murniramli

Panda dan kepekaan orang Jepang

In Serba-Serbi Jepang on Mei 4, 2008 at 11:27 am

Beberapa hari ini berita di TV dipenuhi dengan laporan tentang kematian seekor panda bernama Rin-rin di kebun binatang Ueno, Tokyo. Pagi tadi berita lengkap tentang sejarah per-panda-an di Jepang dikupas habis dan saya belajar sesuatu hal tentang empati dan kepekaan.

36 tahun yang lalu, orang Jepang sangat penasaran dengan binatang panda, sekalipun panda ada di negara China sesama Asia Timur. Ketika pemerintah mendapatkan hadiah panda dari China pada tahun 1982, ratusan orang Jepang menunggu di pelabuhan/ bandara (?) kedatangan panda pertama yang bernama Kang kang dan Lan lan. Sekitar 700 ribu orang berderet panjang di sepanjang jalan menuju kebun binatang Ueno tatkala panda diperlihatkan kepada khalayak. Tetsuko Kuroyanagi, si Toto chan diwawancarai tentang kejadian saat itu, karena dia termasuk salah satu penunggu kedatangan panda di pelabuhan.

Kebun binatang Ueno mendapat kunjungan 3.5 juta orang setiap tahunnya dan sebagian besar pengunjung mempunyai satu tujuan yaitu ingin melihat panda. Beberapa pengunjung mengatakan kebun binatang Ueno tidak berarti apa-apa tanpa dengan kematian Ling-ling, si panda yang paling digemari. Ling-ling berumur 22 tahun 7 bulan atau sama dengan 70 tahun umur manusia. Dia juga merupakan panda tertua kelima di dunia.

Pemerintah Jepang sedang bernegoisasi dengan pemerintah Cina untuk meminjam panda baru yang akan ditempatkan di Kebun binatang Ueno. Ada sekitar 8 panda lainnya di kebun binatang yang tersebar di seluruh Jepang sebagai pinjaman dari pemerintah China.

Kematian Ling-ling membawa kesedihan bagi orang Jepang, berbondong-bondong mereka mendatangi Ueno, dan menaruh bunga di depan foto besar Ling-ling dan menuliskan pesan di buku tamu. Anak-anak kecil dan orang tua terlihat sesenggukan mengantar kepergian Ling-ling. Seekor panda telah menunjukkan betapa pekanya perasaan rakyat Jepang.

Tetapi saya merasakan kepekaan mereka berbeda dengan kepekaan yang sering saya jumpai di lingkungan saya di Indonesia. Dibandingkan dengan kepekaan atau kasih sayang kepada binatang, tetangga-tetangga saya kelihatannya lebih peka dan berempati terhadap sesama manusia.

Kadang saya tidak habis pikir dengan kebiasaan orang Jepang menghamburkan sedemikian banyak uang untuk memanjakan hewan peliharaanya sementara tetangga di kiri kanannya kurang mampu. Ya, di Indonesia mungkin ada yang lebih parah. Tapi barangkali karena keengganan mengganggu satu sama lain yang menjadi prinsip orang Jepang yang menghalangi mereka untuk membantu sesamanya dan jika hartanya dimanfaatkan untuk hewan piaraan memang tidak ada yang merasa terganggu.

Tapi bagaimanapun, kepekaan kepada sesama manusia, kepada makhluk hidup atau mati adalah sifat yang akan membuat kita menjadi semakin bijak sebagai khalifah di bumi ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: