murniramli

Mengikuti Pemilihan Dekan

In Pendidikan Jepang on Januari 15, 2008 at 2:35 pm

Saya belum pernah ikut pemilihan dekan atau rektor, selama menjadi mahasiswa di Indonesia.  Jadi saya pun tak tahu apakah mahasiswa ikut vote atau rektor dan dekan ditentukan oleh hasil pemungutan suara di senat PT atau penunjukkan dari DIKTI.

Hari Jumat yang lalu saya diminta teman Jepang untuk berpartisipasi dalam pemilihan dekan.  Tapi partisipasi di sini bukan berarti ikut memilih seseorang yang pantas menjadi dekan.  Di Jepang, seperti yang dikeluhkan teman saya yang menjabat sebagai pengurus senat, mahasiswa tidak punyak hak memilih dalam pemilihan dekan/rektor.

Jadi yang kami lakukan sebagai mahasiswa adalah mengumpulkan suara untuk menolak seorang calon dari 5 orang calon yang paling tidak layak untuk menjadi dekan. Salah seorang calon dekan tahun ini adalah pembimbing saya.  Jelas saja saya tak menyilang nama beliau, tapi mengikuti arus yang berkembang untuk mencoret nama seorang dosen yang dianggap tak sepemikiran dengan senat mahasiswa Fak. Pendidikan.

Sehari sebelum pemilihan, seorang rekan yang lain berdiskusi dengan saya tentang kebebasan mimbar dan kebebasan berpendapat mahasiswa di Indonesia.  Dan saya jelaskan bahwa mahasiswa di Indonesia tergolong berani dalam melakukan reformasi dan protes kebijakan negara.  Banyak perubahan ke alam yang lebih demokratis terjadi karena jasa mahasiswa.  Perubahan nasib rakyat pun terjadi karena gerakan mahasiswa yang menguat di seluruh universitas di Indonesia.

Teman saya sangat iri dengan kondisi ini, karena di Jepang mahasiswa sama sekali tak bergigi.  Sekalipun ide neo-liberalisme dipelajari dan berkembang cukup luas di kalangan akademikus PT, tapi realitanya mereka tak menerapkannya di dunia kampus.  Apatah lagi dunia sekolahan.

Menurut penelitian, Senat Mahasiswa Fak Pendidikan Nagoya University adalah yang paling bagus dan radha bergigi dibandingkan lembaga serupa lainnya di seluruh universitas Jepang.  Ya, saya dapat merasakan ini sebagai mahasiswa di Fak. Pendidikan.

Senat mahasiswa (jichikai) di tempat kami setiap tahun mengeluarkan angket tentang kepuasan pelayanan kampus, dan secara rutin pengurus melaporkan angket ini kepada dekan, yang akhirnya pelayanan semacam print gratis, kartu foto copy gratis, kantor yang boleh diakses hingga jam 08.00 malam, terutama untuk keperluan fotocopy atau mencetak makalah.

Tapi mereka tidak punya hak memilih, bahkan di beberapa universitas aktifitas senat dihapuskan.  Perpolitikan tampaknya menjadi barang langka di kampus-kampus Jepang. Perkumpulan mahasiswa kebanyakan hanya berupa kelompok olah raga atau seni.

Iklan
  1. NKK-BKK 😛

    murni : iku la jaman mbiyen toh 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: