murniramli

Setetes air sebongkah salju

In Renungan on Desember 28, 2007 at 10:21 am

p1190649.jpg

Air yang menggelantung di pucuk daun atau di ranting-ranting kayu adalah pemandangan yang paling dalam bagi saya. Beberapa koleksi foto saya berisikan gambar bunga yang berembun atau air yang menetes. Image yang tergambar dalam beningnya warna air sungguh cantik, demikian pula bentuknya yang menggelantung sempurna. Mengapa dia tak jatuh ? Ahli fisika barangkali bisa menjelaskan ini.

Air adalah zat yang tak bisa hilang dari kehidupan manusia. Jika membeli donut plus minuman dalam gelas plastik di mister donut akan kita baca pesan di label gelas, saya lupa tepatnya tapi intinya : anda bisa hidup tanpa makan apapun, tapi anda tak bisa hidup tanpa seteguk air. Ya, saya kadang susah bernafas jika dalam kondisi kelaparan, tapi dengan meneguk air, semuanya menjadi melegakan.

Setetes air adalah sangat indah. Demikian pula ketika dia memadat membentuk bongkahan es. Ketika saya berkunjung ke Nagano akhir pekan yang lalu, dalam kondisi bersalju, matahari menyembul memantulkan gemerlap sinarnya dan memberi kehangatan kepada penghuni bumi. Salju yang tadinya seperti kapas berubah menjadi kristal-kristal cantik. Pohon-pohon yang tak berdaun kelihatan seperti pohon es/pohon kristal. Kalau suhu lebih dingin, salju jatuh benar-benar seperti debu putih. Cantik sekali !

Tapi air di Jakarta tak lagi setetes, dia datang bergalon-galon memenuhi tempat rendah di kota. Ketika datangnya dalam jumlah yang banyak, air menjadi tak indah. Dia menakutkan karena kedatangannya bisa berarti kematian.

Setetes air yang menggantung di dedaunan di pagi hari jarang menjadi perhatian mata. Tapi bagi saya, setetes air yang menggelantung cantik adalah pemandangan yang menyejukkan dan tempat berguru tentang kearifan. Air yang setetes ibarat orang yang tak pandai, tak cantik, tak kaya, tapi ketika dia datang bergabung di tengah kerumunan kawannya, semuanya menjadi senang, tertawa dan lupa bahwa baru saja mereka berdebat kusir.

Manusia boleh jadi tak hebat, tapi asalkan dia menjadi penyenang bagi sesamanya, bukankah itu sudah cukup ?
Anak-anak boleh jadi tak pandai, tapi asalkan dia membawa manfaat kepada sesamanya, bukankah itu lebih dari cukup ?

Saya ingin menjelma menjadi setetes air yang menggelantung di ujung daun, membesar dan memberat seakan tekun mendengar tekun belajar kearifan, yang kemudian karena sudah ditakdirkan dia jatuh…..tik …… di tengah tanah yang gersang.

Iklan
  1. Dari tulisan mbak Murni tentang setetes air, saya jadi tau bahwa pendidikan itu juga berperan untuk memilihkan ‘peran’ yang baik bagi anak-anak di masyarakat.

  2. Bukan saya tidak perhatikan setetes embun, tapi tetes embun tak dapat lagi dinikmati karena berkurangnya dedaunan di sekitarku. Gambaran penderitaan yang dialami tanaman yang tak lagi bisa ber Gutasi menyumbangkan tetesan air untuk penyejuk bagi manusia karena menyebabkan penderitaannya. Setetes air saat ini hanya sekedar konotasi, karena datangnya air tak lagi menetes tapi meluber dan meluap. warnanya pun tak lagi bening, tapi keruh dan coklat karena membawa material tambahan.

    murni : Pak, di Bogor masih banyak daon 😀

  3. gmbr dan tlsnya menarik dan bagus.Sy mnt ijin copy koleksi gmbr/foto diatas ya.trmksh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: