirahku! tapi gpp… tulisan ini sangat bermanfaat. semoga bisa memberikan informasi juga dorongan semangat bagi teman-teman yang sedang dihadapkan pada hal serupa 🙂

  11. Ass.Wr.Wb. alhamdulillah terima kasih sdh membk jln pikiran saya tuk mulai menulis lagi dengan dasar tip ini. Mdh2an diberi kelancaran.

  12. wahh… okelah mbak. mbak pernah di IPB? semoga saya ketularan mbak heheheeee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: