murniramli

Menjadi warganegara dunia

In Pendidikan Indonesia, Pendidikan Jepang, Renungan on November 5, 2007 at 5:07 am

Sebuah tulisan sangat menarik ditulis oleh Vivien Stewart, Vice President “Education at Asia Society” yang diterbitkan pada journal Educational leadership edisi April 2007, judulnya “Becoming citizens of the world”

Membaca judulnya saja sudah menimbulkan perasaan yang membuncah, tentang fenomena dunia yang semakin tak mengenal batas negara. Pertikaian yang muncul karena adanya gap seakan menyurut dan yang muncul adalah “menghargai” dan mengajak menuju kepada kehidupan yang penuh dengan kooperative dan harmoni.

Itu yang tergambar di benak saya sebelum membaca isi tulisan.

Tapi jangan terlalu terbawa oleh saya yang sangat suka memakai perasaan secara berlebih-lebihan 😀

Tulisan Ibu Stewart menyoroti tentang perlunya menyiapkan generasi muda Amerika agar menjadi warga dunia yang tak bisa ditolak urgensinya sekarang ini, karena dampak dunia yang makin mengglobal. Poin penting yang beliau ungkapkan bahwa sekolah harus mereform misi, visi dan kurikulumnya agar mengarah kepada permintaan dunia, bukan permintaan dan tuntutan negara atau daerah saja. Karenanya anak-anak Amerika yang menurut data sangat sedikit yang belajar bahasa asing selain bahasa Inggris, harus mulai belajar bahasa non Inggris dan belajar pula budaya dan tabiat serta keadaan minus dan plus negara lain.

Saya jadi teringat Sekolah Nasional Bertaraf Internasional yang digarap pemerintah Indonesia. Ke arah inikah siswa-siswa akan dibawa : menjadi warga negara dunia ?

Semua negara menyadari pentingnya bersiap menghadapi globalisasi. Ini semacam perjuangan all out menuju sebuah arena bertanding atau berteman yang lebih luas. Kunci dari semua keberhasilan dan kesuksesan menempatkan diri atau mencari teman berjalan dan bekerja yang baik, akan lahir dari “makanan-makanan” yang diserap siswa di bangku-bangku sekolah. Karenanya merumuskan ini bukan seperti memainkan pion permainan monopoli.

Jepang pun menyadari hal ini, karenanya sejak tahun 1990-an, pendidikan internasionalism berupa tukar budaya digalakkan dari TK hingga PT. Seperti yang sering saya tulis, saya sering diundang menjadi tamu di SD atau SMP, untuk memperkenalkan kepada anak-anak Jepang seperti apa Indonesia. Sekalipun hingga sekarang masih banyak guru yang kebingungan menterjemahkan pelajaran internasionalisasi di kelas-kelasnya, selain mengacu kepada juklak Monbukagakusho, pelajaran ini kelihatannya berlanjut di kelas-kelas integrated course, berupa jam-jam tambahan di luar jam sekolah, bahkan sebagian SD, SMP, SMA ikut terlibat intensif melakukan aktifitas sosial membantu teman-temannya di dunia lain yang tertimpa bencana.

Tapi berbeda dengan Indonesia atau Amerika, cara berfikir orang Jepang yang saya anggap suka dengan hal detil, memberikan dampak yang lain pula terhdap pendekatan yang mereka gunakan untuk mempersiapkan siswa-siswanya menjadi warga negara dunia.

Amerika barangkali tak terlalu sulit mengenalkan kepada anak-anaknya tentang “arti perbedaan” sebab mereka notabene bukan orang asli Amerika tetapi berasal dari berbagai penjuru dunia. Indonesia demikian pula karena keragamannya. Tetapi Jepang adalah negara homogen yang berasal dari satu suku bangsa, Ainu. Anak-anak Jepang tak bisa mengenali dengan baik bahwa temannya berbeda dengan dia. Arus pekerja Brazil, Philipina, Indonesia dan China mengalir memenuhi tanah-tanah dan pabrik-pabrik Jepang. Sejak itu, negara berfikir perlu menyiapkan anak-anak di sekolah dengan tipe masyarakat majemuk yang akan mereka hadapi kelak.

Pemerintah Jepang “belum” tertarik membentuk sekolah-sekolah internasional, atau bahkan mengadopsi kurikulum asing seperti yang dilakukan di Indonesia, karena mereka masih percaya dengan pendidikan ala Jepang. Di samping itu, para politisi masih sibuk menangani dilema antara meningkatkan prestasi akademik siswa dan keseimbangan perkembangan tubuh dan perilaku siswa. Masih diperdebatkan apakah perlu menerapkan “gakuryoku tesuto” (ujian kemampuan akademik) di seantero Jepang atau perlu didefinisikan ulang apa yang disebut “prestasi siswa itu “(mendefinisikan ulang makna gakuryoku).

Apakah ini sebuah keterlambatan menyambut globalisasi atau sebuah strategi matang sebelum melangkah lebih jauh, saya tak punya analisa tajam untuk memutuskannya.

Menjadi warga dunia, tidak saja berarti pandai bahasa Inggris, tetapi minimal bisa bahasa negara lain selain bahasa ibunya. Ada tiga bahasa selain bahasa Inggris , yang diduga akan dipelajari secara besar-besaran di belahan dunia manapun karena prediksi penguasaan ekonomi di masa mendatang, yaitu Bahasa Arab,China dan Amerika latin.

Selain bahasa, ada satu hal yang menarik yang sepertinya terlupakan baik di Jepang, Indonesia ataupun Amerika. Mempelajari negara lain bukanlah sekedar belajar budaya, dan memahami arti perbedaan, tetapi yang penting mengasah kemampuan anak untuk memecahkan masalah yang muncul di dunia yang lain. Masalah kekurangan air dan makan bagi anak-anak Afrika, masalah bunuh diri yang tinggi di Jepang, masalah anak-anak yang harus bekerja di usia dini di Indonesia, dan beragam masalah ketaksempurnaan lainnya, bisakah anak-anak kita hidup dalam kondisi yang berbeda dengan atmosfer tempat dia dilahirkan dan dibesarkan, dan tidak hanya itu bisakah dia menjadi pemberi jalan atau pemberi sedikit kemudahan kepada orang-orang yang kesusahan ?

Kelihatannya persoalannya berat. Tapi saya hanya ingin mengatakan bahwa warga negara dunia tidak = dengan WN negara Amerika/Eropa atau negara maju saja, tetapi warga negara dunia adalah WN dunia manapun, negara manapun.

Iklan
  1. Wow mbak Murni, saya suka banget tulisan ini.
    Saya setuju, jadi warga dunia bukan hanya berarti belajar bahasa, budaya, dan arti perbedaan, tapi juga mengasah kemampuan untuk memecahkan masalah yang muncul di dunia lain.
    Mungkin itu termasuk latar belakang sekolah semacam Grad. School of International Development Nagoya Univ dibentuk ya mbak? hehehe…soalnya yg sering dibahas kan masalah2 dunia… mudah2an visi founder2 sekolah saya ini tercapai.
    Tapi kalo masalah di negara sendiri masih banyak gimana ya mbak?

    murni : Hidup GSID 😀

    Masalah di semua negara hampir sama, Mba….buanyakkkkk hehehhee…..
    Masalah di Indonesia kuserahkan padamu, Mba yg sedang belajar ttg ilmunya di GSID hehehhe….
    selamat berkarya !

  2. Terlalu heterogen susah. Eh, terlalu homogen juga susah yah. Apa ini yang memicu isu-isu rasialis seperti sebutan gaijin itu ya mbak? Mmh…kedepannya kayaknya memang harus lebih sensitif dengan isu “orang asing” biar nggak dituduh xenophobia kali?

    Ps : Mbak, numpang nanya nih : apa di Jepang juga diajarkan semacam keahlian soft-skill di dalam kurikulum atau pelajarannya?

    murni : Pak Bisma, jawaban saya sudah teuulaat banget, sebab saya lupa dengan komentar ini.
    Sebutan gaijin, sama saja dg kita yg menggunakan istilah orang bule/bule.

    Lalu, soft-skill diajarkan tetapi bukan dalam materi pelajaran khusus. Pendidikan moral di Jepang bukan secara khusus, tetapi diintegrasikan dalam pelajaran yg lain. Shinto tidak diajarkan di sekolah, sebagai dasar kedisiplinan masyarakat Jepang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: