murniramli

Membaca perlu pendengar yang baik

In Penelitian Pendidikan, Renungan on Februari 8, 2008 at 8:49 am

Saya membeli sebuah buku menarik berjudul Belajar Sepanjang Masa ditulis oleh John Holt. Belum tuntas saya baca, tapi saya sudah tertarik dan terkagum-kagum dengan bagian awalnya. Bagian awal yang saya intip dua malam yang lalu, saya tuliskan dengan penafsiran subyektif hari ini, sambil sesekali melongok awan putih bak kapas di bawah sana. Langit hari ini biru sekali !

Masih ingatkah bagaimana anda belajar membaca dulu ?

Saya masih ingat sedikit. Saya mengenal alphabet sejak TK. Walaupun tiga tahun duduk di TK karena harus membetahkan diri duduk di kelas nul kecil selama dua tahun (karena tangan, sambil dilingkarkan ke atas kepala, belum bisa menyentuh telinga šŸ˜€ ), saya tergolong anak yang lambat dalam kemampuan membaca, apalagi berhitung. Guru saya di SD menuliskan huruf d dengan tinta merah untuk pelajaran bahasa Indonesia dan Matematika di raport. Yang karenanya saya tersenyum lebar ketika menerimanya karena raportnya berwarna šŸ˜€ Tapi Bapak marah dan mengomel.

Kelas dua SD secara drastis, saya dapat rangking 1 di kelas, dan maju ke depan podium menerima piagam, bahasa Indonesia delapan. Seingat saya mamak dan bapak belum pernah mengajari saya membaca di rumah, jadi pastilah karena guru saya di SD yang saya masih ingat wajahnya, tapi lupa nama beliau. Atau Tante saya yang juga guru SD di Pangkep, yang sering mengajari sambil berteriak-teriak marah karena kelemotan otak keponakannya.

Masih ingat saya pada pelajaran membaca be u bu de i di budi,, ini budi, ini ibu budi, ini wati, ini kakak budi. Keluarga Budi adalah keluarga pertama yang saya ketahui lengkap nama anggotanya. Sejak mengkhatamkan pelajaran bahasa Indonesia kelas 2 atau kelas 3, dan sudah pandai pula saya mengeja kata-kata lain, saya mulai suka membaca dengan suara keras. Berteriak sambil nangkring di rumah pohon juwet yang ada di samping rumah, atau membaca tulisan besar-besar di koran pembungkus jajanan pasar yang dibeli mamak. Saya tak ingat kapan mulai berlangganan majalah BOBO, yang selanjutnya berhasil memenuhi dahaga saya terhadap bacaan, sampai-sampai nama-nama redaksinya pun ikut terbaca. Selain BOBO, majalah Kuncung, TOM TAM dan Mentari adalah idola saya. Pelajaran bahasa Indonesia yang paling saya sukai adalah dikte dan mengarang. Karangan pertama saya adalah berlibur ke rumah nenek. Karangan paten masa itu. Saya pernah membuat karangan untuk TOM TAM tapi lupa judulnya, dan dapat hadiah kaos oblong. Wah senanngnya !

Mengapa saya begitu suka membaca ?

Apa yang ditulis oleh John Holt dalam bukunya adalah jawabannya. Dia menulis bahwa anak perlu seorang pendengar yang baik ketika mulai belajar membaca. Waktu itu nenek, oom-oom dan tante-tante saya di BoneĀ  setia mendengar saya membaca keras-keras sambil berdiri tegak dan memegang lurus buku bacaan, layaknya seorang pembaca UUD saat upacara. Kadang-kadang bacaan saya salah, tapi karena mereka selalu berkata wuihā€¦hebat, sambil berdecak ckā€¦ck..ckā€¦atau sekedar mengatakan `lalu bagaimana ?`, saya yang seakan berada di atas langit, tak kalah gilanya membaca ngawur, yang penting bunyi. Saya kegirangan didengarkan oleh orang dewasa, apalagi dihadiahi tepuk tangan. Besoknya, di setiap sore di halaman rumah kayu kami di kampung, oom pasti meminta lagi saya membaca, dan saya berteriak lagi melantunkan kata demi kata yang kadang saya sendiri tidak tahu artinya. Belakangan baru saya ketahui bahwa mereka semua ternyata buta huruf dan tak bisa membaca sekalipun hanya kata `ini`

Karena susahnya bersekolah di tengah hutan di bawah kejaran pasukan westerling waktu itu, hanya mamak saja yang sempat mengenyam pendidikan SR dan itupun tak lulus. Ah, orang-orang mulia itulah yang telah membuat saya menjadi gemar membaca.

Ketika baru belajar membaca anak perlu pendengar yang baik yang tidak menyalahkan bacaannya. Bahkan dia perlu orang dewasa yang kadang-kadang harus bersedia memangkunya sambil mendengarkan dia berceloteh. Atau dia perlu komentar atas bacaannya, walaupun hanya `laluā€¦terusā€¦.` Dia pun tak boleh dilarang membaca dengan suara yang keras, karena dia butuh pengakuan bahwa dia sudah bisa membaca.

Demikianlah membaca akan menjadi sangat mengasyikkan bagi anak jika ada yang mendengarnya.

Iklan
  1. Kalo di Jepang (mestinya Mbak Murni juga sudah tau :-)), di samping PR untuk mengerjakan sesuatu, PR lainnya adalah PR membaca ini. Mereka mendapat “hon yomi kaado” atau kartu membaca, yang juga perlu keterlibatan ortu atau wali murid untuk mengontrol dan memberikan penilaian atas bacaan siswa di sana. Mestinya di Indonesia juga ada? Mdtk, MSR

    murni : selain itu ada beberapa sekolah yg mewajibkan siswa membaca apa saja 10-15 menit di awal jam pertama.
    Di tanah air mungkin ada tapi belum menjadi gerakan nasional.
    matur nuwun masukan ne, Mas

  2. kalau saja budaya baca ditingkatkan….
    bangsa ini pati lebih cepat majunya

    murni : setuju

  3. Nice post šŸ™‚
    Sepertinya tidak hanya untuk membaca, kemampuan mendengarkan juga diperlukan untuk berbagai hal yang dilakukan anak. Mereka butuh didengarkan aspirasinya agar termotivasi melakukan hal-hal yang memang perlu mereka kerjakan.
    Salam kenal…

    murni : terima kasih masukannya, salam kenal juga

  4. Waduh mba.. saya nggak suka membaca, kalau sudah pegang buku, penyakit menahun saya pasti kambuh “ngantuk” hehehehehe.. saya lebih suka mendengarkan, atau mendengarkan penjelasan dulu baru membaca, lebih mudah masuk ke otak. piye mba? ada kesalahan genetika kah? hehehehe

    murni : tidak ada kesalahan gen, Pak.
    yang ada kesalahan lingkungan hehehe…
    btw, cara seperti itu juga OK.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: