murniramli

Obsesi Negara dalam kompetisi kepandaian

In Pendidikan Jepang, SD di Jepang on Januari 19, 2008 at 8:59 am

Tanggal 17 Januari 2008, chuuoukyouiku shingikai (中央教育審議会)yaitu suatu Badan Komisi Pendidikan yang dibentuk untuk menganalisa dan memformulasikan kebijakan baru dalam bidang pendidikan di Jepang, mengeluarkan maklumat baru tentang penambahan jumlah jam belajar di SD di seluruh Jepang.

Peraturan ini dikeluarkan sejak selama 30 tahun jumlah jam pelajaran selama setahun di SD-SD di Jepang tak berubah, yaitu sebanyak 782-945 per tahun. Tahun 1977, sekolah-sekolah di Jepang menerapkan sistem yutori kyouiku dengan maksud mengurangi tekanan dalam kehidupan siswa di sekolah dan di rumah. Lalu, sistem sekolah 5 hari juga diterapkan karena angka bunuh diri dan kriminal akibat stress di kalangan siswa juga meningkat.

Namun, belakangan sejak prestasi siswa SD dan SMP Jepang di dunia internasional merosot (berdasarkan PISA dan TIMMS) dan Jepang juga malu dengan prestasi yang merosot di kalangan negara-negara OECD, maka pemerintah akhirnya berfikir ulang untuk menggenjot agar anak-anak Jepang yang semula dibuai dengan pelajaran tanpa PR dan banyak bermain, menjadi lebih serius dan giat belajar.

Isu tentang penghapusan yutori kyouiku sudah ramai dibicarakan sejak pemerintahan Koizumi dan Abe, dan akhirnya keputusan untuk menambah 10% jam pelajaran dari total yang ada sekarang tercetus di pemerintahan PM yang baru, Fukuda Yasuo. Dengan penambahan ini setiap pekan 1 -2 jam pelajaran bertambah, kemudian jam untuk sougoutekina kamoku (総合的な科目)atau integrated course dikurangi. Sementara itu waktu 2 jam dialihkan untuk pelajaran bahasa Jepang, math dan aritmetika.

Mencermati kebijakan ini, tampaknya tak ada bedanya negara di manapun juga, semuanya berlomba untuk mencetak anak-anak brilian. Semuanya berkompetisi untuk mencetak anak-anak yang otaknya cemerlang. Lalu kembali dipertanyakan tentang esensi pendidikan, yaitu pendidikan otak, jiwa, dan tubuh ?

Karena hanya kemampuan otak yang terukur oleh PISA dan TIMMS, dan hasilnya pun menjadi parameter pasti untuk menentukan posisi negara, maka teori tentang pendidikan otak, jiwa, tubuh menjadi mustahil dikembangkan di sekolah manapun.

Memang sekolah dibuat untuk membuat anak-anak yang tak mengerti sesuatu menjadi mengerti suatu ilmu. Sekolah dibuat agar anak-anak bisa belajar beragam ilmu dan karenanya di akhir studinya dia memperoleh sertifikat, sebagai bukti bahwa dia telah merampungkan proses belajarnya.

Tapi sekolah di masa global, kelihatannya tak bisa sesejati itu. Sekolah sudah menjadi alat negara untuk mencapai obsesi tertinggi dalam kompetisi kepandaian.

Namun, ini pun tak bisa ditolak. Karena anak-anak yang dicetak di sekolah saat ini bukan lagi anak-anak negaranya, tetapi dia dicetak untuk menjadi citizen of the world. Anak-anak yang kritis dan bisa survive di tengah persaingan anak-anak brilian sedunia.

Iklan
  1. aneh juga.. disaat sekarang ini banyak terbukti bahwa SQ dan EQ juga merupakan hal yang penting bagi perkembangan jiwa seorang anak, tetapi sekolah-sekolah dimanapun masih saja merasa IQ adalah tolak ukur yang paling utama *sigh*
    mendadak inget Kinpachi Sensei xD lmao

  2. Setuju mbak Murni..
    Mari mencetak anak yang bisa menjadi warga negara dunia sekaligus brilyan.

  3. coba kalau negara-negara di dunia mengadakan kompetisi akhlak. tentu hal ini akan melengkapi kompetisi otak. Jadi manusia bisa hidup bahagia …

  4. しばらくブロッグが変わっていないんですが、お元気ですか、ムルニ先生?

    ムルニ ;元気ですが、研究を進んでいくため、毎日忙しので、ブロッグのチェック時間がなかなかない。
    また何かを書いてみるわ。。。よ~し がんばろう!!

  5. smg bisa diterapkan di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: