murniramli

Liburan akhir tahun sebentar saja

In Serba-Serbi Jepang on Desember 31, 2007 at 7:32 am

Biar tidak dikatakan terlalu rajin atau dituduh sebagai Bu bon di kampus 😀 saya meliburkan diri dari aktivitas berkunjung ke kampus kemarin, juga tak mau menerima tawaran bekerja hari ini. Pokoke libur, walaupun hanya sehari.

Saya mengunjungi teman saya, seorang nenek berumur 60 tahunan, juga seorang mahasiswa doktoral di Hiroshima University. Sudah lama saya mengenal beliau sebagai aktivis pendidikan di Aichi. Beliau pensiunan guru bahasa Inggris di sebuah SMA swasta di Nagoya. Saya mengenal beliau ketika beliau kuliah Master di Nagoya University. Sering saya diajaknya berkunjung ke sekolah-sekolah dalam program ‘kokusai kouryuukai’ atau pengenalan budaya bangsa. Dia juga aktif membantu anak-anak korban tsunami di Aceh. Saya mengagumi beliau sebagai orang tua yang penuh semangat, menempuh perjalanan dari Gifu ke Hiroshima selama 7,5 jam dengan kereta biasa, demi untuk belajar sebuah ilmu. Dedikasinya yang tinggi kepada negara-negara berkembang membuat saya kagum, juga upayanya untuk menjembatani program pertukaran budaya di sekolah-sekolah.

Setiap akhir tahun beliau mengundang orang-orang asing untuk menginap di rumahnya, menghabiskan dan menikmati akhir tahun dalam kehangatan keluarga Jepang. Suaminya seorang ‘monk’ (pendeta Budhha) dan rumahnya yang mungil terletak di samping temple yang dijadikan sebagai simbol keagamaan warga sekitar. Tapi teman saya itu termasuk orang yang tak suka dengan segala tetek bengek ritual keagamaan. Tapi mungkin karena kepatuhannya kepada suami, maka dia senantiasa berdiri membantu tugas suaminya sebagai priest.

Sejak saya datang, seperti biasanya nenek-nenek gemar bercerita, dan sepanjang malam saya seperti berada di kampung halaman ketika kami berkumpul mengerumuni lampu petromaks, mendengarkan paman bercerita kisah-kisah siluman atau keperkasaan kakek. Tapi si nenek bebeda, dia lebih suka menceritakan bagaimana kemiskinan orang-orang Jepang zaman dulu, zaman perang, bagaimana sulitnya orang bersekolah, dan adat istiadat yang harus dipegang dan ditaati, termasuk simbol nasionalisme seperti berdiri tegak ketika bendera dikibarkan atau lagu kimi ga yo dinyanyikan (kedua ritual ini sudah tak ada lagi di sekolah-sekolah Jepang sekarang ini-red). Juga bagaimana mereka ketika makan harus duduk bersimpuh dengan kaki ditekuk ke belakang, makan dengan pelan, tak bersuara, dan badan harus tegak. Benar-benar tersiksa katanya!

Kemudian seperti biasa, saat makan tiba, semua makanan yang tersaji dijelaskan satu persatu apa maknanya. Makan bagi orang Jepang tak sekedar makan. Semua makanan ditata dengan rapih dengan komposisi warna yang menarik, dan keseimbangan gizi yang terjaga.

Selama beberapa hari dalam pergantian tahun, keluarga Jepang tak ada yang memasak. Biasanya mereka mempersiapkan masakan yang awet seminggu sebelum akhir tahun, misalnya kacang merah/hitam yang diberi shouyu, konbu (rumput laut) yang digulung kecil2 lalu diikat dan direndam di dalam shouyu dan gula, atau ikan atau daging yang diawetkan, atau udang segar, lobak yang difermentasikan. Ibu2 di Jepang saat tahun baru akan menata makanan tadi dalam komposisi yang menarik di rantang-rantang bersusun, dan menyajikannya kepada anggota keluarga.

Saat ini banyak keluarga yang tak sempat lagi menyiapkan makanan itu. Mereka tinggal memesan via internet atau mendatangi supermarket yang menyiapkan paket-paket dengan harga minimal 10 ribu yen. Tapi bagi keluarga yang tak punya dana cukup, mereka biasanya cukup membuat sendiri, atau membeli bahan-bahan jadi dengan harga murah dan menatanya sendiri.

Liburan akhir tahun saya tak seperti orang-orang Jepang yang memenuhi shinkansen dan bandara untuk pulang kampung selama 3 hari atau seminggu. Bagi saya sehari saja menghirup udara ‘lain’ sudah cukup untuk kembali berfikir dan bekerja. Kemarin sebelum pulang dari tempat bekerja, wakil manager saya bolak balik mengingatkan agar masuk jam 8 besok pagi. Sebab sudah dua kali saya terlambat dan lupa jadwal (>_<).

Iklan
  1. “bu bon” bisa punya 2 arti

    ibu tukang kebun (kebon)
    atau,
    tukang nge-bon alias ‘utang dulu deh..’

    btw, foto makanannya bikin clegux

    salam,
    (^_^)

    murni : “clegux” juga punya arti tiga :
    pertama : cegukan, krn ada yg nyumbat di jalan nafas atau kata ibu2 mau jadi besar kalau anak2 cegukan.
    kedua : cletukan hehehe….(krn pronouciation-nya mirip)
    ketiga : ngiler ….kali 😀

    salam juga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: