murniramli

Inuyama dan kebijakan otonomi pendidikannya

In Pendidikan Jepang, Penelitian Pendidikan, Serba-Serbi Jepang on Februari 23, 2008 at 2:09 pm

Kemarin, di beberapa siaran berita di TV-TV Jepang disiarkan tentang pertikaian antara The Educational Board (kyouikuiinkai) dan pemerintah setempat Kota Inuyama.  Kota Inuyama adalah kota tua di Aichi yang terkenal dengan castle tuanya, Inuyama jou, dan berbagai peninggalan yang masih terpelihara dengan baik.

Pendidikan di Inuyama juga selalu menjadi sorotan karena beberapa sistem unik yang diterapkannya, misalnya beberapa tahun yang lalu membolehkan shakai in atau pegawai swasta untuk menjadi kepala sekolah yang sebenarnya sangat langka di Jepang.  Umumnya kepala sekolah di Jepang adalah orang-orang dengan latar belakang IKIP atau fakultas pendidikan.

Inti pertikaian adalah masalah pelaksanaan gakuryoku tesuto atau ujian kemampuan akademik siswa secara nasioanal.  MEXT mengeluarkan kebijakan baru tentang pelaksanaan ujian nasional untuk SD, SMP dan SMA dan dilaksanakan secara serentak pada tahun 2007.  Uji coba telah dilakukan di hampir seluruh Jepang sejak dan boleh dikatakan semua daerah menyetujui untuk mengadakan gakuryoku tesuto, tetapi Kyouikuiinkai Inuyama menolaknya dengan keras.  Karenanya sudah dua tahun berturut-turut anak-anak Inuyama tidak perlu pusing memikirkan ujian akhir nasional.

Kebijakan gakuryoku tesuto menurut MEXT dikeluarkan untuk menilai tingkat  (merangking) prestasi akademik siswa seluruh Jepang.  Pelaksanaannya dilimpahkan kepada kyouikuiinkai yang sekaligus dengan menerapkan kebijakan ini bermaksud untuk menetapkan rangking sekolah di level daerah.  Lalu setiap sekolah tentu saja mengadakan tes untuk menilai kemampuan siswanya.
Permasalahan muncul saat data hasil tes keluar, dan rangking sekolah mulai dipetakan.  Dikhawatirkan sekolah yang memiliki rangking yang rendah akan tidak diminati.  Lalu orang tua juga akan menolak kebijakan lokalisasi sekolah.  Hingga saat ini berlaku kebijakan bahwa anak harus bersekolah di sekolah tempat tinggalnya.  Misalnya anak yang tinggal di Kecamatan A harus bersekolah di SD dan SMP kecamatan A.

Selain keberatan terhadap permasalahan di atas, Kyouikuiinkai kota Inuyama juga berdalih bahwa keinginan pemerintah kota melaksanakan gakuryoku tesuto karena desakan dari MEXT (pusat), dan tidak mencerminkan otonomi daerah.  Dari 5 anggota kyouikuiinkai, tahun 2007 semua menyatakan menolak gakuryoku tesuto, sedangkan tahun ini, rasio suara adalah 2 setuju dan 3 menolak.

Anggota kyouikuiinkai kota Inuyama adalah pakar pendidikan dan tokoh masyarakat.  Seorang diantaranya adalah biksu di Inuyama, dan seorang lagi professor di Nagoya University, Nakajima Sensei.

Gakuryoku tesuto dianggap akan menimbulkan kompetisi dan pressure baru di kalangan siswa.  Dengan adanya sistem ini, pihak yang menolak berdalih bahwa guru-guru hanya akan sibuk mengajari anak bahan-bahan tes dan lupa pada esensi pendidikan.   Pendidikan yang menyenangkan akan kembali ke bentuknya seperti tahun-tahun sebelumnya yaitu pendidikan yang menakutkan dan membuat stress.

Tetapi pihak yang setuju berdalih bahwa mereka perlu mengetahui seberapa tinggi kemampuan akademik siswa, atau perlu melatih siswa untuk memiliki jiwa berkompetisi agar dapat survive dalam kompetisi di masyarakat.

Andaikan bisa menciptakan pendidikan yang menyenangkan, atau konsep yutori kyouiku tetap dilaksanakan sementara kemampuan akademik siswa pun bisa diukur dengan tidak menimbulkan pressure berlebih kepada siswa, barangkali akan aman-aman saja jalannya proses pendidikan, atau dapat dicapai kata sepakat antara wakil rakyat dan pemerintah.

Iklan
  1. wah, menarik sekali ya kasus diatas.

    ngomong2, ujian akademis tadi apakah semacam semesteran begitu ataukah seperti apa?

    o ya, apa benar kalau di jepang tidak ada ujian kelulusan? (Sd-SMa)

    murni : ujian yang dimaksud adalah ujian akhir untuk siswa SD kelas 6, SMP kelas 3 dan SMA kelas 3.
    Ujian akhir bukan untuk kelulusan. Penentu kelulusan selain dari penilaian berdasarkan nilai ulangan/tes harian juga penilaian sikap/kepribadian. Tapi pada dasarnya angka tidak lulus sangat rendah, krn jika seorang anak sudah menyelesaikan masa belajarnya di sebuah sekolah maka dia dianggap sudah menerima pendidikan yang standar sesuai usianya. Sehingga layak untuk diluluskan sekalipun nilai ujiannya jelek.

  2. Baguslah kalau ujian akademis itu dapat mencapai kata sepakat antara wakil rakyat dan pemerintah

  3. Saat ini terjadi reformasi pendidikan di Jepang dari aplikasi sains menuju sains murni. bagi kawan2 yang tertarik saya mempunyai ulasan artikel mengenai ini dari jurnal science. tidak hanya jepang juga China dengan perkembangan sains yang mengejutkan.

    Oh ya boss… webnya saya link

    Thanks.
    Baskoro Adi Prayitno
    Baskoroadiprayitno@yahoo.com
    http://www.baskoro1.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: