murniramli

Tahun Akademik dan Sistem kenaikan kelas di Jepang

In Pendidikan Jepang, Penelitian Pendidikan on Februari 17, 2008 at 8:36 am

Tahun ajaran baru di sekolah-sekolah Jepang dimulai pada bulan April dan diakhiri pada bulan Maret tahun depannya.  Sistem ini berlaku sama dari mulai TK hingga Perguruan Tinggi.

Berbeda dengan Indonesia yang mengenal sistem dua semester, sekolah-sekolah di Jepang masih menggunakan sistem CAWU atau three terms, yaitu CAWU I dari April – Julu, CAWU II September- Desember, dan CAWU III dari bulan Januari hingga Maret.  Liburan terpanjang ada pada bulan Agustus-September, yaitu selama 40 hari (liburan musim panas).

Pada bulan September 1992, mulai diterapkan sistem 5 hari sekolah (Senin-Jumat), yang awalnya hanya diterapkan sekali sebulan, yaitu pada pekan pertama saja.  Kemudian sejak April 1995, diterapkan dua kali sebulan, yaitu pada pekan ke-2 dan pekan terakhir. Dengan sistem ini hari efektif sekolah selama setahun sebanyak 220 hari.  Angka ini tergolong tinggi dibandingkan dengan negara anggota OECD lainnya.

Usia 6 tahun adalah usia masuk SD.  Karena termasuk dalam pendidikan wajib, maka pemerintah setempat akan menghukum orang tua yang tidak menyekolahkan anaknya pada usia pendidikan wajib, yaitu tingkat SD dan SMP.

Jepang tidak mengenal sistem mengulang kelas.  Semua anak yang sudah menyelesaikan level atau kelas tertentu, secara otomatis naik ke kelas berikutnya. Sehingga setiap kelas akan berisi anak-anak dengan umur yang sama.

Sistem akselerasi atau kelas percepatan untuk anak pandai juga tidak ada di Jepang, tetapi pada tahun 1990, MEXT pernah mengeluarkan kebijakan untuk mengijinkan anak di bawah 18 tahun melanjutkan ke PT.  Kesempatan ini terutama diberikan kepada anak jenius di bidang matematika dan sains.

Namun kebijakan ini kelihatannya tidak berlanjut, karena asas homogenitas kelihatannya tetap kuat dipertahankan oleh para pendidik.

Iklan
  1. Terus bagaimana bu jika ada anak yang kurang menguasai pelajaran? menurut saya anak usia SD jangan ada yang tidak naik kelas, karena mungkin secara psikologis mempengaruhi mental anak. sebenarnya sistem kita pun demikian, tdk ada anak yang tidak naik kelas, karena tidak tuntas. prakteknya dilapangan sangat jauh berbeda. sekolah dan guru karena satu dan lain hal mereka tidak memberikan /memfasilitasi siswa yang lambat. solusi bagi anak tersebut adalah dikeluarkan atau disuruh pindah. menurut ibu bagaimana?

    murni : Ya, selama masih dalam program wajib belajar 9 tahun seharusnya memang tidak ada yang tinggal kelas.
    Tapi harus ada jaminan bahwa semua anak memiliki pemahaman minimal memenuhi standar. Tes di SD sekali-sekali boleh dilakukan untuk mengevaluasi apakah anak paham atau tidak. Bentuknya bisa macam-macam, apakah seperti ulangan atau memberikan studi kasus.
    Kebijakan untuk mengeluarkan atau memindahkan anak yg lambat menurut saya kurang tepat. Misalnya dengan dalih anak itu tidak cocok dg sistem sekolah bersangkutan, maka dia dikeluarkan. Semua sekolah semestinya diset untuk mendidik anak dengan kemampuan yang beragam, dan seharusnya ada peraturan yang mengatur tentang expulsion siswa yg dikeluarkan oleh pemerintah.

    • Saya tertarik mengenai bentuk hukuman apa yang diberikan pemerintah Jepang kepada orang tua yang tidak menyekolahkan anaknya. Apa ibu tahu?

      • @Pak Gilig : Saya juga tdk tahu pastinya. Tapi biasanya pihak kuyakusyo akan mendatangi keluarga yg punya anak seumuran SD, dan meminta mereka untuk mengirimkan anaknya ke sekolah. Kalau masih di Jepang, mungkin bisa tanya tetangga Jepangnya. Nanti saya tanya teman dan sensei saya 🙂

      • Seandainya di Indonesia pendidikan karakter bener2 terlaksana saya sepakat ada hukuman dari pemerintah bagi ortu yg tidak menyekolahkan di sekolah dasar. Namun kalau sistem yang ada masih jauh dari konsep pendidikan yang sebenarnya lebih baik home scholling aja! Kita gembar gembor dengan pendidikan karakter tapi masih ada UN. Amat disayangkan,

  2. Oh begitu ya mbak … di Jepang ngga ada ngulang kelas toh. Segitu aja kabarnya banyak murid SD yang bunuh diri di sana ya.

    murni :ya, kelihatannya bunuh diri bukan karena alasan pelajaran, tetapi kebanyakan karena di-ijime (bullying) sama temennya.

  3. APA D JEPANG JUGA ADA ujian nasional kayak d INDONESIA?? Trus d akhir semester ada liburnya juga gx?? atau libur panjangnya cuman pd libur musim panas aja??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: