murniramli

Pemikir, Karya dan Sejarahnya

In Manajemen Sekolah, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Jepang, Penelitian Pendidikan on April 26, 2008 at 12:09 pm

Seharusnya kredit kuliah saya sudah sangat berlebih dan tahun ini harus bergiat menulis thesis agar bisa lulus tahun depan. Tidak ada kewajiban kuliah atau seminar lagi, tapi saya tidak tahan untuk duduk saja menulis, akhirnya dua kelas seminar saya ambil tahun ini. Salah satunya manajemen sekolah. Saya sudah tiga kali mengambil kelas ini dan tidak pernah merasa bosan dengan materi yang disampaikan. Selalu saja ada yang baru menurut saya, sekalipun ilmu yang disampaikan sama.

Pekan ini kami kembali membahas tentang teori manajemen dan pembelajaran dalam organisasi. Seperti biasa kuliah dimulai dengan definisi dari berbagai pakar. Mulai dari pendapat pemikir Jepang, seperti Urabe Kunio (1980), Kouno Kazukiyo (河野和清) di tahun 1979、 atau Sako Hidekazu (佐古秀ー) di tahun 2005 hingga pendapat pemikir Barat, W.L French & C.H. Bell Jr. di tahun 1973, atau pemikir di bidang organizational learning seperti Warren G. Bennis di tahun 1925, E. H. Shein di tahun 1928, dan C. Argyris di tahun 1923.

Saya tertarik dengan penyajian yang disampaikan oleh Prof. Nambu Hatsuyo karena detilnya dia memaparkan dan mengkritisi setiap pakar, dan ketelitiannya untuk mendalami pendapat pakar berdasarkan latar belakang pendidikannya dan jamannya.

Kita seringkali luput dari menilai pendapat orang dengan mencermati latar belakang pendidikannya, pun di mana dia dididik, dengan ilmuwan siapa dia bergaul. Sebuah nasehat Nabi SAW sangat mengena dengan topik ini, beliau berkata bahwa seseorang dikenali dari sahabat-sahabatnya. Pesan ini tentu saja bisa dimultitafsirkan dari sudut manapun kita melihatnya.

Masing-masing ilmuwan menyampaikan definisi originalnya tentang apa itu pengembangan manajemen (組織開発) atau apa itu pembelajaran dalam organisasi (組織学習). Dari kesemua pendapat tidak ada yang bisa disalahkan, dan sangatlah menguras energi untuk membantah suatu definisi di bidang ilmu sosial yang sangat tak jelas pagar berfikirnya. Kecenderungan kita untuk membenarkan sebuah definisi hanyalah terjadi karena sense interest yang disebabkan karena latar belakang yang sama dengan pencetus ide.

Yang sangat menarik pula adalah ketekunan mempelajari polemik dalam sebuah gagasan secara berkesinambungan, dan kemauan keras untuk merunut sejarahnya.

Saya mengalami stagnansi dalam menulis paper . Selama berminggu-minggu saya mencoba menulis dan mengumpulkan literatur yang sedemikian mudahnya di akses di internet. JSTOR, SAGE, dan Science Direct menjadi tempat yang paling sering saya kunjungi karena kayanya jurnal-jurnal yang mereka tawarkan dengan free. Setelah merunut dan mengelompokkan ratusan artikel tahun 90-an hingga 2000-an, ke dalam keyword tertentu, kemudian mencoba membaca dan merangkum masing-masing gagasan, saya terbentur pada pusaran yang saya tidak tahu di mana ujungnya.

Berkali-kali tulisan yang sudah saya buat saya baca, tetapi selalu ada pikiran bahwa saya sebenarnya tidak tahu siapa dan kenapa dia berpendapat demikian. Akhirnya saya putuskan menelusuri sejarah pendidikan Indonesia, agar saya memahami akar masalah pendidikan di Indonesia melalui pemikiran pakar pendidikan tentang nasib dan visi pendidikan di masa kolonial dan tahun-tahun pasca kemerdekaan. Sayangnya lebih banyak tulisan pakar asing yang saya dapati daripada tulisan orang Indonesia sendiri. Saya tidak bisa menangkap polemik berpendapat di era itu. Buku-buku di tahun 40-an seharusnya menarik jika saya baca.

Saya coba search di Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Diknas, tapi sayang tidak berhasil menemukan benang merah kekonsistenan berkarya pakar kita. Barangkali saya harus masuk ke perpustakaan kampus untuk menggali ilmu-ilmu mereka. Sayangnya tidak dengan mudah saya bisa pulang ke Indonesia.

Banyak pakar pendidikan di negara kita, buku-buku pendidikan pun bertebaran dan rasanya lebih banyak diproduksi pasca 1997 yang menandai era reformasi. Tetapi sungguh karena pendidikan sangat luas, saya tidak berhasil menemukan kekonsistenan seorang pakar menulis sebuah area dalam dunia pendidikan. Misalnya saya tidak tahu siapa pakar SMA yang mendalami pengembangan pendidikan menengah di Indonesia secara konsisten, atau siapa yang menggeluti studi manajemen pendidikan dasar di Indonesia secara intens. Tulisan di jurnal-jurnal ilmiah tentang pendidikan di Indonesia yang ditulis oleh orang Indonesia, kebanyakan adalah analisa proyek pendidikan yang didanai pihak luar.

Saya pun menemukan perbedaan pola berfikir kita dengan orang Jepang terhadap perkembangan sebuah ilmu. Andaikan pohon, orang Jepang sangat kuat di bagian akarnya yang karenanya kuat pula cabang-cabangnya. Tidak sulit untuk menelusuri perkembangan ilmu sosial di Jepang karena kekonsistenan merujuk kepada pemikiran awal pakar-pakarnya. Pemikiran-pemikiran dan karya sangat rapih direkam dalam buku.

Pemerintah kita kelihatannya harus mulai menggalakkan upaya ke penguatan akar, dengan mendanai studi-studi untuk merekam perkembangan sejarah pendidikan di Indonesia. Jika tidak bisa melakukannya secara menyeluruh karena luasnya negara kita, maka dorongan kepada pemerintah daerah untuk membukukan sejarah kependidikan, pemikiran kependidikan di daerah adalah jalan tengah.

Iklan
  1. Mbak Murni sudah sejak lama (mungkin setahun terakhir) saya ikuti blog ini. Saya sangat tertarik dengan pengalaman dan khususnya soal pemikir, karya, dan sejarahnya. Yang jelas hingga era reformasi ini di Indonesia orang-orang berlatar belakang pendidikan sosial kurang laku deh. Yang laku mah yg berpendidikan teknik, ekonomi (ini ilmu sosial setengah murni), atau yah bidang komunikasi lah. Kita memang lemah pada akar.
    Ganbatte
    Adityas

    murni : salam kenal, Pak.
    Terima kasih atas kunjungannya ke blog ini.
    Ya, komunitas keahlian harus dikembangkan di Indonesia melalui forum ilmiah yang berkesinambungan.

  2. Mbak Murni, saya sudah tinggalkan balasan di Tulisannya mengenai Taman Kanak-kanak, saya ingin menanggapi yang ini juga.

    Ada ungkapan “Dunia ini Panggung Sandiwara”, saya rasa hal ini sangat dirasakan kebenarannya di Dunia Pendidikan di Indonesia. Kita sebetulnya punya Pakar yang banyak di bidang ini, namun menurut saya yang “Bersuara Baik” seimbang dengan yang “Punya Kepentingan Sendiri”, jadi walaupun banyak pakar dan sudah menjadi rahasia umum mengenai pemecahan dan jalan keluarnya, tapi mengapa masih belum berubah ? kita hanya disibukkan dengan issue dana BOS, hasil UAN dan Sertifikasi Guru dan sebagainya. Mungkinkah dunia pendidikan di Indonesia memang sedang dijadikan sekedar “Panggung” karena kepentingan2 tertentu ? apakah ada pihak yang bersuka-hati dengan keadaan sekarang ??? Manusia Indonesia tidak berkembang menjadi “Manusia Seutuhnya”, bahkan mayoritas otaknya saja lebih berkembang yang kiri daripada yang kanan, atau bahkan tidak berkembang dua-duanya oleh karenanya masih banyak pengangguran dan kemiskinan dan kalau kaya + pinter lebih suka yang berbau luar negri.

    murni : Mba Heni, seperti itulah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: