murniramli

Hari Kedewasaan dan Kemunduran Jepang

In Pendidikan Jepang, Serba-Serbi Jepang on Januari 14, 2008 at 2:11 pm

Hari ini banyak sekali gadis-gadis muda Jepang yang bersileweran di jalan-jalan menggunakan kimono yang begitu cantik. Ya, hari ini siapa saja yang genap berusia 20 tahun, maka mereka ikut merayakan hari pengukuhan sebagai orang dewasa. Hari ini, yaitu hari Senin kedua dalam bulan Januari, kalender Jepang berwarna merah karena hari ini adalah hari seijin no hi (成人の日).

Ketika anda berumur 20 tahun apakah ada sesuatu yang berbeda terjadi dalam diri anda ? Saya lupa, pada umur 20 tahun apakah saya merasa dewasa saat itu. Rasanya saya terlalu sibuk kuliah sehingga tak merasa pergantian kedewasaan.

Bagi orang Islam, kata dewasa atau baligh dikenal ketika anak perempuan telah mengalami haidh, yang rata-rata berumur 12-15 tahun. Dan bagi anak laki-laki telah bermimpi. Biasanya pada kondisi ini terjadi perubahan hormonal dalam tubuh kita, misalnya jakun bagi anak laki-laki dan suara yang berubah menjadi `gagah`, ngga cempreng. Secara biologis terjadi perubahan dalam tubuh kita, pun semestinya terjadi perubahan dalam psikis, misalnya egoisme, tanggung jawab, dan perilaku orang dewasa lainnya.

Di Jepang, umur 20 tahun ditandai dengan kebolehan minum sake, merokok, atau menyetir mobil. Remaja yang pada umumnya duduk di bangku kuliah tingkat dua ini, hari ini datang ke sekolah dasar (SD) tempat mereka belajar dulu untuk bertemu dengan teman-teman sekolahnya dulu. Acara utama pada hari ini selain merayakan kedewasaan juga semacam reuni. Untuk keperluan hari ini, ibu-ibu biasanya memesan di kimono di perentalan kimono setahun sebelum hari H. Seorang teman saya bercerita bagaimana sibuknya ibu-ibu mereka membuat janji dengan salon jauh-jauh hari sebelum hari seijin. Kimono yang dipakai hari ini memang berbeda dengan kimono biasa. Kimono dengan lengan menjuntai panjang, obi besar yang gemerlap sangat mahal harganya. Di perentalan saja paling murah sekitar 10 ribu yen. Kalaupun memaksakan untuk membeli, maka orang tua harus menyiapkan dana sekitar 100- 130 ribu yen. Ini yang paling murah mungkin 😀

Populasi kaum muda di Jepang menurun, berbanding lurus dengan kualitasnya. Beberapa hari yang lalu di sebuah stasiun TV swasta disiarkan kaleidoskop ekonomi dan pendidikan Jepang yang dibandingkan dengan negara-negara OECD di tahun 2007. Terlihat sekali Jepang mengalami kelesuan ekonomi yang mengimbas pada pendidikannya juga.

Dalam sebuah survey antar negara OECD 2006 yang melibatkan 400 ribu siswa berusia 15 tahun tentang kemampuan memahami bacaan, math, dan sains, terlihat hasil yang mengagetkan, bahwa hanya 8% anak-anak Jepang yang tertarik dg sains dan berminat bekerja di bidang sains. Sementara rata-rata negara OECD adalah 25%.

Remaja yang merayakan hari kedewasaannya hari ini, di antara mereka ada yang terkategorikan NEET (Not in Employment, Education or Training) yaitu kalangan berusia 15-34 tahun yang tidak sedang sekolah, bekerja atau mengikuti training. Jumlahnya diprediksi sekitar 10% dari populasi Jepang, atau sekitar 800 ribu lebih.

Mereka juga sebagian tergolong freeter yaitu angkatan kerja yang tidak punya pekerjaan tetap atau dikatakan hanya bekerja 4,9 hari per minggu dengan gaji tahunan sekitar 139 ribu yen. Golongan ini muncul pada tahun 1987 ketika ekonomi Jepang mengalami kejayaan, banyak lapangan kerja tersedia, tetapi generasi mudanya enggan bekerja ala robot seperti ayah dan kakeknya (generasi tua yang membawa kejayaan Jepang). Angka freeter di tahun 2002 sekitar 2 juta dan diprediksikan akan mencapai 10 juta pada tahun 2014 jika tak ada perbaikan kondisi pendidikan dan kerja di Jepang.

Anak-anak yang hari ini merayakan kedewasaan tidaklah salah dalam hal kemunduran negeri ini. Tetapi banyak faktor yang saling kait sehingga membawa kepada kemerosotan. Perjalanan negeri ini seperti sebuah kurva sebaran normal, di mana puncak telah terjadi di tahun 1987, dan sekarang pergerakan menuju ke arah lembah. Jika sejarah bangsa hanya ditetapkan sebagai sebuah kurva sebaran normal yang tak berulang, maka Jepang kelihatannya tak bisa bangkit. Tetapi jika sejarah bangsa adalah seperti gelombang air laut, maka kejayaan itu akan kembali suatu saat.

Iklan
  1. Saya rasa bukan distribusi normal deh…

    Mungkin akan berbentuk gelombang transversal, dan memang seperti itulah kehidupan ini kan? (Kadang ada di daerah puncak, kadang ada di lembah) Termasuk didalamnya adalah sejarah bangsa.

    murni : ya, mungkin…

  2. …bahwa hanya 8% anak-anak Jepang yang tertarik dg sains dan berminat bekerja di bidang sains….

    Tapi wajar kok mba kalau ini terjadi. dan memang ini sejalan dengan demand di pasar TK nya, soalnya saat ini kurang lebih 73 % GDP nya jepang di topang oleh sektor jasa, sektor industrinya hanya sekitar 25 persen saja. Jadi justru demand lulusan non engineer (non sains?) memang lebih tinggi, and saat ini di jepang hanya dibutuhkan very high qualified engineer karena teknologi nya sudah sedemikian canggih.

    …Anak-anak yang hari ini merayakan kedewasaan tidaklah salah dalam hal kemunduran negeri ini. Tetapi banyak faktor yang saling kait sehingga membawa kepada kemerosotan…

    Memang ekonomi jepang agak lesu beberapa waktu yg lalu, tapi 2 tahun terakhir udah positif kok, and kalau dilihat dari besarnya ekonomi jepang memang luar biasa, GDP (PPP) nya USD 4,32 Triliun (bandingkan dengan Indonesia yg hanya sekitar USD 800 miliar). Dengan GDP 5 kali lipatnya and jumlah penduduk 1/2 nya Indonesia berarti pendapatan perkapita (PPP) nya 10 kali lipat Indonesia.

    murni : siip…matur nuwun tambahan inpo-nya, Pak.
    Begini nih…kalo pakar yang komentar hehehe….

    btw, kenapa siaran TV waktu itu menyorot memburuknya ekonomi Jepang di th 2007 ya, Pak ?
    Adakah parameter lain u mengukur perkembangan ekonomi suatu negara, selain GDP, Pak ?

  3. Wah mba, ntar jadi diskusi masalah ekonomi kalau diterangkan, blom lagi kalau merembet ke masalah bagaimana GDP itu terdistribusi ke masyarakat, bisa kemana-mana ceritanya hehehehehe..
    aniwe, biasanya GDP termasuk komponen2 GDP digunakan sebagai ukuran perkembangan ekonomi suatu negara… Kalau di katakan jepang lesu tergantung cara pendangnya. GDP growth jepang sudah positive, itu yang menurut saya penting, meskipun hanya tumbuh kurang dari 5 persen, tapi 5 % dari USD 4 triliun lebih … sekali lagi magnitude nya beda jika di bandingkan dengan Indonesia misalnya tumbuh hampir 6 % tapi hanya dari USD 800 miliar

  4. tolong dong kasih info2 ke email qt.thanks yah

  5. ekonomi nya kenapa lesu sih ?? padahal banyak orang pintar di sana, profesor2 jenius numpuk, produk2 nya bermerek, teknologi paling mutakhir…..

    apa orang jepang sudah bosan hidup ?? karena sudah makmur dan kaya semua, hidup serba mudah dan instan jadi apa lagi yg di cari…???

    tapi emang udah hukum alam kali… ada saat naik turun, Jepang udah kelamaan berjaya… kita udah terlalu sering denger cerita kehebatan negeri mereka….nah mungkin Tuhan bermaksud mempergilirkan kejayaan ke bangsa lain entah Cina, India, dll….

    mugkin negeri ‘matahari terbit’ sudah mendekati senjanya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: