murniramli

Kendaraan murah di pedesaan Jepang

In Serba-Serbi Jepang on Desember 24, 2007 at 8:59 am

Hari Sabtu dan Minggu yang lalu, saya diajak oleh Nishino sensei untuk berkunjung ke villanya. Turut serta bersama kami, Hattori sensei, puteri Pak Nishino, Manna chan, dan Pak Kepsek SRIT, Pak Soemarwoto. Villa itu terletak di Kaida, prefektur Nagano. Tepatnya kira-kira 40 menit naik mobil dari stasiun Kiso Fukushima, Nagano.

Berbeda dengan Nagoya yang masih belum memutih dengan salju, Nagano sudah bersalju penuh, bahkan tempat-tempat ski sudah ramai dikunjungi. Kami sempat mendatangi tempat ski Mia Kaidagen dan sudah banyak sekali pengunjung dari Osaka, Nagoya, Kobe dan daerah lain yang datang ke sana.

Saya tidak sempat menikmati keidahan Kaida terlalu lama, karena hari Minggu, jam 10.00 saya harus kembali ke Nagoya, sebab ada tugas mengajar. Untuk pulang ke Nagoya, saya benar-benar beruntung dapat menikmati kendaraan pedesaan di Jepang yang murah.

Dari tempat ski, saya diantar Pak Nishino menuju tempat menunggu taksi, yaitu pas di depan onsen (pemandian air panas) Ontake. Kebetulan daerah Kaida berdekatan dengan gunung Ontake, yang hari itu puncaknya indah sekali tertutup salju. Taksi yang dimaksud, tidak seperti taksi yang biasa saya lihat di Nagoya, atau taksi kebanyakan seperti di Jakarta. Taksi Kaida berupa mobil bis mini berpenghangat, dengan supir berdasi dan berjas lengkap, plus topi yang mirip topi pak polisi.

Untuk sampai ke stasiun Kiso Fukushima, saya harus naik taksi Kaida lalu ganti dengan bis. Perjalanan dengan taksi ditempuh selama 14 menit, taksi berangkat jam 10.00 tepat dan sampai tepat 14 menit kemudian, sesuai yang tertera di jadwal angkutan yang saya baca di rumah Sensei. Saya hanya perlu membayar 200 yen untuk taksi, dan karena saya akan melanjutkan perjalanan ke stasiun Kiso Fukushima, saya diberi kartu oranye, yang nantinya harus saya serahkan ke Pak supir bis, sehingga saya tak membayar sepeser pun lagi.

Bis berangkat jam 10.19 sesuai jadwal dan ada 3 penumpang di dalam bis ketika itu. Perjalanan sangat menyenangkan karena seperti biasa supir bis tak pernah mengebut, sebab kecepatan sudah diatur sesuai dengan jam kedatangan bis di stasiun Kiso Fukushima, yaitu jam 11.02. Sepanjang jalan kurang lebih ada 20 pemberhentian samapi satsiun Kiso Fukushima, dan setiap pemberhentian hanya berjarak 400 -500 meteran . Sepanjang pemberhentian tak banyak penumpang yang naik, hanya beberapa orang tua yang sudah bungkuk. Setiap kali ada penumpang tua yang naik, supir bis menunggu hingga mereka duduk, dan baru menancap gas dengan pelan. Ah, sungguh sopan beliau berkendara.

Rumah-rumah di pedesaan sepanjang jalan yang saya lalui sangat jarang. Yang banyak hanya sawah dan kebun-kebun yang tertutup salju. Orang-orang yang lalu lalang pun hanya satu dua orang saja. Tapi jalan yang kami lalui sangat bersih, tak ada sampah. Pemandangan di luar sangat indah dan udara tak terlalu dingin walaupun suhu hari itu nol derajat. Ya, salju biasanya mebawa kehangatan. Karena di dalam bis dilengkapi dengan penghangat, maka perjalanan itu membuat saya terkantuk-kantuk dan agak pulas hingga masuk ke daerah kota yang agak ramai.

Semua penumpang membayar hanya 200 yen untuk perjalanan yang sedemikian jauh. Dan saya tak membayar apapun, selain menyerahkan kartu yang diberikan oleh pak supir taksi tadi.

Sungguh suatu kemudahan yang diberikan pemerintah kepada orang-orang di desa. Tidak saja agar mereka dapat mengakses kota, berbelanja ke kota, tetapi tentu saja agar mereka merasa tak tertinggal dengan orang-orang yang hidup di kota. Karena sebagian warga desa adalah orang-orang tua, maka bis yang mengantar mereka ke kota dengan ongkos yang sangat murah itu sangatlah menguntungkan dan memudahkan mereka.

Sesampai di Nagoya, saya kemudian dihadapkan kembali dengan hiruk pikuk kota, semua orang berjalan tergesa atau hampir berlari, dan ongkos kereta antar stasiun yang hanya ditempuh dalam 1-2 menit sebesar 200 yen. Sungguh berbeda dengan taksi dan bis Kaida. Tapi wajar, karena kami yang ada di kota pun memang berpenghasilan cukup untuk membayar transportasi itu.

Iklan
  1. Disamping kekaguman dan kemudahan angkutan, makna perjalanannya ditulis juga dong mBak biar kita bisamenikmati. Salam.

    murni : maknanya apa ya, Pak ? 😀
    la, judule…ttg kendaraan murah itu je !
    kalo ttg makna perjalanan, saya tulis dalam edisi lain 😀

  2. Jadi juga mbak pergi ke markas alkaida 🙂
    Hmm…nikmatnya bisa naik taksi murah dan ga ngebut. Ngga seperti di Nagoya, pengalaman naik taksi di Nagoya hampir selalu ngebut. Terakhir naik taksi lumayan nyaman, jalannya pelan dan hati-hati, itu juga karena supirnya tahu perut saya sudah besar dan sudah dekat yoteibi, tapiii..bayarnya juga jadi mahalll… 😦

    murni : la, kalo dia jalannya pelan, bensinnya juga habis buanyaak dunk 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: