murniramli

Murid bukan kuda, tetapi sapi

In Belajar Kepada Alam, Renungan on Maret 17, 2008 at 1:15 pm

Saya bersyukur setiap hari mendapat pelajaran berharga dari apa saja yang saya temui.  Termasuk kalimat di atas.  Kalimat itu bukan untuk membinatangkan murid, tetapi saya ingin mengisahkan bagaimana filsafat pendidikan yang saya pelajari hari ini.

Saya punya seorang murid bahasa Indonesia, dia seorang guru tari Bali.  Seperti biasa saya mengajarnya di hari Senin sore, satu jam saja.  Pembelajaran kami lebih kepada sebenarnya saling bercerita tentang negeri kami masing-masing dalam bahasa Indonesia yang cukup baik.  Dia sudah fasih berbahasa Indonesia, saya hanya bertugas membenahi beberapa kalimat yang salah sedikit dan memperkenalkannya dengan beberapa kosa kata.  Biasanya untuk tujuan ini, saya selalu meminta dia untuk menulis karangan atau bercerita.

Hari ini dia membuat karangan menarik tentang bagaimana dia belajar tari bali dulu.  Gurunya seorang seniman sejati, namanya Bopo Sijo (Sija) berusia sekitar 70 tahun, seorang tua yang sehari-hari pergi bertani, plus di waktu senggangnya menari, memainkan gamelan, mengukir, dan berbagai keahlian seni lainnya.

Bopo Sijo tidak punya sanggar tari khusus, yang ada hanya kebun kecil untuk menari.  Karena menganggap diri bukan sebagai guru barangkali, maka dia tidak mempunyai skedul khusus latihan.  Jika ingin menari, maka dia menari dan menyuruh murid-muridnya untuk tidak menirukan, tapi cukup melihat saja.  Setelah selesai menari, barulah dia pergi meninggalkan kebun, dan menyuruh muridnya menari.  Tentu saja murid tidak ingat semua gerakan tari.

Bopo Sijo pun tidak pernah menyuruh muridnya latihan.  Sekali waktu dia mengajak muridnya menari bersama, tetapi hanya sebentar.  Dan selanjutnya beliau tak pernah memberitahu kapan latihan selanjutnya.

Murid saya merasa bingung.  Sebab untuk menjadi mahir dengan model latihan seperti ini yang tidak jelas kapan mulai dan kapan selesainya akan memakan waktu yang lama.  Karenanya dia mencoba menarik perhatian Bopo dengan menari/latihan sendiri di kebun, agar terlihat oleh Bopo yang sedang memahat atau mengukir di seberang kebun.  Sayang Bopo tak pernah melirik sekalipun.  Tetapi dia tak putus asa, setiap hari dia menari, mengingat-ingat gerakan tari dan menyesuaikannya dengan alunan gamelan.

Pada suatu hari, Bopo akhirnya turun tangan menegurnya dan memperbaiki gerakan tarinya.  Sejak saat itu, dalam keadaan kesulitan murid saya selalu meminta kepada Bopo untuk mengajarinya.  Bopo kemudian mengatakan : “kamu bukan kuda, tetapi sapi !”

Saya, sama seperti murid saya tatkala mendengar kalimat itu, sama sekali tidak mengerti makna ucapan yang dalam ini.  Kenapa kuda, kenapa sapi ?

Kuda adalah binatang yang selalu dituntun oleh pemiliknya.  Dia selalu berada di belakang tuannya, sementara sapi, kalau kita perhatikan petani membajak, maka sapi selalu berada di depan, dan petani di belakang.

Jadi, begitulah konsep mengajar Bopo.  Dia tidak mau menuntun murid, tetapi meminta murid untuk menari dan menari terus hingga menyukainya kemudian jika sudah melihat kesungguhan, maka guru akan turun tangan membenarkan yang salah. Guru seharusnya mendorong dari arah belakang.

Konsep ini barangkali sama dengan pesan Ki Hajar Dewantoro, tutwuri handayani.
Saya jadi teringat dengan cara mengajar saya selama ini.  Sepertinya saya masih terlalu banyak memperkuda siswa, memaksanya pada sesuatu yang belum tentu dia sukai atau saya lupa mengajarkannya untuk mencintai ilmu yang akan ditekuninya.

Yang lebih membuat saya berdecak kagum adalah keengganan Bopo untuk dibayar sepeserpun atas jasanya ‘mengajari’ tari Bali. Pasti banyak Bopo-Bopo yang lain  di bumi Indonesia, yang tidak terhitung dan terdeteksi oleh pemerintah sebagai pahlawan pelestari budaya.

Iklan
  1. kalo tidak keliru, pesan Ki Hajar Dewantoro yg komplet ada 3:

    – ing ngarso sung tulodo (di ‘depan’ ngasih contoh)
    – ing madya mangun karso (di ‘tengah’ membangkitkan *semangat*)
    – tut wuri handayani (di ‘belakang’ ngasih dorongan)

    maaf bila saya keliru (^_^)

    salam,
    adi.n

    murni : ya….100 untuk paman Adi 😀

  2. btw, judul artikel ini bikin kaget

    terima kasih banget (^_^)

  3. Mantafff, setelah baca selesai baru paham 🙂

  4. seolah menggali mahzab lama terkubur zaman. gaya diatas bernama ngupadi ilmu, ngudi kawruh, ada di ufuk timur [East is exotic & mistery]
    di jepang edisi lawas pun ada [sebelum Meiji Restorasi ; zaman Samurai {ronin} dan Shogun]
    kalau di Nusantara, namana Meguru ke padepokan bertemu sang resi atau begawan di dalam cerita-2 pewayangan purwa.

    dimana niat/keinginan dorongan kuat timbul dari si murid sendiri, ngulandoro [melanglang buana] mencari “siapa” saja bisa penuhi “hasrat batin” buat di “ngengeri/berguru/disekolahi”

    guru/orang ngerti/tahu/berilmu, sulit dicari, karna tak menawarkan/menampakkan identitas diri…, malah dicari-cari….

    soal waktu tempuh, metode ajar dan ilmu bakal diperoleh sangat “relatif” tergantung kecerdasan &
    kemauan si murid semata juga kerelaan si guru kehidupan ;

    kelulusan bagaimana?
    bila dipandang “cukup & pantas” oleh sang guru/ dwija ; jadi amat2 sangat personalized; jaminannya apa..?
    personnel guaranti {kredibilitas padepokan & sang guru, esprit de corps amat2 sangat dijaga} karna setiap lulusan padepokan wajib hukumnya buan hanya membawa diri sendiri melainkan & juga menjaga nama baik perguruan

    satuan ukurannya bukan nilai raport & SKS, melainkan rasa dan karsa juga ketajaman intuisi
    membaca dan bersahabat mengerti akan alam. hasilnya sangat “kaya & beragam”, bukan seragam

    soal biayanya bagaimana….?
    jangan ditanya…. gratis…. .
    Knapa bisa?
    lha wong sa3 saling asah-asih-asuh dalam belajar
    bayarane ya soroh[serah] tenaga atau diambil menantu …hehehe…
    lha niatnya kan sama beribadah mencari kasampurnaning oerip/hidup buat sangu ngadep Illahi khoq… …
    barang siapa berilmu pake sendiri trancam neraka; dan barang siapa mencari ilmu, malaikat akan merentangkan sayap buat si fulan….
    tentu pertanyanan bikin kalau ditanya SPP-nya berapa?

    kematangan jiwa pembelajar tentu didapat,
    kesalehan sosialnya banyak terbukti
    keseragaman mutu, bisa dipertanyakan,
    mana ada di dunia ini yg sama? serupa, mungkin.

    knapa ada pertanyaan berapa lama & biaya?
    kali, mahzab pendidikan (biasa) dikenal dari barat serba terukur, sistematis, didaktis, logis {ragawi} ; abai akan tak terukur, emosi, kejiwaan {ruhani}

    harap di ingat, …
    barat tak mengalahkan timur, melainkan
    timur menyerahkan diri ke barat ;
    ngalah ora kudhu kalah…

    {barangkali lho ya mengingat zamannya kala itu, nyuwun pangapunten lho Ki..} …. Hadjar Dewantoro, itu mengawinkan/ menyandingkan budaya timur dan kultur barat

    mungkin ini sisi perbedaan dan persamaan pandang mazhab timur dan barat dalam pembelajaran pendidikan

  5. Iya ya.. ternyata saya juga sering mengudakan murid, ide anda kreatif, disajikan dengan mantaaaap. bolehkan saya kopi lalu saya tempel di blog saya?

    murni : silahkan, Pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: