murniramli

Peraturan sekolah harus masuk akal

In Manajemen Sekolah, Pendidikan Jepang, Penelitian Pendidikan, SMA di Jepang on Desember 27, 2007 at 1:24 pm

Seminar PDP kami selasa kemarin menampilkan seorang guru yang sudah mengajar selama 30 tahun di SMA Suzaku di Kyoto.  Namanya Pak Ichikawa.  Beliau mengajar Biologi.  Kedatangan Pak Ichikawa di forum seminar kami bertujuan untuk menjelaskan tentang survey sekolah yang dilaksakan di SMA Suzaku.

Tapi ada hal menarik yang saya tangkap dalam pembicaraan beliau yang mengasyikkan selama hampir 2.5 jam non stop, yaitu tentang peraturan sekolah di SMA Suzaku.  Anak-anak Suzaku tak diwajibkan memakai seragam, tapi mereka tidak diperbolehkan mengenakan asesoris tertentu.

Beberapa peraturan yang terdengar lucu adalah : rambut tidak boleh di-pam, di-punk, atau bergaya rambut Don king atau gaya rambut yang aneh.  Wanita tidak boleh mengenakan sepatu berhak atau sepatu yang berbunyi ketika dipakai berjalan.  Laki-laki tidak boleh memakai anting. HP tidak boleh dinyalakan ketika belajar.

Aturan-aturan itu mungkin sedikit aneh bagi beberapa sekolah yang mewajibkan seragam.  Tapi bagi SMA Suzaku aturan itu perlu dibuat karena siswa bebas memakai pakaian sopan apa saja ke sekolah.  Ketika pertama kali diterapkan, banyak siswa yang menentang.  Tapi Pak Ichikawa punya resep agar anak-anak Suzaku mau mengikuti peraturan sekolah.  Intinya beliau mengajak anak-anak yang menentang untuk berdialog, dan menanyai mereka alasan penentangan plus menjelaskan kenapa rambut tak boleh di-pam atau sepatu tak boleh berbunyi.

Ya, rambut yang di-pam memang tak perlu disisir (kalau disisir, pam-nya rusak-red).  Anak-anak yang mempunyai rambut gaya pam, selalu disibukkan dengan memegang-megang rambutnya agar membentuk gelombang (pam), dan ini seringkali mengganggu konsentrasi mereka.  Satu lagi, biayanya mahal (di Nagoya, sekitar 7 ribu yen).

Lalu kenapa tak boleh memakai sepatu berhak ?  Karena sepatu berhak bising ! Bunyinya ‘urusai’ (ribut) kata orang Jepang.  Saya paling tak suka jika berjalan di stasiun ketika menuruni tangga berpapasan dengan gadis-gadis Jepang yang memakai sepatu berhak dan berbunyi tak-tak-tak atau tuk-tuk-tuk.  Mereka sepertinya menikmati sekali bunyi itu, sebab selalu saja mereka berlari dan tak berusaha berjalan pelan-pelan agar suara bisa diredam. Sedangkan telinga saya hampir pekak rasanya !

Peraturan di sekolah harus merupakan sesuatu yang masuk akal !  Pak Ichikawa mengatakan anak-anak SMA adalah orang dewasa yang masih mature tapi bisa memahami istilah “jama” (= mengganggu).  Maksudnya, peraturan dibuat agar orang lain tak merasa terganggu.  Dan anak-anak pun dibiasakan berfikir mengapa mereka tak boleh begini tak boleh begitu, sebab orang lain akan terganggu.

Tentu saja agak sulit menanamkan ini di tengah upaya guru menanamkan pengertian “jiyu” (kebebasan).  Sebab selama bertahun-tahun pendidikan Jepang adalah pendidikan yang terkungkung, tanpa mengenal kata demokrasi dan kebebasan. Namun menarik untuk menganalisa, bagaimana ide kebebasan itu diajarkan di Jepang sementara konsep “kekakuan, kesopanan ” ala Jepang masih harus dipertahankan.

Selain menyodorkan peraturan yang sudah jadi kepada siswa, ada baiknya juga menanyai mereka peraturan apa yang mesti diperbaharui, atau dibuat supaya sekolah menjadi aman untuk belajar.  Yang ini biasanya tidak dilakukan di sekolah-sekolah, termasuk SMA Suzaku.

Iklan
  1. wah bagus nih, jadi siswa tak cuma jadi model dari idealisme guru, sebisa mungkin menjadi subyek yang dapat berfikir ….

    murni : ayo dipraktekkan 😀

  2. hla..
    belom lama ada berita di teve, guru menghajar murid cuma gara2 sang murid tdk pake sepatu hitam spt yg dituntut peraturan sekolah

    alhasil, sang murid pun masuk rumah sakit
    hix.. (T_T)

    murni : gurunya gagal ikut kompetisi smack down kali (^_^)

  3. Mereka sepertinya menikmati sekali bunyi itu, sebab selalu saja mereka berlari dan tak berusaha berjalan pelan-pelan agar suara bisa diredam.

    kalo cuma baca kalimat itu, saya akan menebak bahwa yg dimaksud “mereka” adalah bayi yg baru mahir berjalan

    toet.. toet.. toet.. (^_^)

    murni : hehehe… untung mereka masih nyadar ga make sepatu bayi ke kampus 😀

  4. Mbak Murni,
    Pada dasarnya setiap peraturan dibuat dari kacamata orang dewasa. Namun melibatkan anak didik melalui student council dalam membuat serta mereview peraturan akan membuahkan hasil yang lebih baik lagi.

    murni : ya, benar, Pak. Peraturan yg anak2 buat dan sepakati sendiri biasanya akan membuat mereka malu untuk melanggarnya

  5. Pelanggaran terhadap aturan sekolah sangat manusiawi apalagi bagi anak yang masih panca roba. Peraturan juga harus memberi kesempatan kepada anak untuk salah dan melanggar, karena proses itu sendiri merupakan pendewasaan baginya. Anak mesti diberitahukan bahwa seketat-ketatnya aturan tetap ada ruang kreativitas baginya, peraturan adalah tantangan. Sekolah hendaknya membimbing anak hidup dalam payung hukum. Kalau sekolah mengarapkan anak menjadi pandai harus diajar dispilin, dan jika mengharapkan anak menjadi kreatif harus diajar berpikir. Salam

    murni : Pak, peraturan apapun tidak harus memberi kesempatan org melanggar, tp peraturan dibuat memang u dipatuhi dan dilanggar 😀
    Sekolah adalah salah satu lembaga sosialisasi anak, selain rumahnya. Jadi, mau tak mau anak akan belajar menjadi patuh dan mengerti akibat kepatuhannya pun akan belajar apabila melanggar maka akan ada efek baginya dan bagi org lain.

  6. Mungkin ada baiknya juga untuk mengikutsertakan siswa sebagai anggota yang ikut menentukan peraturan sekolah. Sehingga sebelum peraturan diberlakukan, siswa bisa ditanya kemungkinan responnya.

    Mungkin…

  7. $cHooL uNifOrM i$ a mU$T aT $chOOL!!!
    Lo di sCuL G dA seRagam, aNax2 pazti b`Lomba2 bwt tAmpiL meNcoLox sekLincoNgz mUngkin!!sO, secaRa otOmaTiz aKan muNcuL kesenjangaN soSiaL gtL….!!!yG kaya keLiataN p`LentE, & yG miZkin keLiaTan keRe…!!

  8. Saya baru saja mendapat sedikit masalah dgn aturan yg saya pakai di kelas sy.
    Sy mengajar bhs Inggris di SMA negeri pinggiran. Murid2 sulit sekali diharap kesadarannya membawa buku teks dan kamus. Akhirnya saya menerapkan denda bagi yg tidak membawa buku atau kamus (Rp 500,- masing2). Uang denda tsb saya gunakan sbg reward dlm diskusi di kelas. Tapi kemudian muncul larangan mendenda siswa berupa uang, karena media masa sering membesar2kan hal itu dan nama sekolah menjadi jelek. saya kehabisan akal bagaimana membuat siswa saya mau membawa buku. Jika mereka tdk membawa buku dan kamus, apa yg mereka lakukan di kelas?
    Ada ide..? Thanks in advance…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: