murniramli

Apa bedanya sekolah kota dan sekolah daerah ?

In Manajemen Sekolah, Pendidikan Jepang, SMA di Jepang on Oktober 30, 2007 at 9:13 am

Hari Sabtu dan Minggu yang lalu saya pergi ke Nagano untuk mengikuti simposium tentang pengembangan sekolah di Jepang atau dalam bahasa Jepangnya dikenal sebagai “hirakareta gakkou dukuri”.  Pesertanya sekitar 300 orang guru, siswa, orang tua, mahasiswa, dosen dan pemerhati sekolah se-Jepang.  Simposium berlangsung di SMA Tatsuno, yang beberapa kali saya ceritakan di blog ini.

Pada hari Sabtu kami diberi kesempatan menyaksikan pengajaran di kelas-kelas (jugyou sankan), plus menyaksikan dan terlibat acara “gakkou foramu”nya SMA Tatsuno yang menjadi referensi bagi sekolah-sekolah di seantero Jepang.  Tidak seperti waktu awal dicetuskan di tahun 1997, gakkou foramu kali ini kelihatan biasa-biasa saja.  Mungkin karena pengurus OSIS sudah berganti begitu pula dengan pembinanya.  Sebagai ingatan atas tulisan tentang gakkou foramu yang juga pernah saya angkat di blog ini, bahwa dalam forum itu, siswa SMA Tatsuno berdiskusi dengan guru, orang tua, dan wakil pemeritah dan masyarakat membahas tentang permasalahan di kota Tatsuno.  Misalnya masalah sampah, kesopanan berkereta, sikap dan perilaku siswa, dll.

Malamnya diadakan dinner bersama (konshinkai), dan karena saya satu-satunya peserta asing, maka saya dipaksa menyampaikan speech pendek tentang kesan hari pertama dan harapan untuk simposium hari kedua. Saya seakan mewakili wilayah Chubu, karena boleh dikatakan hampir semua bagian Jepang terwakili malam itu. Maka dengan bahasa Jepang yang mulai agak baikan 😀  kata teman saya, saya agak gugup memperkenalkan diri, lab saya dan professor saya plus kesan.  Sampai-sampai lupa menyebutkan bahwa saya dari Indonesia, sehingga MC repot-repot menanyakan : okuni wa dochira desuka ? (dari negara mana ?)  😀

Hari kedua, ada tiga grup diskusi, grup pertama tentang “gakkou dukuri” (pengembangan sekolah), grup kedua tentang “gakkou hyouka dan kyouin hyouka” (evaluasi sekolah dan guru), dan grup terakhir khusus untuk para pengurus OSIS SMA untuk bertukar informasi dan permasalahan.  Saya seperti biasa bergabung dengan grup kesatu.

Di grup saya ada 4 laporan yang kami diskusikan, yaitu 1) pengembangan metode pembelajaran di SMA Tokyo University,  2) School forum SMA Bie, Hokkaido, 3) School forum SMA di Nagano dan 4) Pengembangan sekolah dengan mengadopsi sistem Jerman di sebuah SMA di Yamaguchi.

Saya sangat tertarik dengan presentasi ke-1 dan terakhir.  Sebab yg ke-2 dan ke-3 sudah sering saya dengar dan school forum-nya menjiplak apa yang berlangsung di SMA Tatsuno.  Pendekatan yang diambil oleh SMA Tokyo Univ, sebuah sekolah yang berafiliasi ke Tokyo Univ, dengan jumlah siswa sekitar 150 orang lebih terdiri dari SMA dan SMP (sekolah kecil) ini sangat menarik, karena mereka melibatkan guru, orang tua dan siswa dalam mereformasi cara belajar mengajar.  Dengan memakai buku karangan Pak Sato Manabu, yang menjadi buku wajib bagi Fak Pendidikan di seluruh Jepang, mereka mengembangkan “manabu kyoudou tai” atau belajar secara kooperative, yaitu mengelompokkan siswa-siswa untuk belajar bersama dan menjelaskan materi pelajaran di kelas.  Guru hanya sebagai fasilitator.  Model ini mungkin sudah banyak diterapkan di beberapa negara, atau bahkan di Indonesia.  Ya, bagian SD dan SMP di Jepang pendekatan ini sudah lazim, tetapi mungkin cukup jarang bagi siswa SMA.  Guru SMA cenderung menerangkan dan menerangkan, hampir 90% waktunya berada di depan papan tulis, memegang kapur, mengoceh sepanjang jam pelajaran dan agak tak peduli dengan siswa yang tertidur pulas 😀  (Maaf, bagi bapak/ibu guru yang selalu bercanda ketika mengajar)

Karenanya metode ini kelihatan baru bagi guru-guru SMA di Jepang.  Bahkan sistem ini akan dikembangkan secara meluas dan seorang peneliti dari sebuah universitas yang saya lupa namanya, mengatakan telah membuka milis untuk guru SMA yang ingin berbagi pengalaman mengajar atau berkonsultasi.

Yang menarik lagi dalam pendekatan SMA Tokyo adalah pertemuan guru-orang tua siswa-nya berprinsip satu suara satu orang, dan tak mengenal perwakilan.  Jadi semua guru, siswa, ortu boleh datang di pertemuan, dan kepala sekolah pun boleh berbicara.  Beda dengan pendekatan SMA Tatsuno yang mengenal sistem perwakilan.

Tema yang diangkat dalam pertemuan sekolah pun berbeda.  SMA Tokyo cenderung mengangkat masalah yang erat kaitannya dengan prestasi belajar siswa (sasuga TODAI!!), dan tak peduli dengan masalah kota dan tetek bengeknya, sampah, manner/kesopanan dll, juga tak ambil pusing dengan masalah seragam, model rambut, vending machine perlu atau tidak di sekolah.  Ini menunjukkan sekali bahwa sekolah kota mempunyai trend dan permasalahan yang khas kota.

Sedangkan SMA-SMA daerah yang diwakili oleh SMA Tatsuno, SMA Bie, selalu memasukkan tema seragam sekolah, model rambut, adab kesopanan, sampah, pelestarian budaya dalam pertemuan sekolah.  Bahkan perlu tidaknya vending machine menjadi hal wajib 😀  untuk dipermasalahkan.

Saya melihat dikotomi arah pengembangan sekolah di kota dan daerah2 di Jepang.  Dan karena saya tak suka keseragaman dalam berfikir, maka pendekatan SMA daerah menurut saya kurang variasi, bahkan tak terlalu dalam menggali apa sebenarnya masalah utama yang dihadapi siswa di sekolah.

Pengembangan sekolah menurut saya harus menomorsatukan siswa sebagai pihak yang sedang belajar agar menjalani learning proses dengan baik, dan dapat mencapai prestasi akademik gemilang plus menjadi manusia yang punya empati terhadap lingkungan dan sesamanya….weleh…weleh kebablasan hehehe….

Iklan
  1. Mbak Murni Yth.,

    Pertama, wis persis wong Jepang. Kecuali sudah “umai” kalo pidato sampai lupa diri (he..he..), juga nulisnya pun “dukuri”, bukan “zukuri” lagi.

    Kedua, sekolah di Jepang yang di desa2 (wilayah) saya pikir menghadapi dan sekaligus dibebani untuk menjadi salah satu jalan keluar dari permasalahan serius wilayahnya seperti berkurangnya penduduk, migrasi penduduk, dan kurang greget belajar karena mungkin cukup sulit secara ekonomi, dsb. Di samping memang faktor sosial-budaya wilayah lainnya.

    Tampaknya memang masa depan “konservasi nilai kejepangan” memang ada di wilayah2 ini. Hingga, dari catatan Mbak Murni di atas memang jelas substansinya pun sangat berlainan.

    (Sekalian mencoba, apakah masih terjaring Akismet, soalnya sudah dilapori tak ada masalah lagi bagi akun saya oleh Om Mark :-)).

    murni : horeee….sdh bebas 😀

    Mdtk, MSR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: