murniramli

Mengapa kita tidak maju?

In Renungan on April 11, 2008 at 8:51 am

Saya kira banyak jawaban yang mungkin muncul atas pertanyaan di atas. Tapi saya ingin menekankan pada satu poin bahwa karena kita terlalu banyak mengeluh sehingga kita tidak maju.

Kenapa begitu ?

Ketika saya masih kuliah di IPB, saya mengeluhkan ujian setiap Sabtu di saat TPB. Saya mengeluhkan banyaknya laporan yang harus saya kumpulkan setiap minggu. Plus saya juga mengeluhkan praktikum yang berlangsung berhari-hari. Karenanya saya tidak begitu paham dengan ilmu benih sekarang ini. Jika mahasiswa yang semisal saya, banyak jumlahnya, maka perbenihan di Indonesia jelas tidak akan maju.

Ketika saya mengajar di pesantren, kadang-kadang saya mengeluhkan gajinya yang rendah. Dan itu tentu saja tidak hanya saya seorang. Tetapi lama-lama saya berfikir bahwa gaji tidak bisa berubah kecuali saya melakukan terobosan lain. Jadilah saya menerapkan ilmu pertanaman yang saya dapat di IPB dulu untuk mencukupi hidup, dengan mengelola taman Program Khusus IPB Baranangsiang dan menjadi staf di Kuljar DF. Saya pikir saya akan stress jika terus menerus memikirkan kecilnya gaji. Tapi ketika saya mencoba melupakan berapa yang saya terima per bulan dan mulai mengoptimalkan energi yang saya miliki untuk melakukan ini itu, maka saya tidak pernah mengkhawatirkan hidup, dan majulah saya.

Ketika sekarang menjadi mahasiswa di Jepang, saya mengeluhkan laporan dan aneka presentasi dalam bahasa Jepang. Karena seringnya mengeluh dan memikirkan yang belum terjadi, maka saya sering mengalami sakit kepala mendadak atau meriang atau mulas.

Saya mulai mencoba menghindari keluhan dan mengerjakan apa yang seharusnya saya kerjakan. Saya menutup telinga pada keluhan teman-teman yang stress menulis thesis di sekeliling saya. Saya juga radha cuek dengan obrolan teman-teman di ruang belajar dan terus saja menulis. Saya akhirnya maju satu langkah.

Ketika tahun berganti, saya mengeluhkan karena saya belum melakukan apa-apa, tapi kelihatannya karena terlalu banyak mengeluh dan berfikir, sehingga saya tidak maju.

Ketika sertifikasi guru diumumkan, semua guru mengeluh kenapa harus merepotkan guru. Kenapa harus mengulur kenaikan gaji guru dengan sertifikasi. Jadilah kita tidak pernah maju dalam mendidik.

Jadi saya tahu sekarang, bagaimana agar saya bisa melesat. Saya harus berhenti mengeluh dan mulai harus berfikir bahwa apa yang saya teliti adalah menarik dan harus berusaha membuatnya selalu menarik. Memang sulit membuat sesuatu yang susah menjadi nikmat bagaikan menyeruput teh manis di sore hari.

Iklan
  1. beruntunglah choi anda diberi kesempatan untuk tersadar dan berbenah diri dan lari menjauhi keluhan sehingga anda tidak memfosil dalam lingkungan keluhan yang berkepanjangan. dan sekarang anda bisa berbagi nasehat berbekal pengalaman pribadi, itulah buah dari perjuangan pribadi melawan hawa nafsu keegoisan.

    murni : ya, saya sangat beruntung, alhamdulillah

  2. bener banget pak , nyokkk kita sama-sama belajar memperbaiki diri
    semangatttt terus untuk membuat perubahan , dan mulailah dari diri sendiri dulu dan orang sekitar
    setuju pak ?

    murni : setuju, Mas

  3. sungguh ini pencerahan yang berharga, apalagi saya termasuk jenis ini, banyak mengeluh dan berkeluh kesah, ternyata jawabannya ada di sini.

    murni : pencerahan yang lebih baik niscaya ada di dalam kitabNya.
    Selamat berkarya, Pak

  4. Sikap sebagai reaksi atas “realitas” (saya beri tanda kutip), memang beragam. Setelah lelah mengasihani diri dan mengeluh ada yang beruntung seperti ibu dan beraksi secara positif, sebagian ada yang tenggelam lebih dalam menjadi pengumpat.
    Kadang saya khawatir, kekecewaan atau ketidak-puasan yang saya ekspresikan dengan berbagai cara seperti di blog, tidak lebih dari bentuk keputus-asaan dan ketidak mampuan menghadapi realitas (tampa tanda kutip) hidup . 😦

    murni : Pak Adi, menulis di blog sebenarnya kadang-kadang membantu kita untuk menemukan solusi
    ketidakpuasan. Dg memaparkan apa yg terjadi secara kronologis, bukankah kita mampu mengetahui di mana letak kekurangan itu, kenapa ketidakmampuan itu muncul. Jadi teruslah menulis 😀

  5. Berusaha mensyukuri atas semua anugrah yang kita terima dapat meminimalkan rasa keluh kesah terhadap kenyataan yang kita anggap pahit atau tidak sesuai dengan harapan.
    Bahagia, sedih, suka, atau pun duka memang menjadi bagian yang terpisahkan dalam hidup ini.
    Cara kita mensikapinya secara arif dan bijak adalah hal terpenting…

    murni : terima kasih atas nasihat bijaknya

  6. Assalamu`alaykum

    Salam kenal, sebelumnya …

    Justru, ketika saya bergabung dengan madrasah ibdtadiyah Nurul Iman, yang terletak di Jl. Karya Bakti, Kelurahan Tanah Baru, Depok, saya menemukan manusia-manusia yang tak kenal mengeluh …

    Insya Allah masih banyak manusia yang tak kenal mengeluh di negeri kita … hanya saja mereka tak naik ke permukaan …

    Wa`alaykumussalam,

    Agung

    murni : Waalaikum salam wrwb

    Salam kenal juga, Pak Agung.
    Ya. Orang yang Bapak sebutkan sangat banyak, dan saya yakin mereka lebih maju tanpa harus muncul di permukaan.

    Selamat berkarya,

    Wassalamu alaikum

  7. Mengeluh, ada dimana-mana
    Tak mengeluh, membuat kita bisa kemana-mana 😀

    murni : begitulah… 😀

  8. Se-7 ama dedit.

    “You can complain about something, you might even hate and shed a tear because of it. But you will get nowhere unless you’re unattached by it”.

    murni : terima kasih kata mutiaranya, Pak

  9. Ketika kita mulai mengeluh, kita membuka pintu hati mengundang kekuatan negatif semesta untuk mampir atau menetap dalam pikiran kita, memperkuat ketakutan- ketakutan kita dan membantu kita merealisasikan kedatangan hal-hal yang kita takutkan atau keluhkan tadi. Rugi Besaaaar !! Jadi pandanglah semuanya dengan lebih positif !!
    Saya senang dengan tulisan ini. Wassalam ..
    Bgm dirimu masih berkacamata tebalkah?

    murni : wuih….dalem banget pemaknaanya, Teh.
    Kacamata saya masih tetap sama, alhamdulillah tdk tambah minusnya.
    Masih lebih tipis drpd punya teteh hehehe…

  10. Mengeluh adalah sifat dasar manusia, dengan keluhan kita dapat memperbaiki diri. Hanya saja kita harus mengerti dan paham, kita seharusnya mengeluh kepada siapa. Seperti kalau kita sakit, kita seharusnya pergi ke klinik dokter terdekat, kemudian sesampai di hadapan dokter kita dapat “mengeluh” kepada dokter tentang sakit kita, dengan keluhan itu maka dokter segera menganalisa keluhan kita dan akhirnya memberikan solusi berupa resep obat yang harus kita tebus di apotik.
    begitu juga apabila kita mengeluh tentang kehidupan kita, ya kita harus mengeluh pada yang membuat kehidupan, sehingga kita diberikan solusi berupa “resep” yang berupa hidayah.
    Semoga kita semakin banyak keluhan, karena keluhan merupakan salah satu parameter kalau kita masih menjadi manusia.

  11. ibu ini cocok juga jadi motivator, he
    salam kenal

  12. yupz

    masih remaja seperti saya apalagi banyak banget yang dikeluhkan!!

    tapi setelah membaca ini sedikitnya ujian tadi pagi yang selalu saya keluhkan dan fikirkan sampe sakit kepala, bisa sedikit berkurang.

    ibu juga seorang guru?
    bisa membagi tipsnya cara menjadi seseoarng yang lebih baik kelak kedepannya, krn sayapun merupakan calon guru??
    dan tipz gimana caranya bisa dapet beasiswa ke jepang??

    -Thx-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: