murniramli

Sekolah dan ilmu-ilmu dasar hidup

In Pendidikan Indonesia, Penelitian Pendidikan, Renungan, Sains on Maret 13, 2008 at 9:34 am

Setiap pulang ke Indonesia, saya selalu menyempatkan membeli buku-buku pemikiran pakar pendidikan kita tentang pengembangan pendidikan di Indonesia.  Ide-ide pakar kita sungguh sangat bagus, sayang sedikit yang diadopsi oleh pembuat keputusan di DIKNAS.

Salah satu buku yang terbit tahun 2000, Menggagas Paradigma Baru Pendidikan, dengan editor Bapak Sindhunata, hampir tuntas saya baca.  Buku ini merupakan kumpulan beberapa tulisan pakar pendidikan Indonesia kelahiran th 30-50an, termasuk sebuah tulisan Bapak Andi Hakim Nasution, berjudul Ilmu untuk Kehidupan dan Penghidupan.

Pak Andi yang sempat menjadi rektor IPB, termasuk ilmuwan idealis yang jarang dijumpai di negeri kita.  Saya ingat ketika menjadi mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama di IPB, beliau memberikan kuliah kepada sejumlah mahasiswa statistik di ruang terbuka, di samping ruang kelas P-1.  Sangat energik dan komunikatif.  Saya juga ingat tatkala menjadi rektor, salah satu aturan kedisiplinan yang beliau buat adalah larangan memakai sandal jepit ke kampus 😀

Tulisan Pak Andi Hakim benar-benar menelanjangi saya yang sudah melewati masa belajar kurang lebih 7 tahun di PT sejak S1 hingga S3. Apa yang beliau kemukakan adalah tentang lemahnya pemahaman ilmu-ilmu dasar tentang kehidupan dan untuk penghidupan yang dimiliki oleh anak-anak Indonesia yang duduk di bangku SD, SMP, SMA, bahkan mahasiswa di PT.

Ilmu-ilmu dasar tentang kehidupan itulah yang kita pelajari di tingkat pendidikan dasar dan menengah, Bahasa, Math, Biologi, Fisika, Kimia, IPS. Ilmu-ilmu dasar kehidupan akan sangat mudah kita dapati kasusnya di dunia nyata, seperti nyala lilin yang selalu ke atas sekalipun lilinnya dibalik, minyak yang meletup-letup ketika terpercik air di penggorengan panas,  cecak yang tidak jatuh saat merayap di dinding, atau nasi yang bisa dibuat jadi lem, atau perangko yang dijilat kemudian bisa menempel 😀

Suatu kali menurut Pak Andi, ada pertemuan sains yang mengundang pakar sains dari sebuah Universitas untuk menyampaikan ceramah sains kepada sekumpulan anak-anak SD dan SMP di sebuah desa di Jawa Barat.  Pada akhir acara anak-anak dipersilahkan bertanya apa saja.  Seorang anak bertanya, jika saya seorang astronot dan membawa kipas ke bulan kemudian saya kipas-kipaskan di luar pesawat, apakah akan terjadi angin ? Pertanyaan sederhana ini kemudian ditanyakan kepada guru-guru sains yang hadir sebelum dijawab oleh para pakar.  Guru-guru hanya tersenyum-senyum dan tak seorang pun bisa menjawab.

Salah satu bukti betapa lemahnya ilmu-ilmu dasar diajarkan di sekolah-sekolah kita.  Saya yakin bukan karena gurunya, tapi karena kesalahan beruntun yang terjadi dalam proses pembelajaran kita.  Pelajaran sains diajarkan dengan cara menghafal hasil penemuan Newton, bukan menganalisa kenapa Newton menemukan teori itu dan bagaimana penerapannya di alam.  Hukum energi Einstein pun hanya kita ingat karena itu yang akan ditanyakan di dalam lembar ujian 😀

Ilmu-ilmu dasar kehidupan itulah yang akan digunakan sebagai sarana hidup, sarana untuk memahami manusia lain, makhluk lain dan pada akhirnya bijak berlaku kepada mereka. Sebagaimana Allah mengharamkan liur anjing tetapi tidak menyuruh kita untuk membenci anjing. Allah mengharamkan sake, tetapi tidak menyuruh kita menghancurkan semua gandum.  Dia mengharamkan daging babi, tapi tidak menyuruh kita untuk membunuh babi-babi.

Ah….saya belum terlambat untuk kembali membaca buku sains SD 😀

Iklan
  1. Hmm….yah memang begitulah.

    Kita baru sampai pada taraf mengerti “apa” dari sesuatu dan belum sampai ke “mengapa”.

    Saya kira proses ini mandeg karena nggak adanya “passion” yang kuat sehingga kita mau untuk bersusah-susah menganalisa, bereksprimen dan memperbenturkan analisa fakta, kenyataan dan keyakinan kita sendiri.

    Tapi apa fenomena ini khas milik orang Indonesia saja yah?….

  2. sedari awal sikap menerima apa adanya, terwujud dalam pola asuh anak balita mengenali sebanyak-banyaknya,tanpa dirangsang/pancing kenapa khoq bisa atau harus demikian, ini (derman golek momongan/bikin repot inang pengasuhnya saja], yaa ini bahasa awam orang tua direpotkan cari nafkah soal merangsang dng. pertanyaan gugah nalar bocah hanya bikin susah dah, itu urusan diserahkan sama guru di sekolah…

Tinggalkan Balasan ke bisma Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: