murniramli

Pernahkah berterima kasih kepada sepatu ?

In Renungan on Maret 16, 2008 at 9:09 am

Saya menulis kata kata ini :
Saya lupa apakah pernah berterima kasih kepada ruang 325
Lantainya menua karena sepatu-sepatuku setiap hari meninggalkan jejaknya
Jendela kacanya berdebu karena tak sampai jangkauan tanganku padanya…

Saya pun lupa apakah sudah berterima kasih kepada sepatu yang setiap hari kuinjak….

di halaman katakata, halaman baru yang saya tambahkan di blog ini kemarin.

Kalimat di atas ingin saya kembangkan menjadi sebuah cerita tentang apresiasi orang Jepang terhadap benda mati yang telah berjasa bagi kehidupannya.

Akhir Maret ini, kereta Blue Train yang menyediakan fasilitas tempat tidur (sleeper train) sebanyak 14 atau 24 buah untuk para penumpangnya, akan dihentikan pengoperasiannya.  Kereta berwarna biru ini dikelola oleh JR (Japan Railway) untuk menghubungkan beberapa kota penting di Jepang dan hanya berangkat pada jam 23.00 dari daerah asal dan tiba pagi hari di daerah tujuan.

Blue train mulai diberlakukan oleh JR pada tahun 1965, menghubungkan antara kota Hakata (Fukuoka) dan Tokyo.  Kereta yang menyiapkan gerbong khusus restoran untuk menjamu penumpangnya plus tempat tidur bertingkat, atau satu tempat tidur di kamar khusus, menjadikannya sangat romantis pada tahun itu. Bahkan ornag-orang menyebutnya hotels on the move. Segera saja orang-orang Jepang menggemarinya dan menjadi sangat populer di tahun 1970 dan diabadikan dalam banyak kisah novel.

Kereta ini dihentikan karena JR saat ini tengah menggencarkan pemakaian shinkansen, kereta cepat yang bisa menghubungkan Tokyo-Kyushu, pulau terselatan Jepang dalam waktu hanya 4-5 jam.  Juga tentu saja karena penumpang semakin berharap kepada transportasi yang serba cepat dan lebih murah. Ini juga sebagai dampak privatisasi yang dilakukan di tubuh JR.  Jumlah penumpang blue train hanya 1/5 dari total penumpang transportasi lainnya.

Untuk menggantikan blue train yang akan dipensiunkan, maka JR mengoperasikan beberapa sleeper train express, misalnya The Sunrise Izumo seto yang menghubungkan Tokyo dengan Izumo (Shimane prefecture) dan Takamatsu (Kagawa Prefecture), juga Twilight Express yang menghubungkan Osaka dengan Sapporo (Hokkaido prefecture).

Yang menarik bagi saya adalah bagaimana orang Jepang mengekspresikan kesedihan dan penghargaanyya kepada kereta, sebuah benda mati yang telah berjasa dalam kehidupannya.

Beberapa waktu lalu, ratusan orang Jepang tengah malam berkumpul di stasiun Tokyo, saat JR mengumumkan pemberhentian operasi Blue train.  Mereka datang dengan pakaian bermacam-macam, bahkan ada yang sudah memakai piyama.  Kesempatan untuk menikmati perjalanan terakhir dengan Blue Train kelihatannya sangat mengesankan bagi orang Jepang, sehingga mereka dengan sabar antri, terutama kalangan tua untuk menaiki kereta.  Demikian pula di Osaka, penumpang yang turun tidak langsung pulang tapi mengabadikan body kereta yang sebentar lagi akan pensiun.

Pegawai JR berderet membungkuk, menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam, dan penumpang beberapa menitikkan air mata, mengucapkan terima kasih atas jasa sebuah kereta yang telah menciptakan sebuah kisah menarik dalam perjalanan hidup manusia.

Saya yang melihat kejadian itu di layar kaca tersentuh sekali.  Ya, banyak benda mati yang telah berjasa dalam hidup ini.  Kereta yang setiap hari mengantarku pergi ke kampus, ruanganku yang setiap saat rela kusambangi, tas kumal yang kulempar saja ketika usai kupakai.  Bahkan sepatu yang sudah membawaku melanglang bumi Jepang dan Indonesia.

Saya belum pernah mengucapkan terima kasih kepadanya….

Ucapan terima kasih barangkali tidak berarti apa-apa bagi mereka, sebab mungkin mereka tak mendengar. Tetapi sebagai bukti bahwa saya berterima kasih semestinya saya akan menjaga dan memakainya dengan baik.

Ah, jadi teringat bapak yang tidak mau melepas sepatu kets tuanya ke tukang loak.  Sepatu itu sudah berkali-kali dijahitnya, berganti sol, dari mulai yang tebal hingga tipis dan ini dikerjakannya sendiri. Masih juga tidak diberikan kepada tukang loak.  Malah sepatu baru yang dibelikan kakak diberikannya kepada orang lain. Saya mungkin belum seperti bapak dalam menghargai benda.

Iklan
  1. Wah, kalau di Indonesia bangga dengan roma – rombengan Malaysia – itu lho pakaian bekas yang diimpor lalu dijual lagi.
    kalau rojep, apa ya – rombengan jepang – apa masuk juga, misalnya PC atau laptop?

  2. Secara umum, urusan preservasi dan konservasi benda maupun nilai2, kita memang harus banyak belajar dari Jepang. Maaf dan nuwun, MSR

  3. wah……….kapan ya saya bisa ke jepang, supaya bisa liat langsung.

  4. Ups….jadi teringat sama sepatu saya juga.
    Kalau ngomong terimakasih langsung ke sepatu sih
    belum (dan kayaknya nggak umum ya? he..he..), tapi
    kalau selalu merawatnya, misalkan dengan mengelapnya setelah dipakai lalu menyimpan lagi di kardusnya sih lumayan sering. Cuma ini karena ‘take care’ sama si sepatu atau biar nggak sering-sering beli sepatu alias biar awet aja ya???

  5. Eleuh…mba Murni..
    mangkaning saya mah kalo dah bosen sama sepatu ya di plastikin, di iket trus ya unggu jadwal sampah benda2 kayak baju dan spatu bekas..^-^
    Tp emang ekspresif Nihonjin mah..dalam banyak hal gampang bercucuran…

    murni : termasuk urang Sunda 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: