murniramli

Apakah atau siapakah yang membuat orang disiplin ?

In Renungan on Februari 17, 2008 at 10:44 am

Saya baru saja selesai menuntaskan rangkuman makalah seminar transportasi yang diadakan PPIJepang di Nagoya beberapa bulan yang lalu.  Artikel tersebut akan ditampilkan dalam majalah INOVASI ONLINE edisi 10.  Ada hal yang menarik yang saya tangkap dari uraian seorang pembicara pada saat seminar tersebut, Pak Heru Sutomo, dosen UGM yang kebetulan saat itu sedang mengikuti program visiting professor di universitas kami.

Dalam uraiannya beliau mengatakan bahwa dengan adanya busway, tabiat pengguna kendaraan umum terutama busway menjadi berubah.  Misalnya, disiplin mengantri, berpakaian rapih, tertib di dalam bis, dan barangkali perlu saya tambahkan, penumpang mengurangi kebiasaan mengobrolnya 😀

Saya menikmati busway di tahun-tahun pertama diberlakukan. Sebelum berangkat ke Jepang, tahun 2004, saya sempat beberapa kali menikmati busway yang menuju Thamrin, untuk mengurus tetek bengek beasiswa ke Jepang.  Seingat saya waktu itu, penumpang busway sangat sopan dan tertib.  Entah karena tegang, takut salah turun, atau memang mereka naik sendiri-sendiri dan tidak ada yang bisa diajak mengobrol ;-D

Di bank-bank orang juga sudah mengantri tertib, berdiri menunggu panggilan atau urutannya.  Di bandara, terutama untuk penerbangan internasional orang-orang juga berdiri rapih menunggu giliran saat mengurus imigrasi. Tapi sesekali masih terlihat antrian dari banyak arah saat check in di penerbangan domestik, apalagi saat boarding, semua seperti ingin berlomba masuk ke pesawat. Pas waktu ini, kelihatan model antri baris lurus ke belakang tak berlaku.

Budaya buang sampah masih belum kelihatan disiplinnya.  Sekalipun bagian penerbangan internasional, suasana bandaranya sangat bersih dengan kesiapsediaan petugas kebersihan sepanjang hari.  Tempat sampah juga sudah banyak, tetapi masih juga ada yang sengaja atau lupa meninggalkan cup starbuck di kursi tunggu setelah menyeruput habis kopinya.  Anehnya yang melakukan itu adalah seorang penumpang muda Jepang (kebetulan dia menelepon dalam bahasa Jepang).  Kata teman, banyak orang Jepang yang belajar `prinsip kebebasan` dengan baik sejak tinggal di Indonesia 😀

Di jalan raya, sopir-sopir tertib jika pak polisi berjaga siaga.  Tapi pak polisi kadang-kadang suka iseng main petak umpet, yang membuat sopir-sopir ingin mencoba apakah pak polisi benar berjaga atau tidak.

Jadi, apakah atau siapakah sebenarnya yang membuat kita disiplin ?

Kalau melihat contoh busway tadi, sistem dan lingkunganlah yang mendorong para penumpang berdisiplin.   Demikian pula di bank dan bandara. Kedisiplinan menggunakan fasilitas umum akan tetap ada jika penyelenggara sistem juga berdisiplin.  Supir-supir busway harus menjaga kenyamanan dengan tidak menimbulkan ketaknyamanan penumpang misalnya, merokok di bis, ngobrol dengan penumpang, dll.

Saya beberapa kali naik bis LORENA yang bertuliskan no smoking di kaca depan bis, tapi selalu saja supirnya merokok sambil membuka jendela kaca depan.  Atau supir-supir travel ber AC yang melakukan hal yang sama.  Penumpang pun akhirnya mengikuti.

Tiket-tiket tol diterima dan dibuang oleh supir.  Kenapa dibuang ? Karena akan mengotori mobil, katanya.  Tapi jalanan juga jadi penuh dengan sampah tiket. Tidak ada tempat sampah di lokasi pintu tol, alasannya.  Tapi kalau ada pun, apakah bisa dan mau membuang ke tempat sampah itu ?

Selain sistem dan lingkungan, pribadi-pribadilah yang paling menentukan dapatkah kedisiplinan itu dijunjung tinggi atau tidak.  Lalu, bagaimana agar pribadi2 itu berdisiplin ?  Semua pasti menengok ke sekolah. Pendidikannya harus begini, begitu. Guru-guru di sekolah tak kurang-kurang mengajari anak-anak tentang kedisiplinan.  Kurikulum kita sudah penuh dengan pengajaran tentang kedisiplinan.  Tapi orang dewasa yang ditemui anak-anak di jalan, di rumah, di pasar, di bank, di tempat bermain, semuanya tidak berdisiplin.

Menggerutu bahwa jalanan macet, selokan tersumbat, bau busuk di lokasi buang sampah, sungai yang kotor, anak-anak tawuran, anak-anak malas mengaji, anak-anak sukanya main game, malas belajar….dll, itu tidak perlu.  Mencari kambing hitam apalagi. Sangat tidak perlu.  Yang perlu dilakukan adalah kita sebagai orang dewasa harus mau berdisiplin.

Bagaimana kalau yang lainnya tidak disiplin ? Hanya kita saja yang semangat berdisiplin ?

Tidak apa-apa ! Yang penting anda sudah berdisiplin 😀

Ibda` bi nafsik….

Iklan
  1. mba murni, tadi saya melihat berita di TV, gara-gara kepala sekolah yang bertindak disiplin membuat 15 orang siswa mengamuk di sekolah dengan melempari kaca. Oknum siswa tersebut sekarang sudah mendekam di tahanan polisi. Saya sendiri setengah percaya kalau cuma gara-gara peraturan yang sengaja ditegakkan siswa bisa berbuat anarkis. Namun perlu juga diwaspadai apabila ini benar terjadi.

    murni : Kita perlu cek dulu kejadiannya dg benar.
    Pasti ada yg melatarbelakangi kenapa siswa mengamuk.
    Tidak mungkin tiba-tiba mengamuk.
    Sayangnya media kita lebih suka menampilkan berita `amuk`nya daripada
    menelaah kenapa bisa mengamuk ?

  2. Saya mau cari kambing putih ….. 😀

    murni : nanti aja pas hari raya kurban 😀

  3. Saya setuju, kedisiplinan hanya bisa dimulai dari diri sendiri, dari hal yang sedikit dan mulai dari SEKARANG!!!., tapi koq di Jepang semuanya disiplin?, bagaimana dengan hukumnya?, apakah reward-nya atau Consequency-nya?. Masih layak ga sih hukum yang diterbitkan di Indonesia, koq lama banget berubahnya, mestikah 100 tahun…

    Salam

    Ade Bachtiar

    murni : jawabannya ada di statemen awal komentar Pak Ade.

  4. Untuk masalah kebersihan, setahu saya orang Jepang tidak hanya peduli tapi sampai “terobsesi”. Konon hal itu nggak bisa dilepaskan dari mendarah dagingnya kredo Shinto yang sangat mementingkan kebersihan. Di sini agama sudah nggak laku, tapi meninggalkan “sistem kebiasaan” yang rigid. Orang yang nggak percaya lagi dengan tuhan-tuhannya pun tetap ke Jinja awal tahun.

    murni :
    >>Orang yang nggak percaya lagi dengan tuhan-tuhannya pun tetap ke Jinja awal tahun.

    itu buktinya mereka masih mengharapkan adanya pertolongan dari Yang Di Atas dan mengakui adanya kekuasaan Kamisama.
    Sama saja dg orang Islam yg tidak sholat dan tidak puasa, tetap saja dia berdoa memohon pertolongan Allah ketika pesawat yang ditumpanginya patah sayapnya 😀

    Saya tertarik dg konsep agama yang meninggalkan kebiasaan yg mendarah daging.
    Kenapa kredo Sinto bisa meninggalkan kebiasaan yg rigid ? Apk di dalam Budha juga tdk ada kredo kebersihan ?
    Lalu kenapa konsep kebersihan Islam yang masih dipeluk oleh 86% penduduk Indonesia tidak melahirkan kebiasaan yg rigid ?
    Jadi pengen tahu bagaimana Shinto diajarkan kepada orng Jepang dulu….

    Pak Ucok, barangkali bisa menuliskan kajian filosofinya ?
    Onegai…..

  5. Saya juga belum menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan itu, Bu Murni.

    Kalau menurut buku “The Ideals of the East” karangan Okakura (buku lama, ditulis awal abad ke-20), kepercayaan, pemikiran, dan kesenian Jepang adalah hasil bongkar-pasang, dan pencampuran banyak -isme; Shintoisme, Budhisme, Konfusianisme, Taoisme, dan Kristianitas bercampur di Jepang. Jadi mungkin hanya pada sedikit kasus bisa dikatakan bahwa suatu kebiasaan orang Jepang terbentuk dari pengaruh salah satu paham saja.

    Saya berpendapat obsesi terhadap kebersihan itu berasal dari Shintoisme hanya karena saya memperhatikan dua hal. Pertama, disyaratkannya berbasuh di tempat yang telah disediakan sebelum masuk jinja. Kedua, tradisi bersih-bersih besar (oosouji) di setiap pergantian musim atau tahun yang -tolong benarkan kalau saya salah- (dulunya) dilakukan agar dewa keberuntungan Shintoisme rela masuk dan roh-roh jahat Shintoisme terusir.

    Mengenai kenapa ajaran Islam tentang kebersihan nggak bisa menghasilkan kebiasaan yang kongkrit di Indonesia, saya juga heran. Mungkin karena pendidikan agama di Indonesia hanya mementingkan pengetahuan verbal, terutama di sekolah umum? Saya ingat dulu diajarkan bermacam-macam konsep dan cara dalam Islam lewat mata pelajaran agama di SD-SMA, tapi rasanya guru agama saya nggak pernah menyuruh kerja bakti membersihkan kelas, misalnya. Kesan saya dulu, urusan piket atau kerja bakti bersih-bersih itu “hanya” soal mengamalkan P-4, nggak ada hubungannya dengan agama. 🙂

    BTW, siapa tuh Pak Ucok? 🙂

  6. >>>Kesan saya dulu, urusan piket atau kerja bakti bersih-bersih itu “hanya” soal mengamalkan P-4, nggak ada hubungannya dengan agama. 🙂

    BTW, siapa tuh Pak Ucok? 🙂

    murni : la, berarti sama dg di Jepang.
    Urusan bersih2 yg dilakukan anak2 setiap hari setelah selesai jam sekolah juga ga pernah dikasih tau kalo itu hubungannya sama kredo Shinto 😀

    Oops, maap, saya salah, Pak Harahap 😀

  7. Assalamualaikum….

    Mbak ogenki? masih inget Kuma kan?
    Mbak, mo tanya apa di Nagoya ada tempat penampungan sampah seperti TPS atau TPA layaknya Indonesia ya Mbak?
    Seingat Kuma, Kuma belum pernah menjumpainya di Nagoya? Sampah-sampah yang diangkut itu pada dikemanain ya Mbak? Maklum Kuma lagi suntuk lihat tumpukan sampah di mana-mana di Surabaya.

    Wassalamualaikum

    murni : wa alaikum salam wrwb

    alhamdulillah, genki desu.
    Kuma, dulu selama ada di Nagoya belum pernah mengunjungi tempat recycle sampah ya ?
    Setiap jam2 tertentu di hari2 tertentu ada mobil yang keliling ngangkutin sampah. Mobil2 itu sekaligus dilengkapi dg alat penggiling/penghancur sampah. jadi sampah kita yg ditaruh di depan rumah, dilempar ke mobil dan alat gilingnya langsung bekerja. Sampah basah dibawa ke tempat pembuatan kompos/pupuk organik.
    Sampah plastik dibawa ke pabrik pembuat kain, plastik, atau bahan recycle lainnya. Kaleng2 dikirim ke pabrik kaleng. Botol2 dikirim ke pabrik botol.

    Nah, di Surabaya yang bisa Kuma coba adalah : ajak teman2 mahasiswa atau kelp pengajian u membuat movement ttg kesadaran persampahan. Buat proposal ttg pengolahan sampah, kerjasama dg anak2 fak. lingkungan, lalu kirim proposalnya ke pemkot. Ngga perlu demo2an tapi ya ! Kalau punya konsep yg mantap, pemkot akan terbantu.

    Mudah2an bisa membantu. Mulailah dari diri Kuma dulu, sudahkah membuang sampah dg benar ? 😀

  8. >> murni : la, berarti sama dg di Jepang.
    Urusan bersih2 yg dilakukan anak2 setiap hari setelah selesai jam sekolah juga ga pernah dikasih tau kalo itu hubungannya sama kredo Shinto
    *—————–

    sleepy:
    Benar Bu Murni, pemisahan antara negara dengan agama, sekularisasi, sudah berlangsung sejak akhir PD II . Sebagai salah satu implementasinya, di sekolah-sekolah publik tidak lagi diajarkan agama tertentu. Saya rasa Bu Murni yang punya banyak pengamatan langsung tentang hal ini. Saya sih hanya tahu teorinya saja. 🙂

    Tapi ketika saya mengatakan kecintaan orang Jepang kepada orang Jepang berasal dari pengaruh Shintoisme, yang jadi pusat perhatian saya adalah bagaimana hal tersebut bisa tertanam kokoh sebelum jaman sekulerisasi Jepang. Setahu saya pada saat itu orang Jepang sudah cinta kebersihan, dan menurut saya hal itu pasti nggak lepas dari pengaruh agama yang waktu itu masih dipeluk dengan serius. Kalau mengenai bagaimana kecintaan tersebut bisa bertahan sebagai “kecintaan” sekuler saat ini, saya rasa yang memegang peranan besar adalah norma-norma peninggalan konfusianisme seperti tidak boleh (baca: harus takut setakut-takutnya) mengganggu kepentingan orang banyak, berkelompok harus selalu harmonis, dsb, yang terpatri sejak kanak-kanak. Kalau saya nggak salah, hal-hal seperti itu diajarkan di mata pelajaran doutoku (budi pekerti) di SD -tentunya tanpa diberi label Konfusianisme-. Mungkin Bu Murni lebih tahu.

    Kembali ke kasus Indonesia, berbeda dengan Jepang yang sekarang ini cukup “mempertahankan” kedisiplinannya, Indonesia perlu melakukan “perubahan besar”. Saya rasa untuk Indonesia, yang rakyatnya serius terhadap agama, pengubahan cara pengajaran agama mungkin lambat laun bisa menghasilkan perubahan tersebut. Tentu saja kalau inginnya “lewat jalan tol”, harus dicoba pendekatan ala behaviorisme; ciptakan sistem hukuman dan imbalan yang berat seperti yang dilakukan negara-negara jiran. Mengenakan denda 1000 dollar untuk membuang sampah sembarangan, seperti Singapura, misalnya. Tapi buat saya perubahan karbitan tak mengakar seperti itu sih “nggak asyik”. Rasanya “nggak sreg” juga kalau yang berkembang adalah mentalitas seperti “kiyasu” Singapura; disiplin kalau sedang di dalam, “berengsek” kalau sedang di luar negeri.

  9. sleepy: Tapi ketika saya mengatakan kecintaan orang Jepang kepada orang Jepang berasal dari pengaruh Shintoisme… -deleted-
    ———————–

    Oalah, itu sih berasal dari drama-drama televisi kali ya. 🙂
    Sori, maksud saya “kecintaan orang Jepang kepada kebersihan”.

  10. Wah, saya senang sekali membaca ulasannya.
    benkyou ni narimashita 😀

    Saya masih ada pertanyaan sebenarnya, dulu ktk mengajarkan kedisiplinan kpd warganya di sekolah2
    agama atau sekolah publik apk Jepang juga menerapkan sistem punishment ya ? atau denda.

    Saya pernah membahas di salah satu tulisan bhw bebrp sekolah membuat peraturan sekolah dg melibatkan siswa, artinya hanya peraturan yg dpt diterima dan dipahami scr logis oleh siswa yg bisa diterapkan di sekolah, termasuk konsep mengganggu orang lain yg sangat2 tdk boleh.
    Jadi, dg kacamata pendidikan, saya melihat bhw sebuah aturan moral/norma hrs diajarkan hingga level pemahaman.
    Contoh : Guru tdk sekedar menjelaskan bahwa kebersihan adalah sebagian dr iman, sementara anak tidak tahu apa itu iman, kenapa hrs beriman, apa sangsinya jk tdk beriman, lalu, kenapa kebersihan menjadi bagian dari iman ????

    Hehehe….rasanya saya belum pernah juga diajar spt itu. Tp saya hafal pesan mulia itu dalam bahasa Arabnya sekalipun, karena sering keluar di ulangan agama 😀

    Saya setuju sistem denda nggak mempan diterapkan di Indonesia, selama hukumannya masih dg model bayar membayar (keburu masuk kantong petugas tamtib). Hukumannya mungkin hrs lebih kreatif, misalnya nyapu lapangan monas 😀 membersihkan selokan di RT/RW

  11. Hanya pendapat saja kok. 🙂

    Setahu saya, dulu pendeta-pendeta Budha Jepang juga menerapkan sistem hukuman ketika mengajarkan disiplin agama. Menggebuk pundak murid untuk mengajarinya mengosongkan pikiran ketika meditasi adalah satu contoh kecil yang masih sering ditayangkan di TV. Praktek ini kayaknya cukup umum dulu, sampai-sampai sekarangpun orang menggunakan kata “digebuk (tatakareru)” untuk mengatakan “digembleng”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: