murniramli

Kalau anak menangis

In Renungan, Serba-Serbi Jepang on Maret 29, 2008 at 9:32 am

Hari ini, saya kembali bekerja di misdo, setelah selama berhari-hari saya sengaja tidak mengisi jadwal kerja karena bermaksud menyelesaikan bab thesis yang saya rencanakan tunjukkan kepada sensei bulan April awal.  Lalu ada juga tulisan yang sedang saya siapkan untuk jurnal dan konferensi. Lama tidak bekerja membuat saya agak kurang cepat dalam mengerjakan sesuatu, tapi untungnya hanya di menit-menit awal.

Seorang tamu di toko kami hari ini datang membawa anaknya yang kira-kira masih berusia 2-3 tahun.  Sejak masuk ke toko, dia sudah menangis keras, dan tak berhenti hingga mereka menikmati donat yang dipesan.  Seperti biasa, pandangan aneh dan merasa terganganggu dari tamu-tamu yang lain tertuju kepada ayah dan si anak.  Mereka mulai gerah dengan suara tangisan yang memekakkan telinga.

Rekan kerja saya di depan juga wakil manager di belakang mulai gerah juga.  Maka diputuskan untuk menegur sang tamu dan dengan halus memintanya untuk keluar toko.  Dan dengan pasrah dan meminta maaf, si Bapak keluar menggendong anaknya.

Saya yang ada di belakang bersama teman yang juga orang Indonesia, tertawa.  Teringat kami kalau kejadiannya di Indonesia, barangkali tamu akan mengomel panjang lebar jika diusir dari toko.

Ya, anak menangis memang ‘fushigi’ (misteri).  Kadang-kadang anak menangis karena minta mainan, maka setelah mainan diberikan dia akan berhenti menangis.  Tapi apakah kita selalu tahu kenapa anak menangis ? Anak-anak yang belum jelas cara bicaranya belum bisa mengemukakan apa yang dia inginkan atau apa yang dia rasakan sehingga dia menangis, belum bisa menyampaikan apa maunya.  Dan kita pun orang dewasa sudah lupa kenapa kita menangis sewaktu kecil dulu.

Saya kadang-kadang menjumpai anak yang menangis di kereta/bis atau di keramaian, yang kadang-kadang membuat panik ibunya.  Kalau di Indonesia, biasanya saya cukup berani mendatangi si anak dan menanyainya atau membujuknya dengan memberikan permen atau makanan.  Tapi di Jepang, saya tidak berani mencobanya, karena khawatir disalahartikan oleh orang tuanya.

Tidak semua orang dewasa bisa memahami pula bahwa menangis itu normal untuk seorang anak.  Biasanya mereka tidak akan tahan dengan suara tangisan lewat dari 5 menit 😀  Selanjutnya pasti mereka menatap tajam ke arah anak dan ibunya. Yang biasanya membuat si anak makin ketakutan dan tambah kencang suara tangisnya.

Orang dewasa sudah lupa bahwa mereka pernah pula menjadi bayi.

Ketika anak menangis di toko/restoran, banyak hal yang bisa dilakukan sebenarnya, baik oleh si Ibu ataupun pelayan toko atau tamu yang lain.  Si Ibu tentunya paling tahu harus bagaimana, apakah harus menggendongnya sejenak atau membawanya keluar menghirup udara segar. Pelayan bisa menyodorkan mainan atau bantuan kepada si Ibu untuk menggendongkan jika ibu kerepotan.  Tamu-tamu yang lain pun seharusnya bisa melakukan hal yang sama.

Sayangnya, di Jepang tidak demikian.

Prinsip ‘tidak merepotkan’ orang lain sudah sangat menempel di kepala mereka, sehingga sekedar membantu si Ibu pun dianggapnya akan menimbulkan kerepotan bagi si Ibu. Ya, ada kalanya prinsip ini benar, tapi ada tempatnya pula dia harus dilupakan sejenak.

Iklan
  1. Mas/Mba sendiri RepOt ga tinggal disana?? atau jangan-jangan menangis juga 😀

  2. kalau sudah menangis, banyak sebab selaku ortu mesti ekstra untuk tau, menebak atau beralternative, maunya anak mungkin ini, biasanya ini, atau dialihkan dengan hal-hal yang menariknya hatinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: