murniramli

Sepeda juga harus terdaftar di Jepang

In Serba-Serbi Jepang on Januari 4, 2008 at 12:47 pm

Selama lebih dari tiga tahun berada di Jepang, saya sudah punya sepeda tiga kali.  Semuanya pemberian orang.  Sepeda pertama saya pakai meluncur dari International Residence (IR),  dormitory untuk mahasiswa asing di Nagoya University, saya dapatkan dari teman.  Lupa, siapa yang ngasih, tapi walaupun sudah agak berkarat, remnya masih tajam untuk dipakai meluncuri turunan dari residen ke kampus. Sepeda ini saya tinggalkan di residen ketika pindah ke dormitory yang agak jauh dari kampus.  Dan karena supermarket ada di belakang dormitory, saya tak membutuhkan sepeda.

Sepeda kedua dipindahtangankan ke saya oleh teman yang menerima sepeda itu dari teman yang lain yang sudah pulang ke Indonesia.  Sepedanya model sepeda balap, dan kalau saya pakai, kelihatan gagah….maksudnya sepedanya ! 😀
Sepeda itu malang nasibnya.  Sekitar 2 atau 3 bulan yang lalu diangkut petugas patroli untuk dikumpulkan di lokasi pengumpulan sepeda tanpa tuan.

Sepeda itu sangat berjasa membantu saya berbelanja, mengangkut beras 5-10 kiloan, plus belanjaan yang lumayan pegel jika diangkut dengan tangan.  Juga membantu saya meluncur dari rumah ke stasiun jika terlambat bangun untuk kerja di pagi hari.  Dengan kecepatan tinggi saya bisa sampai di stasiun dalam waktu 2 menit, padahal kalau jalan kaki, saya perlu waktu 10 menit.

Setiap bulan, rasanya ada 2 kali patroli berkeliaran dan memeriksa sepeda-sepeda yang diparkir sembarangan di ruas-ruas jalan atau emperan toko.  Saya termasuk pelanggan parkir di sembarang tempat, karena terburu-buru, dan tak punya waktu mendaftarkan sepeda saya ke kuyakusho agar diakui sebagai sepeda bertuan di chikusa-ku.  Juga bandel tak mau membayar 1500 yen per bulan sebagai biaya parkir di tempat parkir yang sudah disiapkan.  Alhasil, sepeda itu diangkut petugas.

Sepeda ketiga saya dapatkan dari teman yang pulang ke Indonesia.  Sepeda itu dia sewa dari perusahaannya dan ketika habis masa sewa, oleh perusahaan sepeda itu diberikan secara gratis.  Untuk menghindari patroli salah parkir, sepeda ini hanya saya pakai untuk berbelanja di supermarket dekat rumah pada malam hari, sepulang dari kampus.  Tapi sekitar 2 bulan yang lalu, kunci sepeda hilang, dan tak ketemu sampai sekarang.  Sehingga, saya kembali tak bisa bersepeda.  Saya harus memalu kunci slot sepeda itu dan membeli kunci baru.  Cuma, belum juga saya lakukan (>_<)

Sepeda merupakan alat transportasi yang murah meriah di Jepang.  Hampir semua keluarga punya sepeda.  Bahkan ketika saya pergi ke Gifu, kereta Kintetsu yang menuju ke Ogaki mempunyai jam-jam tertentu di mana penumpang dibolehkan membawa naik sepedanya ke dalam kereta.  Anak-anak sekolah di daerah pedesaan Jepang banyak juga yang harus menempuh perjalanan jauh dengan sepeda untuk menuju ke sekolah.

Bagi pemilik sepeda, ketika membeli sepeda akan mendapatkan surat bukti sebagai pemilik sepeda.  Sepeda pun harus didaftarkan misalnya, ketika saya tinggal di IR, saya mendaftar di kantor IR sehingga sepeda saya bisa parkir di sana atau di kampus. Seharusnya sepeda yang sekarang saya daftarkan ke kantor kecamatan terdekat agar aman diparkir.

Jika ingin membuang sepedanya, orang Jepang kadang-kadang memarkirnya di sembarang tempat, lalu tak mengambilnya berbulan-bulan hingga diangkut oleh petugas.   Tapi, jika sepeda itu terdaftar, maka otomatis petugas akan menghubungi pemilik.

Pencurian sepeda juga sering terjadi.  Biasanya orang asing banyak yang sering diberhentikan oleh polisi, karena memang sudah lazim kita menerima pemberian sepeda secara turun temurun, yang kadang-kadang tak jelas pemilik aslinya.  Tapi mahasiswa asing yang dikirim ke Jepang adalah orang-orang yang ‘berakal’, sehingga kadang-kadang dengan pura-pura tak tahu bahasa jepang, polisi pun dikelabui.

Teman Jepang saya di Ehime mengumpulkan sepeda bekas dan mengirimkannya ke Mozambique untuk ditukar dengan senjata yang dimiliki oleh rakyat sipil ketika terjadi perang saudara di sana.  Sebuah upaya untuk memperoleh perdamaian melalui sepeda 😀

Iklan
  1. “Tapi mahasiswa asing yang dikirim ke Jepang adalah orang-orang yang ‘berakal’, sehingga kadang-kadang dengan pura-pura tak tahu bahasa jepang, polisi pun dikelabui.”

    Repotnya kalau polisinya ternyata bisa bahasa Inggris lebih baik dari kita, atau dia minta bantuan ke interpreter Indonesia-Jepang dari PPI yang sudah dia kenal 😀

    murni : hehehe…itu yg sedang digalakkan di Aichi, Pak.
    Polisi2 semangat sekali kursus bahasa Inggris di tempat saya mengajar,
    bahkan muridnya Mba Seri, seorang polisi juga ganbatte belajar bahasa Indonesia.
    Na lo…harus cari metode baru nih u mengelabui omawari san 😀

  2. waduhaduh™…. lucu juga di sana yah. kapan nih indonesia jadi surganya sepeda, terutama jakarta?

    (^_^)v

    murni : nanti kalau ibukotanya dipindah ke Jonggol, Bogor 😀

  3. Wah di jepun, sepeda jadi alat utama transportasi……. hebat euy

    Sayang, jakarta masih mengandalkan mobil ama motor buat jadi alat transportasi………. -_-

    murni : salah, Mas…
    bukan alat transportasi utama tapi paling OK dipake ke mana-mana u jarak dekat krn ga ada angkot dan becak di Jepang 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: