murniramli

Guru dan Semangat berseminar

In Penelitian Pendidikan, Serba-serbi Indonesia on Februari 8, 2008 at 8:43 am

Tanggal 28 Januari yang lalu diadakan sebuah seminar internasional di Rembang. Event yang sekaligus berbarengan dengan penandatanganan MoU antara UNDIP dan Pemkab Rembang. Bertemakan peningkatan kompetensi guru melalui sertifikasi di Jepang dan Indonesia, seminar menghadirkan 4 pembicara dari Nagoya University dan UNDIP Semarang.

Semula panitia hanya memprediksi 200 peserta yang akan hadir, tetapi di hari H, sekitar 1200 guru datang dari pelosok Jawa Tengah dan Jawa Timur. Beruntunglah kapasitas pendopo kabupaten Rembang sangat memadai untuk menampung para guru tersebut.

Saya dan Prof Nishino yang baru pertama kali menghadapi massa seminar sebanyak itu agak grogi juga. Apalagi saya yang sangat pemula dan tak sepandai kyai sejuta umat mengendalikan massa. Bapak Ibu guru yang sudah dibiarkan terlunta-lunta karena harus menunggu pembukaan acara yang molor 1 jam, tentunya sudah tidak tahan pula mengikuti rentetan acara yang seperti biasa mengikuti protokelar pejabat, sambutan dan keynote speaker. Penundaan acara terjadi karena keterlambatan Bapak Bupati sebagai pihak yang akan mengetuk palu sebagai pembuka seminar.

Memandang Bapak Ibu guru yang duduk memenuhi pendopo mengingatkan saya pada cerita-cerita raja tempo dulu ketika raja mengumpulkan rakyatnya untuk memberi titah atau pengumuman-pengumuman. Rakyat begitu setia menunggu dengan wajah yang penuh keingintahuan apa yang akan dititahkan sang raja. Bedanya, rakyat pada masa itu duduk bersimpuh di tanah, sedangkan kali ini para guru duduk di kursi.

Ingatan ini begitu saja terlintas karena semalaman kami menginap di `hotel istimewa` yaitu pendopo kabupaten, tempat para bupati Rembang dari generasi ke generasi bermukim. Termasuk suami Raden Ajeng Kartini. Terlebih lagi malamnya saya dan Prof Nishino sempat diguide secara khusus oleh Bapak Rumah Tangga Pendopo untuk melihat-lihat kamar, tempat tidur, meja makan, surat berharga Ibu Kartini, berikut benda pusaka lainnya.

Kembali kepada kumpulan guru yang sedang asyik menyimak seminar. Antusiasme guru menghadiri seminar ini tentu saja banyak yang meragukannya apakah memang guru datang karena kesadarannya, ataukah mereka termakan dengan kampanye sertifikasi guru ? Sejak diumumkan, sertifikasi guru memunculkan semangat baru di kalangan guru, yaitu, semangat menghadiri seminar/pelatihan, semangat mengumpulkan dokumen baik asli atau tak asli, semangat memburu tandatangan kepsek, dan semangat hadir di pelatihan singkat penyusunan karya ilmiah.

Terlepas dari banyak sinisme yang menganggap ini sebagai wabah tak menyehatkan, saya justru melihatnya sebagai letupan baru yang akan mengobarkan semangat belajar dan kebangkitan guru. Yang semula acuh dan masa bodoh dengan seminar pendidikan menjadi waspada dengan pengumuman seminar. Yang datang hanya untuk tidur, paling tidak dalam tidur ada ilmu yang nyantol.Yang semula tak mau, tak bisa, tak suka menulis, menjadi giat berlatih dan menemukan nikmatnya menyusun kata melalui kewajiban menyusun karya ilmiah.

Semangat baru inilah yang semestinya dicermati oleh pemerintah dan siapa saja yang ditunjuk untuk berceramah agar menyediakan pembicaraan yang benar-benar bermanfaat dan bermutu bagi guru, paling tidak panggilan sebagai guru yang katanya masih lemah di kalangan guru Indonesia menjadi terasah dengan muatan isi yang disampaikan.

Guru kita perlu belajar. Belajar kepada guru di negara lain. Guru kita perlu belajar mengapa guru di negara lain mendapat gaji besar dan tunjangan kerja yang memuaskan ? Guru kita perlu belajar bahwa menjadi guru berarti harus memiliki jiwa voluntary, yaitu mengajar karena tanggung jawab dan karena menyukai pekerjaannya.

Iklan
  1. semoga sosok guru kembali menemukan jati diri nya usai di”hina” & di”cibir” karena ditafsirkan sebatas profesi. Yang sebenarnya status “guru” melampaui profesi, dia itu panggilan nurani kejiwaan seseorang untuk mengabdikan “apa” dimiliki tak sekadar mengajarkan/menyalurkan
    ajaran … semata melainkan menular/duplikasikan “persis”bahkan melampaui, penuh dengan emosi jiwa pada anak didik, karena dimaui “refleksi kemampubisaan & keterampilan” sebagai kembaran cermin dirinya. sebagai upahnya itu kepuasan batiniah gak terukur dalam materi.
    itu seyogyanya sosok guru.

    buat menggapai posisi itu, tentu penilaian dan
    penghargaan awam juga pemerintah agaknya perlu diubah, usai sang guru menjalani instrospeksi diri
    terlebih dahulu tentunya.

    seleksi alam akan terjadi, hanya mereka yang benar-benar mengabdikan panggilan jiwa yang melaju, sementara mereka baru sebatas menjalani profesi tanpa kecintaan & ketekunan pada “apa” yang dijalani semoga bisa menerima & legowo…..
    andai ketinggal jauh oleh sejawat yang menjalani
    panggilan jiwa..

    hayo saatnya bangkit dan mengubah diri, jangan main-main sama amanah masa depan anak didik orang lagi ntar dipermainkan oleh-NYA… lho… nanti……

    maafkanlah…

  2. Waduh, ternyata level Mbak Murni sudah berbicara di depan ribuan umat. Gokurou sama deshita. Benar, mudah2an Pak/Bu Guru menemukan momen kebangkitannya tak lama lagi. Mdtk, MSR

    murni : baru 1000, Mas. Bukan ribuan 😀

  3. Udah sampai di Jepang ya mbak?
    Kapan-kapan kalau balik ke hometown lagi, bikin acara seminar atau apalah namanyabuat guru-guru kita ya mbak? Biar mereka juga bertambah wawasannya terutama mengenai segala macem tentang pendidikan di Jepang.

    Seperti yang mbak murni bilang juga kan? Bahwa guru-guru kita perlu belajar dari negara lain. Guru-guru kita memang perlu sekali ‘darah segar’ dari orang-orang yang mempunyai wawasan luas dan concern terhadap dunia pendidikan.

    Kalau guru2 kita makin pintar dan luas wawasannya, kan anak-anak kita juga yang mendapat keuntungannya.

    Sukses terus ya mbak…….

    murni : sebenarnya ingin sekali bertukar wawasan dg guru-guru di Madiun, tp tidak ada yg memfasilitasi.
    Di Rembang kemarin difasilitasi UNDIP. Mungkin Mba Heni bisa membantu. Saya sudah sampaikan kepada kepala sekolah yg saya wawancarai jika ingin bertukar pikiran ttg pendidikan di Jepang, silahkan adakan forumnya, insya Allah pas saya pulang, saya akan sempatkan u datang. Tp belum ada tanggapan.
    Mudah2an banyak guru yg bisa link internet, sehingga walaupun tdk bertatap muka scr langsung, masih bisa membaca dari blog saya 😀

    btw, terima kasih atas bantuan dokumen2nya kemarin. Sangat berguna.
    Saya menunggu juga perkembangan penelitiannya ya, Mba

  4. Wah … hebat euy …. kalah Zainudin MZ, 😀 … smg sehat selalu, sayang kita tak sempat jumpa

    murni : waktu di bogor jakt kemaren sebentar sekali, Pak. hanya tempat transit pergi dan pulang.
    Lain kali insya Allah

  5. Wah….sugoi…ternyata dalam rangka jadi pembicara juga mbak Murni pulang…
    Maju terus mbak!

    murni : hehehe….sekali2 harus mundur u ngelmu dulu 😀

  6. Memang, seminar selama ini “hanya” menjadi ajang untuk mengumpulkan angka kredit. Saya sering datang di seminar perguruan tinggi yang mengundang peserta untuk menjadi pemakalah. Apa yang saya bayangkan bahwa seminar adalah forum ilmiah, ternyata jauh dari perkiraan saya tersebut. Bayangkan, seorang pemakalah harus mempresentasikan makalah setebal sekitar 10 halaman diberi waktu hanya 10 menit + 5 menit untuk diskusi. Apa yang didiskusikan????? Satu pertanyaan dan jawaban sekenanya sudah kehabisan waktu. Maaf lho bagi bapak/ibu yang suka seminar! bukan saya meremehkan arti sebuah seminar ilmiah, ya. Terima kasih, Wassalam.

    murni : Barangkali harus dimulai membiasakan seminar dg peserta dan presenter terbatas yaitu dg memfokuskan ke bidang kajian tt, shg yg akan ikut hanya orng yng berkepentingan/berhubungan dg pekerjaannya

  7. Saya kira guru pasti punya semangat untuk belajar, hanya saja kesempatan dari vitamin “D” nya aja yang kurang, masak sih.. kalo di bandingkan dengan kopral gaji guru gol. III a (sama dengan letnan) masih kalah dengan kopral…!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: