murniramli

Seminar tanpa makan siang dan sertifikat

In Serba-serbi Indonesia, Serba-Serbi Jepang on Desember 26, 2007 at 9:01 am

Ketika pulang ke Indonesia beberapa waktu yang lalu, saya sempat hadir di sebuah seminar yang diselenggarakan sebuah Universitas Pendidikan terkenal di Jakarta. Saya tertarik ikut dalam seminar tersebut karena temanya tentang sertifikasi guru. Sayangnya orang kunci yang seharusnya menjelaskan apa itu sertifikasi guru, Pak Fasli Djalal tak bisa hadir dan digantikan oleh asisten beliau.

Dengan membayar 100 ribu rupiah, saya tak merasa mendapatkan informasi yang berarti tentang pelaksanaan sertifikasi guru, pun juga tidak hanya saya, sebagian guru yang ‘kelihatannya diutus oleh sekolah’ tak begitu berminat dengan seminar kali ini. Sepanjang acara seminar seperti biasanya seminar2 yang diadakan di Indonesia, pembicara hanya berbicara kepada orang-orang yang duduk di deretan bangku depan, sedangkan peserta yang di duduk di deretan belakang juga asyik mengobrol.

Biaya 100 ribu dijelaskan termasuk makan siang, sertifikat, dan seminar kit. Ya, hal yang lazim di Indonesia. Dan biaya 100 ribu rupiah tak terlalu berat bag saya, tapi guru yang duduk di samping saya berbisik : Kalau tak dibayari sekolah, saya tak akan datang, Bu!

Seingat saya , belum pernah saya mengikuti seminar di Jepang yang mewajibkan makan siang, dan memberikan sertifikat kepada pesertanya, kecuali seminar yang diselenggarakan oleh asosiasi orang Indonesia tentunya ๐Ÿ˜€

Seminar-seminar di Jepang biasanya mencantumkan kolom pilihan apakah peserta ingin memesan bento (makan siang) atau tidak, yang biasanya harus dikirimkan seminggu sebelum pelaksanaan seminar. Karena biasanya makanan yang disajikan tak bisa saya makan (daging), maka saya biasanya tak pernah menconteng pilihan itu, dan cenderung membeli bento di kombini (toko 24 jam). Pada hari H, panitia biasanya melebihkan jatah bento, dan menawarkan kepada peserta yang belum memperoleh makanan untuk membeli makan siang yang disiapkan panitia.

Saya acap kali mengikuti seminar tanpa membayar sepeser pun. Seminar2 antar guru biasanya hanya mewajibkan anggotanya untuk membayar, selain itu mereka mempunyai iuran tahunan. Karena status saya mahasiswa maka saya tak perlu bayar, dan tetap mendapatkan semua makalah seminar. Tatkala saya tanyakan mengapa saya tak perlu bayar, panitia menjawab : Sudah untung anda mau datang ๐Ÿ˜€

Saat seminar, diberikan kesempatan pula kepada penerbit untuk menjual buku-buku mereka. Tentu saja yang berkaitan dengan pendidikan, dan ini biasanya dicharge oleh panitia. Tapi tidak ada ada penjual baju atau makanan di arena seminar seperti halnya yang sering diselenggarakan di Indonesia. Hanya sekali saja, penjualan makanan dibuka ketika ada konggres guru di Nagano. Barang yang diperdagangkan adalah produk siswa SMA Tatsuno, berupa bento (makan siang) yang dikemas dengan sangat hygine, bergizi dan cantik, juga oleh-oleh berupa kue khas Nagano. Saya sempat membeli bento-nya karena semua dari bahan ikan, tapi tak kebagian oleh-olehnya. Habis terjual dalam waktu 1 jam !

Setiap menyelenggarakan seminar di Indonesia dulu, pengeluaran terbesar yang dianggarkan panitia selalu di bidang konsumsi. Bahkan seminar yang diadakan dari pagi hingga sore, biasanya menyiapkan coffe break, makan siang, plus tea time di sore hari. Ya, tidak ada salahnya memang menservice peserta agar tak usah repot lagi mencari makan siang.

Tapi hal menarik yang sering dilakukan di fakultas saya, adalah bekerja sama dengan cafetaria yang biasanya tak buka selama hari sabtu.ย  Karena penyelenggaraan seminar/konferensi di Jepang biasnya dilakukan pada hari Sabtu dan Minggu, maka jika ada seminar besar, pihak panitia mengontak cafetaria untuk buka di hari sabtu/minggu dan dengan cara ini sekaligus menguntungkan kedua pihak, pun peserta juga diuntungkan karena bebas memilih menu yang dimauinya.

Hal lain yang menarik juga, di Jepang biasanya tak ada seminar kit berupa map atau file folder atau bonus bolpen/notes yang dimasukkan dalam satu tas dengan makalah. Tapi yang ada hanya makalah, kertas angket pelaksanaan seminar yang harus diserahkan kembali di akhir acara, dan beragam data dan pamflet lainnya. Tak ada map atau amplop besar, semuanya langsung masuk ke dalam tas. Tapi kadang-kadang ada juga seminar yang mendapat sponsor, menyediakan tas dari sponsor.

Seminar di Jepang juga tak mengenal istilah pembicara tak datang ๐Ÿ˜€ Sebab presenter sudah dihubungi berbulan-bulan sebelumnya dan jika sudah menyatakan OK, maka biasanya panitia langsung mengumumkan. Umumnya pejabat di Jepang tak pernah diwakili sekalipun jamnya sangat padat, sebab sekali lagi, jadwal biasanya sudah dirancang dalam setahun ๐Ÿ˜€

Menghadiri seminar bagi saya adalah salah satu arena berguru, karenanya saya biasnya cenderung melihat isi/tema ceramah daripada pembicara. Tetapi menghadiri seminar di Indonesia agaknya harus perhatian kepada siapa pembicaranya. Jika pejabat, maka siap-siap untuk kecewa ๐Ÿ™‚ Kecuali jika yang mengundang adalah pejabat itu sendiri, karena tidak mungkin dia tak hadir ๐Ÿ˜€

Iklan
  1. padahal paling asyik nunggu cemilannya (^_^)

    btw, pak BR jg nyinggung ttg seminar
    http://rahard.wordpress.com/2007/12/26/bingkisan-seminar/

    murni : ini blog baru ya ?

    btw, ngga janjian lo dg Pak BR bikin tulisan yg radha mirip ๐Ÿ˜€

  2. Hahaha… betul Bu. Seminar di Indonesia itu lucu… Ada seminar kit segala… ๐Ÿ˜€

    Memang sih kalau pejabat yang diundang ke seminar itu, biasanya yang datang adalah asistennya. Seringkali mengecewakan asistennya itu. Ga nyambung….. ๐Ÿ˜€ (bukan nuduh, tapi berdasar fakta lho…. Pernah saya juga kecewa, udah bayar mahal-mahal, eh yang datang mengecewakan… ๐Ÿ˜€ )

    murni : seminar kit-nya u menarik peserta mungkin ๐Ÿ˜€

  3. Bila seminar/konferensi internasional dan Jepang sebagai tuan rumah, biasanya ada juga seminar-kit nya lho Mbak. Kebetulan saya beberapa kali mendapat tas karung gandum (istilah Indonesia) dalam “kokusai gakkai” di Jepang yang saya ikuti. Yang jelas, seminar-kit-nya sebisa mungkin juga ramah lingkungan dan tak mubadzir (mottainai janai). Mdtk, MSR

    murni : seminar kit-e tujuannya biar Jepang ga dibilang pelit sama orang Indonesia hehhehe…..

  4. Pembicara itu melihat amplopnya dulu. kalo amplopnya cocok untuk saya ya saya yang dateng, kalo amplopnya cocok untuk asisten saya, ya asisten saya aja yang dateng. Ini negara kademangan, bukan endonesah … nggak tahu ya kalo endonesah, lebih baik ato bahkan lebih buruk ๐Ÿ™‚

    murni : endonesah negara baru, ya Pak Adipati ? ๐Ÿ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: