murniramli

Kelas Excellent

In Pendidikan Indonesia, Penelitian Pendidikan on Mei 22, 2008 at 12:58 pm

Beberapa waktu yang lalu di blog ini ada pertanyaan dari Bapak Dodik Priyambada di sini tentang kelas excellent. Saya berjanji menjawabnya dalam bentuk tulisan. Kebetulan hari ini saya mengikuti kelas tentang Neo liberalisme di Jepang. Dan dalam perjalanan menuju tempat mengajar, sempat membaca tulisan David Hursh yang banyak menulis tentang Neo liberalisme dan dampaknya di dunia pendidikan di Amerika. Setelah membaca tulisan tersebut, saya menyadari adanya keterpautan antara kelas excellent dengan neo liberalisme.

Kalau tidak salah, kelas excellent adalah kelas yang berisikan anak-anak unggul dari segi akademik atau kemampuan nalar. Kelas ini dalam istilah yang lain sering disebut kelas akselerasi. Materi belajarnya menurut seorang guru di sebuah SMP yang pernah saya wawancarai, pada prinsipnya sama dengan kelas reguler tetapi lebih dipercepat dan diperkaya dari segi isinya.

Beberapa pakar menolak keberadaan kelas akselerasi atau kelas excellent dengan alasan bahwa pendidikan dari segi isinya harus dibuat equal, artinya semua siswa berhak mendapatkannya. Dengan pengelompokkan semacam ini maka siswa sudah mulai dikenalkan dengan adanya perbedaan antara yang berotak brilian dengan yang berotak cerdas. Tentu saja secara psikologis ada dampak negatif yang akan muncul.

Tetapi kenapa sebenarnya muncul ide pengelompokan ? Saya mencoba melihatnya dari kaca mata neo liberalisme. Dengan berubahnya paradigma pengelolaan pelayanan publik di tahun 1970an, yaitu dari konsep yang menghamburkan uang kepada konsep menghemat budget, dari konsep sentralisasi menjadi konsep desentralisasi, dan dari konsep pendidikan berorientasi anak menjadi pendidikan yang berorientasi pasar, maka sekolah-sekolah menjadi alat ekonomi.

Fungsi sekolah adalah sebagai produsen industri dalam menyediakan tenaga kerja. Yang karenanya, lulusan sekolah pun harus melewati standardisasi yang dibuat oleh pakar ekonomi, dan bukan pakar pendidikan. Sama seperti di Indonesia, di beberapa sekolah di Amerika, guru-guru pun ditekan untuk mengajarkan materi belajar sesuai dengan bahan ujian standardisasi. Mereka dipaksa untuk memperoleh nilai bagus agar dengan hasil itu kepercayaan publik meningkat. Tetapi siapa sebenarnya yang membuat publik setuju dengan konsep standardisasi ? Lagi-lagi pakar ekonomi (ini menurut Hursh).

Kelas excellent adalah juga untuk memenuhi permintaan pasar. Anak-anak yang dipaksa untuk menggunakan talenta kecerdasannya untuk memenuhi keinginan beberapa pihak tertentu yang menginginkan sekelompok Einstein baru lahir dari sekolah-sekolah dasar dan menengah. Mereka-merekalah yang kelak akan dididik di universitas bergengsi untuk menjadi pekerja di perusahaan bergengsi pula. Hursh bahkan menyebutkan bahwa pasca Fordism, terlihat nyata kolaborasi antara pemerintah, sekolah (Perguruan Tinggi) dan perusahaan.

Sayangnya anak-anak yang cerdas secara akademik itu seharusnya dididik pula untuk menjadi manusia normal. Seperti kata McNeil yang dikutip oleh Hursh, bahwa peran siswa sebagai kontributor utama di dalam proses belajar mengajar, yaitu sebagai pemikir, manusia biasa yang mempunyai pengalaman hidup dan keseharian yang seharusnya digali dan dicernanya di ruang kelas dengan bimbingan guru, menjadi tidak bermakna apa-apa dengan program yang mengejar standard excellent.

Saya berpendapat bahwa penamaan kelas excellent seharusnya diberikan untuk kelas yang siswanya mengalami kesulitan dan kelambatan dalam pemahaman atau kelas rata-rata, yang dengan kepandaian dan kebijaksanaan pengajaran guru-gurunya bisa membawa semua anak merasakan nikmatnya menjadi orang terdidik.

Kelas excellent harus memberikan materi pelajaran hidup, yang mengantarkan siswa untuk menjadi manusia yang berkembang fisik, jiwa/naluri dan akalnya. Dan untuk keperluan ini siswa tidak perlu dipaksa mengikuti segala tetek bengek standardisasi achievement, tetapi dia dianggap sudah mengikuti pendidikan yang terstandar, memadai untuk keperluan hidup selanjutnya.

Iklan
  1. “Kelas excellent harus memberikan materi pelajaran hidup, yang mengantarkan siswa untuk menjadi manusia yang berkembang fisik, jiwa/naluri dan akalnya. Dan untuk keperluan ini siswa tidak perlu dipaksa mengikuti segala tetek bengek standardisasi achievement,…..”

    setuju sekali saya dengan pendapatnya mbak Murni

  2. Bu Murni, saya sependapat dengan anda. Saya tetap menjadi anggota pembentukan Excellent Class di sekolah di mana saya sebagai salah satu anggota Komite Sekolah. Saya akan coba cari titik temu pro dan kontra tentang excellent class.

    Salam,

    murni : Pak Dodik,
    selamat berjuang.
    Seandainya pun kelas excellent diadakan di sekolah Bapak, baik untuk anak cerdas maupun anak yang terhambat kecerdasannya, sebaiknya jangan menambah beban dengan menaikkan SPP.

    mohon maaf jika kurang berkenan,

  3. Bu ..Murni, bukankah si anak nanti akan hidup dengan masyarakat dengan “multi-ragam”, baik dari tingkat kecerdasan, keterampilan, budaya. Bagaimana menyikapi ini ?

    murni : bukankah memang kondisi multi-ragam itu juga alaminya demikian ? Sehingga pendidikan seharusnya diarahkan supaya anak didik tingkat dasar dan menengah mampu menghadapinya secara normal melalui pendidikan yang selayaknya mereka terima.
    Karenanya terkait dg tulisan di atas, setiap anak berhak mendaptkan pendidikan dg kualitas yg sama, tanpa harus ada pengelompokkan bahwa dia cerdas makan dia perlu dididik dengan kelas istimewa.

  4. Memang keberadaan kelas excellent selalu menjadi polemik dikalangan praktisi pendidikan. Harus diakui tingkat kecerdasan tiap individu berbeda.
    IMHO pendirian kelas excellent tidak perlu di tentang meski harusnya setiap kelas excellent.
    Yang harus disadari adalah adanya beban tanggungjawab moral pendidik dan peserta didik terhadap kelas seperti ini.
    Maksud saya, daya serap peserta didik yang tinggi harus diimbangi kemampuan didaktik serta kearifan para pendidik-nya.
    Kemudian jika itu sudah dicapai pun komunitas excellent ini harus menyadari bahwa excellencies bukan segala-galanya, itu bisa jadi bumerang bagi dirinya sendiri serta lingkungannya jika tidak diimbangi dengan moralitas dan ketaqwaan.
    Dewasa ini kecerdasan tidak berporos di ruang-ruang kelas, Ilmu pengetahuan mengalir dari berbagai sumber non institusional.
    Kekayaan alternatif belajar ini akan terus berkembang dimasa datang. Jadi tantangan bagi pendidik sekarang adalah lebih pada peningkatan kemampuan didaktis, paedagogis, meski aspek akadmis penting juga, akhirnya individu excellent akan muncul dari kelas-kelas reguler.

  5. […] Saat browsing di pagi ini, tak sengaja saya menemukan sebuah artikel yang menarik tentang Acceleration Class atau disebut juga dengan kelas excellent. Disamping memiliki kelebihan dan keuntungan dalam pelaksanaannya, ternyata program ini juga mimiliki sisi negatif. Berikut cuplikan dari situs yang telah baca tersebut. Sumber : https://murniramli.wordpress.com/2008/05/22/kelas-excellent/ […]

  6. Setuju Bu, pasti Ibu nulisnya dari hati..
    Hampir saja saya melewatkan tulisan sebagus ini, lagi-lagi dari sekian tulisan ibu yang berhasil memperkaya khasanah berpikir saya.

    Bu Murni pasti sibuk sekali sebab menurut saya Ibu orang yang sangat produktif menulis tp belakangan saya berkunjung belum banyak tulisan baru yang muncul di luar renungan.

    Salam dari Bawean.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: