murniramli

Pengembangan pelajaran moral di sekolah

In Pendidikan Indonesia, Pendidikan Jepang, Penelitian Pendidikan, Renungan on Desember 4, 2007 at 9:03 am

Saya mendapatkan pelajaran PMP dari SD hingga SMA dengan metode yang sama, yaitu menghafal.  Menghafal butir-butir Pancasila, mengingat ayat-ayat UUD 45 hingga menghafal mati GBHN terutama bagian modal dasar pembangunan.  Sejak SMP, perangkat hukum itu lebih saya hafal daripada Al-Quran, sebab dulu beberapa kali ikut cerdas cermat P4 😀

Hingga sekarang saya tidak hafal sebutir pun butir2 Pancasila, bahkan ayat UUD 45.

Ulangan pun sama saja.  Anak yang kuat menghafal akan lulus.  Adik bungsu saya paling tidak kuat menghafal.  Ketika dia masih kelas 1 SD, dalam ulangan PMP, ada pertanyaan tentang di mana harus meletakkan baju seragam sepulang sekolah.  Pilihan jawaban adalah : a. menggantungnya di tempat gantungan baju, b. menyimpannya di lemari, c. melemparnya ke kursi, d. saya lupa.  Tapi karena terbiasa melempar baju seragam di atas kursi, maka adik saya menjawab c.  Jawaban-jawaban adik ketika ulangan PMP selalu menjadi cerita lucu dalam keluarga kami, karena kepolosannya.  Tapi ketika dia semakin dewasa, dia tidak lagi melempar baju seragamnya di kursi.  Apakah ini karena pengaruh pelajaran PMP di sekolah, atau karena ibu yang cerewet ?

Saya lebih yakin pada jawaban kedua.  Saya tidak yakin, guru PMP adik saya akan memanggil adik saya, lalu menegurnya dan menasihati bahwa baju seragam harus digantung di kapstok.  Guru PMP tak sempat mengurusi hal-hal kecil begini.  Biasanya mereka hanya akan mengatakan : kalian harus lebih rajin belajar! Yang maksudnya hafalkan jawaban-jawaban yang benar!

Pelajaran moral termasuk pelajaran agama di sekolah kebanyakan diajarkan seperti doktrin.  Saya tidak menolak bahwa beberapa kegiatan ibadah, seperti bacaan sholat harus dihafal.  Juga tidak menyalahkan bahwa anak-anak harus dimotivasi untuk menjadi penghafal Al-Quran.  Tapi saya tak setuju jika mereka dipaksa menghafal sesuatu yang mereka tidak mengerti.  Saya menghafal doa sebelum makan, sebelum belajar, bangun tidur dan beberapa doa sehari-hari lainnya ketika TK-SD, tapi baru mengerti maknanya ketika saya kuliah.  Mengerti makna tidak sama dengan menghafal arti.

Pelajaran moral harus dikembangkan dengan pola berpendapat, dan sistem evaluasinya tidak bisa dalam bentuk multiple choice.  Pelajaran moral juga harus dipisahkan dengan pendidikan kewarganegaraan.  Saya tidak tahu apakah PPKn yang sekarang berbeda dengan PMP yang saya pelajari dulu.  Atau masih sama, yaitu pelajaran moral plus pelajaran kewarganegaraan.

Pelajaran moral harus dilaksanakan dengan melibatkan keluarga, terutama ibu.  Di TV Indonesia banyak sekali tersaji kasus yang terkait dengan pendidikan moral., yang bisa menjadi bahan ajar para guru.  Untuk mengajarkan pengejawantahan sila kemanusiaan yang adil dan beradab, guru bisa menampilkan foto-foto atau tontonan dokumentari yang terkait, dan meminta anak berkomentar, menyampaikan ide sepuasnya.  Lalu gurulah yang memperkenalkan kepada anak, bagaimana masyarakat, negara, agama mengatur itu.  Apa dampaknya jika terjadi pelanggaran, anaklah yang harus menjawab, guru hanya membimbing jika mereka melewati batas.

Dalam berdiskusi, anak-anak harus diajarkan pula cara berkomunikasi yang baik, misalnya : “Boleh saya berpendapat ?”, “Saya ada pendapat lain, Bu”.  “Menurut saya, bla bla bla…..”,   “Saya tidak setuju dengan A, karena….bla bla bla”. Kalau bahasa ini dianggap terlalu serius untuk anak, bisa saja diganti dengan bahasa yang bergaya anak, tapi prinsip yang harus ditanamkan, anak harus berani berkata….dan dengan sopan. Pun anak harus mendengar pendapat orang lain.

Guru harus mengontak orang tua, terutama ibu, tentang apa saja prestasi anak hari ini, apa yang harus dilatih di rumah, apa kekurangan anak yang menurut guru harus dibimbing di rumah.

Memang berat tugas guru, apalagi jika jumlah anak per kelas lebih dari 40 orang.  Barangkali sudah harus dipikirkan juga oleh pemerintah tentang asisten guru, jika kebijakan membangun kelas baru tak bisa dilakukan karena keterbatasan dana. Pola asisten guru, team teaching sedang dikembangkan di Jepang saat ini, semata-mata agar pendidikan tetap berorientasi kepada anak per anak.

Iklan
  1. ada pelajaran moral, tapi korupsi jalan terus, lalu mana yang lebih baik

    murni : ada pelajaran moral dan korupsi stop 😀

  2. bagus sekali apabila ada kerja sama guru dan orang tua, tapi ada orang tua yang ternyata sudah putus asa dalam mendidik anaknya. Kemarin kepala sekolah memanggil orang tua, eh ternyata orang tua ketika mendengar prilaku kurang terpuji sang anak hanya bisa berkomentar “terserah pak guru saja mau diapakan”. Hal ini sudah berulang kali terjadi. Kalau sudah seperti ini gimana pendapat mba …

  3. maap… sekali lagi maap
    moral khoq dijadikan mata pelajaran semata-2,
    tentu ada evaluasi dan sanksinya to….
    apa yang mbak murni sampaikan itu sudah jauh lebih dari jelas, tinggal kitanya semua saja yang mesti menyimak menyitir & memaknai pesan…

    moral itu benar diajarkan dengan kata-kata indah dan diperagakan lewat perilaku oleh guru melibat kan anak didik [ada panggung drama dadakan] di depan kelas ; ada pesan moral … bahwa drama tadi dibawakan dlm kegiatan sehari-2, disebut perilaku

    masalahnya itu kan … borong kerso, abis bayar spp
    semua perkara, diborongkan ke orang lain, menyesuaikan batasan usia, dan fungsi ayah & ibu
    tinggal mencarikan dana u membiayai ksemuanya

    “…tapi ada orang tua yang ternyata sudah putus asa dalam mendidik anaknya”
    jadinya kliru kawitan/di awalnya sebenarnya, tpi gak ada putus asa, karna gak ada namanya ex anak to….
    kalau segala sesuatunya di “PERSIAPKAN” bukan [nafs] asal-asalan :
    di awali dng niat & bibit permohonan yang baik
    di tengahnya dibimbing dengan doa & shabar
    di akhiri dengan berserah & syukur apa kata-NYA

    harapannya tumbuh bibit muda sholeh & sholihah
    andai “mengsle” di tengah jalan ya dimohonkan
    lagi Kepada-NYA lewat tapa brata/keprihatinan orang tua pendorong/penyuluh bagi si anak

    karna beranak atau tanpa anak = ujian Dari-NYA lho… esok kan dimintai tg. jawabnya lha iya toh..

    juga guru = pengasuh jiwa “orang tua” di sekolah
    tentu berbeda buah didikannya [panggilan jiwa] dengan guru profesi [urusan perut] semata,
    miskin emosi pedagogi. setiap perbuatan/tingkah
    sang guru akan “tembus” ke jiwa anak didiknya & gak bakalan hilang dari “memory”nya

    pelajaran moral, itu seyogyanya disampaikan dengan metoda mendidik, bukan mengajar, karena
    nyata benar bedanya ilmu moral,”mendarah daging ke sumsum tulang kan gak sama dengan numpang lewat sesuai target GPP/kurikulum” atau apa itu…SKS?? yang hasilnya pelajaran moral itu dihafal sesuai naskah scenario script perilaku kaya’ di sinetron atau dilihat-didengar-diterima & dilakukan lewat perbuatan sehari-hari jadi warna kehidupannya.

    terjadi pemindahan pemahaman atau duplikasi moral dari sang guru ke murid terus turun..dst.
    seperti pesan Sang Nabi kepada umatnya…

    wadhuh ngelindur lagi….

  4. Pak Ardi, terima kasih atas ngelindurannya 😀
    Masukan yang sangat berharga.

  5. betul mbak, pelajaran moral harus lebih banyak di pahamkan lewat praktek dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya dihafal tanpa mengerti dan merasakan makna sebenarnya.
    ( maaf agak melenceng sedikit )begitu juga sekolah ada baiknya bila memasukan pelajaran bahasa arab sebagai
    salah satu kurikulumnya. mudah2an dengan
    mengerti apa yang dibaca baik ketika shalat ataupun membaca alquran bisa “lebih”membantu pembentukan moral siswa.
    ditunggu postingannya tentang cara pembelajaran moral yang baik…
    hatur nuhun

  6. Pendidikan bermoral diawali dari guru yang bermoral karena guru adalah agen perubahan.
    Keteladanan adalah jurus ampuh selain teori-teori manapun.
    Salam kenal dariku. Kapan-kapan mampir ke blog aku. Tempat curhat tukar ilmu guru Indonesia.
    GOD BLESS YOU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: