murniramli

Penyusunan Kurikulum Sekolah di Jepang (1)

In Manajemen Sekolah, Pendidikan Jepang on Februari 15, 2008 at 1:02 pm

Bagaimanakah kurikulum di sekolah-sekolah Jepang disusun ? Dan apa saja yang diajarkan kepada anak-anak Jepang ? Saya menjawab pertanyaan ini dengan merangkumkan dari salah satu chapter buku yang direkomendasikan Prof Nanbu ketika suatu kali saya ingin mengetahui lebih banyak tentang administrasi pendidikan di Jepang.

Buku yang direkomendasikan Nanbu sensei berjudul Educational System and Administration in Japan, terbitan Kansai Society for Educational Administration pada tahun 1999.  Buku ini barangkali satu-satunya literatur berbahasa Inggris yang disusun oleh pakar pendidikan Jepang yang menceritakan tentang administrasi pendidikan di Jepang.  Penerbitannya dalam edisi yang sangat terbatas, dan hanya ada satu exempla di perpustakaan Fak. Pendidikan Nagoya University.

Seperti halnya di Indonesia, di Jepang pun kurikulum disusun oleh sebuah komite khusus dibawah kontrol Kementerian Pendidikan (MEXT).  Komisi Kurikulum terdiri dari wakil dari Teacher Union, praktisi dan pakar pendidikan, wakil dari kalangan industri, dan wakil MEXT.  Komisi ini bertugas mempelajari tujuan pendidikan Jepang yang terdapat dalam Fundamental Education Law (Kyouiku kihonhou), lalu menyesuaikannya dengan perkembangan yang terjadi baik di dalam maupun luar negeri.  Namun, karena unsur politik sangat kental mewarnai wakil-wakil yang duduk dalam komisi ini maka tak jarang terjadi perdebatan panjang terutama antara wakil teacher union dan wakil kementerian dalam penyusunan draft kurikulum.

Pembaharuan kurikulum di Jepang berlangsung setiap 10 tahun sekali, dan kurikulum terbaru yang diterbitkan di tahun 1998 adalah pembaharuan ketujuh sejak kurikulum yang diterapkan pada Perang Dunia II.

Kurikulum 1998 membawa angin baru dalam dunia pendidikan Jepang.  Kurikulum ini berbeda dengan kurikulum sebelumnya berdasarkan konsep yang dibawanya yaitu pendidikan yang berorientasi kepada pengembangan beragam personality siswa, bukan seperti sebelumnya yaitu common education, atau pendidikan yang sama untuk semua siswa.

Guru-guru di Jepang sejak perang percaya bahwa pendidikan harus bersifat massal dan sama, bahkan pendidikan yang menjurus kepada kekhasan tertentu atau menerapkan pola/metode yang lain daripada yang lain dianggap salah.  Guru-guru Jepang senantiasa menjaga image bahwa semua siswa harus memiliki prestasi yang sama, kedisiplinan yang sama dengan sistem pendidikan yang serupa.  Namun adanya kurikulum baru menyadarkan mereka bahwa setiap anak punya potensi yang berbeda dengan lainnya, dan inilah yang harus dibina.

Kurikulum yang baru bersifat fleksibel dan memungkinkan sekolah untuk meramu kurikulum sendiri berdasarkan kondisi daerah, sekolah dan siswa yang mendaftar. Sebagai contoh, di SMP, selain mata pelajaran wajib, siswa juga ditawarkan dengan mapel pilihan.

Dengan adanya kurikulum baru ini, training besar-besaran dilakukan untuk mengubah pola pikir guru-guru Jepang.  MEXT juga merevisi beberapa buku pelajaran, dan secara hampir bersamaan mengusulkan pemberlakuan 5 hari sekolah dan adanya jam khusus untuk pengembangan jiwa sosial siswa melalui integrated course atau sougoteki jikan.

Kurikulum di level sekolah disusun dengan kontrol penuh dari The Board of Education di Tingkat Prefectur dan municipal (distrik).  Karena kedua lembaga ini masih terkait erat dengan MEXT, maka pengembangan kurikulum Jepang masih sangat kental sifat sentralistiknya.  Namun rekomendasi yang dikeluarkan oleh Central Council for Education (chuuou shingi kyouiku kai) pada tahun 1997 memungkinkan sekolah berperan lebih banyak dalam pengembangan kurikulum di masa mendatang.

Beberapa hal berikut harus diperhatikan ketika sekolah menyusun kurikulumnya :
1.  Mengacu kepada standar kurikulum nasional
2. Mengutamakan keharmonisan pertumbuhan jasmani dan rohani siswa
3. Menyesuaikan dengan lingkungan sekitar
4. Memperhatikan step perkembangan siswa
5. Memperhatikan karakteristik course pendidikan/jurusan pada level SMA

Secara garis besar penyusunan kurikulum sekolah adalah sebagai berikut :
1. Menetapkan tujuan sekolah
2. Mempelajari standar kurikulum, dan korelasinya dengan tujuan sekolah
3. menyusun course wajib dan pilihan untuk SMP dan SMA
4. Mengalokasikan hari efektif sekolah dan jam belajar.

Iklan
  1. allow mbak murni,,salam kenal
    Saya juga seorang guru SMA Negri di jakarta
    kepengin sharing lebih banyak,apakah kurikulum model baru di jepang sudah dilaksanakan?
    Efektif ga?
    Di jakarta ada beberapa SMA yang sudah melaksanakan mobile class ,jadi ada pelajaran yang ditawarkan ke anak,,mau ambil atau ngga.
    ok sekian dulu perkenalannya…

    murni : salam kenal juga Mba Aulia.
    Kurikulum yg akan saya ceritakan di seri ke-2 tulisan ini sdh berjalan sejak th 2002, dan tahun ini muncul lagi pembaharuan baru dalam kurikulum Jepang, yg sebagian besar sudah saya singgung dalam tulisan yg lalu.
    moving class di Jepang tidak ada. tp ada pelajaran pilihan.

  2. Sistem Pendidikan Indonesia sudah bongkar pasang berkali kali dan mengcopy dari banyak negara, hasilnya akan selalu sama saja, yaitu pengangguran terdidik. Semua sekolah didunia, bentuk, sarana dan prasarananya tidak jauh berbeda. Bedanya pada budaya, masyarakat Indonesia yang berbudaya konsumtif kan tetap konsumtif. TIdak heran pertumbuhan ekonomi adalah pertumbuhan konsumsi, bukan produktifitas masyarakat. Pendidikan Indonesia harus merubah budaya konsumtif menjadi produktif, KADIN UMKM Jawa Timur menawarkan kerjasama dengan pendidikan dasar menengah sistem diklat untuk membangun budaya produktif dan kreatif hasil uji coba selama 10 tahun pada 10.000 pekerja diseluruh Indonesia. Info lebih jauh bisa membuka http://www.umkm-online.com

    murni : Pak, saya setuju dg pembelajaran wirausaha di sekolah agar siswa menjadi lebih produktif. Tapi sekolah jangan disamakan dengan pabrik untuk menghasilkan tenaga kerja 😀 Sekolah adalah lembaga untuk mendidik orang yg tidak terdidik menjadi terdidik 😀
    Pertumbuhan konsumtif penting untuk menyeimbangi sisi produktif. Ekonomi dan bisnis di Jepang maju karena jiwa konsumtif rakyatnya tinggi.
    terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.

  3. Mbak Murni, kata sensei saya kurikulum baru sudah ada di situs Mext, terbit tanggal 17 Januari 2008, tapi kalau dalam bentuk buku belum terbit. Menurut beliau ada beberapa perubahan yang signifikan, sayangnya saya belum membacanya sendiri, berhubung sampai sekarang gak bisa baca kanji, he he…mungkin Mbak Murni bisa mengeceknya di situs Mext.

    murni : ya, sudah pernah saya tulis di sini, https://murniramli.wordpress.com/2008/01/19/obsesi-negara-dalam-kompetisi-kepandaian/

    tapi belum detil. Waktu itu disiarkan di TV. Saya malah belum cek situs MEXT.

  4. Kalau di Indonesia kurikulum bisa berubah dalam waktu 2 tahun sebagai contoh dari KBK menjadi KTSP itupun tidak semua guru mengerti dengan perubahan tersebut. Ibaratnya baru setengah jalan mengerjakan sesuatu sudah harus kembali ke awal mengerjakan lagi sesuatu yang baru. Bagaimana hasilnya bisa terlihat selesai saja belum.

  5. halo mba’ murni…
    Mba’ ok bgt tuch kurikulum pendidikan jepang. Hmm… mmg saya juga stju dgn kurikulum pendidikan diindonesia “KTSP”. Tapi kayanya saya lebih setuju lagi kalau indonesia memberlakukan kurikulum yang sama dengan kurikulum yg ada d jepang, meskipun ga’ sepenuhnya…
    Mba’ murni tlong dong dilampirkan data-data kurikulum pendididkan jepang dari awal terbentuknya hingga kurikulumnya yang sekarang…
    Makasih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: