murniramli

Sekolah Unggul vs Perbaikan sekolah untuk rakyat

In Manajemen Sekolah, Pendidikan Indonesia, Penelitian Pendidikan on November 25, 2007 at 7:00 am

Mana yang lebih penting untuk mengembangkangkan pendidikan di daerah : membuat sekolah unggul atau mendorong perbaikan sekolah untuk rakyat ?

Sekolah unggul mempunyai banyak interpretasi di Indonesia.  Sekolah unggul bisa berarti mempunyai lab.komputer, atau lab. bahasa, dapat pula diterjemahkan memiliki fasilitas yang serba mewah, atau mengajarkan bahasa asing sebagai salah satu muatan lokal.  Definisi sekolah unggul tak pernah disusun oleh pemerintah, sehingga siapa saja bisa menambahkan embel-embel ‘unggul’ atau ‘plus’ di belakang nama sekolah agar orang tua tertarik dan memasukkan anaknya ke sekolah bersangkutan.

Kategori sekolah unggul bertambah lagi dengan adanya SNBI.  Setiap daerah berlomba mewujudkan satu satuan pendidikan sebagai sekolah internasional, yang menjadikan daerah mati-matian membangun fasilitas sekolah dengan peralatan canggih, agar memenuhi standar internasional.  Ini pun menjadi sebuah ambigu, kebingungan apa sebenarnya pengertian sekolah unggul di Indonesia ?

Pada kenyataannya, perkembangan sekolah-sekolah mengikuti hukum seleksi alam yang alami.  Sekolah-sekolah yang sejak awal menyaring anak-anak dengan NEM tinggi, pada akhirnya akan menjadi unggul secara otomatis.  Bukan karena gurunya yang jago, tapi karena murid-murid unggul yang masuk ke sekolah, membuat guru-gurunya menjadi semakin jago/pintar. Saya percaya dengan keterikatan kuat antara kerja guru dan usaha murid. Selama menjadi guru, saya sangat terbantu dengan murid-murid saya yang selalu bertanya tentang hal-hal yang terpaksa membuat saya belajar dan pada akhirnya bertambah keilmuan saya.

Kembali ke pertanyaan semula, apakah lebih penting menyelenggarakan sebuah sekolah unggul ?

Ini ibaratnya sama dengan pertanyaan apakah perlu menyekolahkan seorang anak hingga doktor atau memberi kesempatan semua anak bersekolah hingga meraih gelar sarjana ? atau paling tidak mengenyam pendidikan SMA ?

Saya berargumentasi bahwa pengembangan pendidikan di daerah di era otonomi harus mampu mendorong pemenuhan hak meraih pendidikan bagi semua anak usia sekolah dengan kualitas pendidikan yang sama.  Sekolah-sekolah di daerah harus merupakan pusat belajar formal yang berfasilitas sama.  Semua harus memiliki fasilitas dasar, ruang kelas dengan perabot inti yang sama (kursi, meja), laboratorium (bahasa, komputer, sains), aula, ground/lapangan olahraga, kamar mandi siswa dan siswi, ruang guru, kamar mandi guru, ruang makan/cafetaria, perpustakaan, fasilitas audio visual, dan alat musik pokok (mis: organ).  Selebihnya tinggal mendorong partisipasi orang tua untuk memenuhinya.

Sangat janggal jika di sebuah daerah, di sebuah sekolah anak-anak belajar di ruang ber-AC dengan fasilitas TV dan in-focus, akses internet secara leluasa, sementara di sekolah yang lain anak-anak duduk belajar di kelas yang atapnya bocor di sana-sini.  Jika sekolah-sekolah yang sudah lapuk dan hampir ambruk dibiarkan begitu saja, sementara orang tua siswa tak bisa membantu banyak karena memang mereka tak mampu, maka apakah masih layak menyumbangkan dana BOM atau BOSS atau jenis beasiswa apa saja, dengan menghitung jumlah murid saja ?  Saya pikir, sumbangan untuk sekolah-sekolah berfasilitas seadanya harus lebih diperbesar ketimbang sumbangan untuk sekolah-sekolah yang sudah berfasilitas lengkap.

Sekolah-sekolah di daerah harus sama, sehingga orang tua ketika memilih sekolah mempunyai pilihan yang lebih luas dan anak-anak tak merasa minder bersekolah di mana pun.  Prinsip bahwa setiap anak harus mengenyam pendidikan dengan kualitas yang sama di level manapun harus menjadi pegangan wajib bagi siapa saja yang menjadi pejabat.  Tentu saja yang dimaksud adalah sekolah-sekolah negeri.  Bahkan seharusnya pemerintah pun merancang definisi dan menyusun rambu-rambu pengembangan sekolah swasta agar tak menimbulkan kesenjangan baru dalam dunia pendidikan.

Sekolah-sekolah swasta di Indonesia sangat pesat perkembangannya dan sekali lagi membuktikan bahwa “uang menjadi kunci segalanya”.  Tapi apakah ini fair ?  Sebenarnya fair, sebab tak ada yang bisa melarang pemakaian uang personal, hanya saja kesenjangan bisa diupayakan supaya tak semakin melebar, yaitu dengan memfasilitasi semua sekola, baik negeri maupun swasta dengan fasilitas dasar yang sama.  Selanjutnya tergantung masing-masing sekolah mempercantik sekolahnya, melengkapi fasilitasnya, atau menambah jam pelajaran tertentu yang dirasa perlu.

Pertanyaan mendasar yang harus dijawab oleh pemerintah daerah, apakah sudah menstandarkan fasilitas satuan pendidikan di daerahnya ? Jika belum, mari bergerak menuju tataran ini, dengan mengupayakan segala potensi.

Iklan
  1. sederet uraian yang luengkap sekali,
    unsur apa lagi yang musti ditambahi,
    barangkali ini,
    kalau semua segi & lini telah di”kokoh”kan dalam segi fisik / ilmu katon [tlah terpaparkan dng. apik] ; tentu ada ada pasangan segi & lini di”lemah”kan

    spt. naluri hukum alam, diciptakan berpasang-2an
    mental & daya juang usaha rentan [semoga tidak]
    ada rantai proses.. di”hilang”kan oleh sistem diatas
    yakni jiwa usaha berdikari & mandiri dalam masa belajar seorang siswa menghadapi irama kehidupan melemah/rentan. Berkebalikan dengan
    fasilitas berkecukupan, yang serba minimalis ini
    secara kejiwaan sangat kuat dan lebih tahan uji [kali ragawi sedikit lemah karna kurang gizi].

    ukurannya bukan peraturan atau aturan main melainkan perasaan atau tepo seliro masalah hati
    juga perlu diusung bersamaan selain standarisasi potensi tataran ; ini aplikasi dari pendidikan religi
    juga budaya sosial pergaulan antar insan, karena
    lembaga pendidikan bukan hanya memupuk fisik
    otak cemerlang saja, seyogyanya mendidik ruhani
    berikut cara ngelakoni ajaran diberikan itu, dalam
    gaya hidup sehari-hari…… Jadi jangan ada lagi namanya pertumbuhan jiwa & otak terkotak-2/ terpisah-2, seperti dilakoni sekarang ini terjadi [diwarnai unduh-2an filosofi sekuler].

    kembalikanlah dunia pendidikan kepada azali,
    seyogyanya jangan pendidikan di industrikan,
    kelak melahirkan insan-2 pragmatis+sekuler juga
    menderita mental lemah ; kembalikan hak & hargai guru sebagai orang yang pernah berjasa walau secuil membuat Anda jadi seperti ini.
    tiap-2 campur tangan oleh bukan ahlinya….
    akan menuai kehancuran bagi kesemuanya.

    Andai ingin balas budi…. tanyakan apa dibutuhkan
    bukan beri sesuai hajat keinginan si pemberi, sebab mereka [guru] lebih mengerti & paham apa yang dibutuhkan [dunia] murid-2nya.

    maaf ngelantur lagi…. mohon dikoreksi ya …

  2. Pak Ardi, terima kasih atas komentarnya

    Anak-anak yg hidup dlm keadaan serba kekurangan memang punya retensi /daya tahan dan kreativitas yang lebih baik.
    Saya mengalaminya di masa TK dan SD dulu.

    Tp pemerintah punya kewajiban memenuhi hak bersekolah rakyatnya, dan ini yakin, bisa disempurnakan jk mrk punya niat yg kuat (tdk korup).

    Jk, fasilitas sekolah memadai, mk setidaknya anak2 yg sdh kreatif bisa dilejitkan kekreatifitasannya.

    Penghargaan kpd guru memang masih sangat rendah di Indonesia, tp saya sbg guru juga tak mau menerima ‘sesuatu’ sementara sy belum melakukan apa2. Mnrt saya guru memang hrs dihargai, tp guru juga hrs menunjukkan bhw dia layak dihargai.

    Ttg guru yg lebih memahami kebutuhan muridnya, saya tak sependapat 100% krn kenyataannya ada juga guru yg tak tahu apa yg dibutuhkan muridnya, selain mengajar sesuai text book saja.
    Tp diantara semua guru yg mengajar saya selama ini, hampir semuanya adlh guru2 yg patut diacungi jempol 😀 huebat-huebat semua !
    Menrt saya, guru dan orang tua terutama ibu, yg paling banyak mengetahui apa yg dibutuhkan seorang anak dlm perkembangannya.

    Hehehe…maaf juga krn kepanjangan…

  3. Satu catatan bu! disebagian sekolah dana BOS dan BOM yang penggunaannya tidak semestinya dan tidak seharusnya dilakukan oleh lembaga pendidikan, mereka mengatasnamakan kuantitas siswa untuk kepentingan perut mereka.
    Mungkin untuk masalah ini prinsip keseimbangan yang harus dipegang, terutama dalam pokok pengambilan keputusan. Tapi kadang saya juga berpikir yang membuat keputusan saja tidak pernah melihat langsung kedaerah, bagaimana mereka dapat membuat satu produk hukum yang dapat memenuhi syarat, terlebih untuk prinsip keseimbangan.
    Akhirnya kita harus berdo’a untuk dunia pendidikan kita, semoga tetap survaivel ditengah badai …..

  4. saya sepakat, soalnya banyak siswa di sekolah saya yang minder alias enggak pede. Ini hasil dari penelitian temen yang jadi psikolog. Sekolah kami berusaha untuk mengejar ketertinggalan, sayangnya takkan pernah terkejar karena sekolah tetangga yang kebetulan RSBI telah berlari jauh lebih cepat. Jelas banget karena dukungan dana yang luar biasa.
    Mbok ya pemerintah kalau memberi bantuan jangan pilih kasih. Kalau cuma mau membantu sekolah unggulan, biarkan siswa yang NEMnya rendah bisa masuk. Nggak usah pakai saringan. Apa lagi saringan sumbangan…

  5. Yap…setuju mbak. Seharusnya semua sekolah mempunyai fasilitas yang sama jadi nggak ada sekolah A lebih canggih dari sekolah B. Bukankah pendidikan tidak seharusnya dikotak-kotakan?

    Rasanya memang tidak fair kalau ada siswa yang satu bisa belajar dengan nyaman karena didukung oleh fasilitas sekolahnya yang lengkap. Sedangkan disisi lain ada siswa yang belajar dengan kondisi seadanya.

    Bagaimanapun semua siswa adalah generasi penerus bangsa, baik siswa dari golongan berada maupun golongan miskin. Mereka adalah anak-anak kita yang sudah sepatutnya mendapatkan hak yang sama dalam pendidikan. Jangan sampai sudah miskin sekolahpun susah. Kapan mereka bisa mengangkat kualitas hidup mereka kalau sekolah saja sudah diperlakukan tidak adil?

    Wah…jadi ngelantur nih mbak, soalnya saya suka sedih kalau lihat anak-anak dari lingkungan bawah (alias miskin) nggak bisa sekolah di sekolah yang bagus. Mohon dikoreksi kalau salah ya mbak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: