murniramli

Burung-burung pulang bersama

In Renungan on November 6, 2007 at 11:44 am

 odaiba.jpg

Memandangi langit di sore hari dari balik jendela ruang belajar saya di kampus adalah pekerjaan yang saya gemari diantara banyak kegemaran yang lain 🙂

Sore hari, langit cantik sekali.  Kadang-kadang warnanya jingga lembut, karena tenggelamnya sang surya yang masuk ke peraduan.  Atau kadang pula membara merah. Warna merah kadang-kadang terlihat indah, tapi sering pula terlihat seperti api yang membara. Saya belum pernah melihat neraka, tapi sering membayangkan neraka dengan langit yang memerah.

Tapi langit sore hari menjadi sangat indah dengan rombongan burung-burung yang pulang ke sarang.

Kenapa mereka tak pulang sendiri-sendiri ? Kenapa harus berombongan ?

Orang-orang yang ahli di perburungan tentunya mengetahui istilah “flocking”, yaitu kebiasaan beberapa species hewan hidup berkelompok atau berombongan, misalnya burung terbang bersama atau ikan yang berenang berombongan.  Para ahli mengatakan ada banyak keuntungan dari behaviour ini, salah satunya dari sisi keamanan, istilah kerennya “bird vigilance”.  Dikatakan bahwa burung yg mempunyai sudut pandang ke atas lebih tajam melihat adanya bahaya daripada burung yang memandang ke bawah.

Beberapa penelitian yang ada kaitannya dengan sociobiology, yaitu ilmu yang menggabungkan masalah social behaviour dengan biology, melaporkan bahwa burung punya naluri untuk tetap bersama kawan-kawannya,   dan penelitian terkini  menyatakan bahwa ada rahasia aerodinamika dan saving energy di balik pergerakan berombongan burung-burung.

Sering juga kita mengamati burung-burung terbang dengan membentuk konfigurasi huruf V.  Selain menghemat energi, langkah ini ditempuh untuk memudahkan komunikasi di antara mereka selagi terbang.

Tapi kalau diamati langit sore hari, ada juga burung-burung yang nakal, lepas dari rombongan dan terbang sendirian.  Yang ini mungkin anak-anak burung atau remaja yang belum puas bermain sepanjang hari 😀

Hidup berkelompok adalah kehidupan yang dinamis, tak kaku seperti orang yang hidup sendiri.

Hidup berkelompok membutuhkan toleransi besar, sebab masing-masing saling bersimbiosis mutualisme, saling memberi keuntungan.  Jika hanya memikirkan kepentingannya, burung-burung yang besar akan terbang duluan dan meninggalkan yang lemah begitu saja.  Jika hanya memikirkan bahwa dirinya yang paling “penting” maka pemimpin-pemimpin burung itu sudah kabur duluan.

Selain memiliki aturan tak resmi di antara para burung, misalnya harus patuh pada aba-aba leader, harus menyepakati peraturan bersama, tapi karena burung juga bernyawa, ada saja burung yang bandel 😀

Tapi saya belum pernah melihat pemandangan burung bertengkar di langit sore ketika mereka pulang berombongan.  Sebab mereka sungguh menghargai keindahan langit sore tatkala pulang bersama. Kebersamaan itu sangat indah !

Ketika belajar tentang biologi burung di SMP dan SMA, guru saya tak pernah mengajarkan ini.  Sehingga saya hanya ingat bahwa burung punya tembolok yang tahan terhadap kerikil-kerikil. Alangkah senangnya jika anak-anak  bisa belajar bahwa biologi burung tak sekedar membedah dan menghafal organ-organ tubuhnya, kemudian mencocokkan dengan pilihan jawaban a, b, atau c ketika ulangan, tapi dari kebiasaan burung, anak-anak belajar tentang apa artinya hidup bersama dan saling menghargai.

Iklan
  1. Waduh sajian bahasanya indah nian … aku kepincut … menambah asyik nonton National Geography, Planet Annimals, ect. Asyiik tenan.

    murni : alhamdulillah wa astaghfirullah.
    Ya, acara2 itu sangat bagus, sayang kadang tak ada waktu menontonnya.

  2. Manusia bisa belajar pada burung bagaimana membina kehidupan bermasyarakat (berkelompok). Saling menghargai, saling menghormati dalam kebersamaan.

    Wah saya juga baru tahu kalau formasi terbang kelompok burung berbentuk V itu untuk memudahkan komunikasi. 😀

  3. Saya pernah baca tulisannya pak Yohanes Surya tentang konsep Mestakung alias semesta mendukung. Katanya sih bagaimana burung terbang berkelompok membentuk huruf V adalah salah satu contoh “mestakung” ini. Saat bermigrasi maka burung-burung akan merasa berada dalam situasi kritis dan oleh karenanya mereka mengatur kondisi supaya bisa survive terbang ribuan kilometer. Memang benar, terbang dalam bentuk huruf V ini akan menghemat energi dan semua bekerjasama mempertahankan posisi yg paling ideal ini.
    Nah, pesan pak Yohanes Surya lewat konsep Mestakung ini, kalau kita menempatkan diri pada titik kritis karena kita membuat sasaran setinggi mungkin dan berusaha mencapainya, maka “mestakung” yang ada dalam diri kita dan lingkungan kita membuat kita merasa mampu mencapai sasaran itu.

    murni : wah, saya dapat ilmu baru nih, Mba Devi. Matur nuwun.
    Btw, tulisannya Pak Yohanes tsb kelihatannya menarik juga, kalo ada link-nya boleh dijapri-in yo, Mba
    makasih

  4. Ass… mbak murni!
    Salam kenal. Saya udah pernah ke nagoya pertengahan maret kemaren mengikuti sebuah seminar di Nagoya Daigaku. 🙂
    Jadi pengen ke Nagoya lagi nih!
    Banyak tempat yang belum dikunjungi. 😦

    murni : salam kenal juga, Mba Nani

  5. Burung-burung yang bandel itu biasanya gampang tertembak dan jadi santap malam di restoran 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: