murniramli

Kenapa guru no comment ?

In Serba-Serbi Jepang on Mei 10, 2008 at 1:47 pm

Tidak hanya dalam sidang-sidang MPR atau DPR, dalam rapat dewan guru sering kita jumpai keengganan guru berkomentar.  Seperti kalimat jargon 3D : datang duduk diam, maka dalam rapat guru kebiasaan bicara hanya dimiliki oleh paling tidak satu atau dua orang guru saja.

Apakah guru yang diam itu tidak mengerti apa-apa, pro kemapanan dan apakah guru-guru yang menguasai sidang adalah guru-guru yang sebaliknya ?  Belum tentu.

Ketidakbisaan berpendapat atau kemalasan berpendapat bisa disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya, perasaan malu, ketidaktahuan, keletihan bekerja sehingga otak tidak bekerja dengan baik, ketidakminatan kepada permasalahan, atau memiliki tenggang rasa yang besar sehingga lebih banyak mendengar dan menunda-nunda komentar hingga waktu sidang/rapat habis 😀

Bagaimana mengorek supaya guru mau berbicara ? Tentu saja kita harus mengetahui permasalahannya kenapa dia tidak mau berbicara.  Jika karena malu, maka sistem paper comment bisa diterapkan.  Jika karena ketidaktahuan atau tidak minat, maka mereka harus diberitahu melalui beberapa cara sebagai stimulator, misalnya mewajibkan membaca buku yang terkait, menyebarkan fotokopi kliping surat kabar, majalah, dll, mengajak menonton rekaman video kasus atau pemecahan masalah terkait, mengundang nara sumber.

Langkah lain yang bisa ditempuh adalah membiasakan guru untuk terus belajar melalui Team Belajar Guru (TBG) .  Melalui TBG, tema utama rapat dapat dipecah-pecah dalam sub topik dan disampaikan beberapa minggu sebelum rapat, lalu guru membicarakannya per group.

Suasana rapat sekali waktu perlu diubah, misalnya dilakukan di alam bebas sambil membawa keluarga masing-masing. Dengan kondisi yang tanpa stress (ruang guru dan ruang rapat guru kadang-kadang membuat stress 😀  ) guru akan lebih mudah berbicara secara `honne` (jujur).

Iklan
  1. Agar ada kemajuan performance dalam profesi guru perlu ada upaya pengembangan 3 As (Kubik leadershipnya-mas Jamil) bagi guru. Tidak sedikit guru yang jauh dari suasana “kerja kerAS, iklAs n cerdAs”. 3As itu harus dibudayakan, diharuskan dan difasilitasi oleh instansi. Menyatukan 3 As diharapkan mengefisienkan pemanfaatan waktu bagi mereka untuk meningkatkan valensi berpikirnya. Lebih menyedihkan karena guru diam bukan hanya karena setuju
    (kaya gadis dipinang saja he .. he …) tapi karena dia benar benar tidak conect, alias tidak dapat menggunakan potensi olah pikir tadi, mengaitkan fakta, sejarah dan potensi dirinya untuk memunculkan sebuah sikap dalam berpendapat. Bila gurunya saja terkungkung dalan atmosfir kebisuan, bagaimana mereka mendidik murid-murid penerus bangsa ini untuk trampil “berkata-kata”?

  2. menambahi alasan barangkali…
    knapa rapat dewan guru pada “tenang & diem”…

    barangkali wal mungkin bisa karena terbiasa begitu.. dan menikmatinya,

    jadi radha susah kalau “kondisi” itu dibalik/ “dominan” kebalik menjadi “resesif” [biasa memberitahu dan menanyakan] ; kalau tiba-tiba dibalik menjadi Tak Biasa alias LUAR BIASA [harus mencari tahu dan bertanya] ….??? coba…

    jadi ada unsur retensi psikologis “sungkan”, kalau “keliru”, kan malu ku pada moerid2 koe/atao rekan sesama goeroe], {…intelektual..}… Kamu ketahuan….

    wal enggan berstatus “jadi murid” kenbali
    kan di kelas guru adalah “raja” tunggal tak ter – bantahkan titahnya, [lha kalau [“para raja”] pada berkumpul dan masih dibawah Sang Kaisar [instruktur]

    atau malah buat yang berbicara aktif [sesuai keinginan toelisan diatas, suka dietjap sebagai sosok “suka pamer/kepinteren/sombong” oleh
    mereka makmuman yang lebih memilih diem
    & menunggu acara usai ….

    mboten sae lho/jangan berburuk sangka dahulu…
    …Bila gurunya saja terkungkung dalan atmosfir kebisuan, bagaimana mereka mendidik murid- murid penerus bangsa ini untuk trampil “berkata-kata”?…..

    karena guru, harus >unggul daripada bukan guru,
    karena guru sebenarnya tlah berpikir cepat dan mensikapi dengan tepat juga cermat atawa barangkali padha ngelakoni ilmu dan bersikap menjalankan budaya kultur melayoe bahwa
    “diem adalah emas” pun sebaliknya
    “tong kosong nyaring bunyinya”

    buah pelajaran sastra melayoe-melayoe ..cerdas bukan….hahaha….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: