murniramli

Karena kita tidak kuat di ilmu dasar

In Serba-Serbi Jepang on Juni 8, 2008 at 8:51 am

Lama saya tidak bisa menulis di blog ini karena kesibukan menulis yang lain 😀

Tapi hari ini agak melegakan karena saya sudah menuntaskan tiga tugas berat yang berkaitan dengan disertasi saya, mengirim salah satu artikel ke jurnal berbahasa Inggris, menyelesaikan artikel berbahasa Jepang untuk jurnal di kampus, mengirim full paper untuk sebuah konferensi internasional, dan menyelesaikan tugas editor Inovasi Online.

Hari ini saya mendapat telepon dari seorang teman Jepang yang mereview penulisan artikel berbahasa Jepang saya. Beliau seorang penulis di beberapa surat kabar mengenai masalah per-IT-an. Tetapi beliau sangat tertarik dengan masalah pendidikan di negara Asia, terutama Indonesia, yang karenanya sekalipun kalimat yang saya tulis dalam paper masih belepotan, tapi beliau bisa menangkap maknanya dan menikmati isinya.

Hari ini beliau bercerita tentang kunjungannya ke beberapa sekolah di Taiwan dalam rangka bantuan IT Jepang ke China (saya agak kurang jelas). Tapi dalam pembicaraan beliau menyebutkan betapa lemahnya pemahaman dasar siswa dan mahasiswa terhadap ilmu-ilmu basic. Beliau bercerita juga tentang seorang mahasiswa universitas swasta di Jakarta yang belajar IT yang ditemuinya saat berkunjung ke Indonesia, dan sangat prihatin dengan pemahamannya yang kata beliau sama dengan orang biasa yang tidak pernah mendalami IT. Memang tidak beliau jelaskan apakah anak yang ditemuinya mahasiswa fresh atau tidak. Tapi dari hasil obrolannya saya bisa menangkap bahwa pendidikan di Indonesia bagi seorang Jepang, masih sangat jauh.

Saya tidak menganggap ini sebagai bentuk perendahan kemampuan anak bangsa, tetapi saya terpekur karena memang kita sangat lemah dalam ilmu dasar. Saya termasuk yang di dalamnya. Pemahaman saya tentang bahasa Indonesia baru benar-benar muncul saat saya mulai mengajar bahasa. Pemahaman saya tentang biologi, fisika dan kimia barangkali seperti yang diungkap teman Jepang saya, hanya sebatas pada teks book yang diajarkan guru di kelas. Beliau mengungkapkan kelemahan itu ada pada kurangnya praktik, dan dorongan untuk menganalisa masalah lebih dalam di kalangan siswa di Indonesia. Rasa ingin tahu kita tidak diasah, sehingga kita hanya bisa memberikan jawaban standar pada soal-soal yang standar.  Soal yang di luar text book agak sulit untuk kita pahami, karena kurangnya pembiasaan dan pemahaman yang mendasar terhadap masalah.

Hari ini pun saya berhadapan dengan murid kecil saya di SD Bhinneka yang kemampuan berhitungnya di atas rata-rata menurut saya.  Dia bersekolah di SD Jepang sejak kelas 1 dan sekarang sudah kelas 3. Pelajaran berhitung dasar di Jepang dan di Indonesia disampaikan dalam metode yang berbeda (saya belum detil mengamati ini), tetapi kecepatan si anak menghitung tampaknya dipengaruhi oleh metode mengajar guru, dan bagaimana dia dengan cepat memahami persoalan. Perlu ditanyakan kepada orang tua Azka kun 😀

Belajar ilmu2 dasar dengan tidak membuat anak menjadi stress, tampaknya gampang diteorikan tetapi sulit diwujudkan.  Saya pikir apa yang kami berikan kepada murid-murid kecil kami di SD Bhinneka barangkali juga belum berhasil melahirkan kenikmatan belajar bagi mereka.

Saya kembali miris, ketika teman Jepang tersebut menyebut-nyebut sekolah berstandar internasional yang sedang ramai di Indonesia. Apakah sekolah berstandar nasional itu akan membawa anak kepada pemahaman yang kuat terhadap ilmu-ilmu dasar ? Atau sekedar mencetak mereka untuk bisa memahami soal dalam bahasa Inggris ?

Jika cara belajar dan cara mengajar guru tidak berubah, dan kurikulum masih juga ditekankan hanya kepada ujian, maka tak akan ada yang berubah dalam kemampuan dasar anak-anak kita.

Iklan
  1. Setuju sekali mbak murni, saya sendiri mengalami masalah dalam pembelajaran. Hal ini saya alami khusus pada diri sendiri. Sampai saat ini, terengah-engah belajar, karena basic principle to study, baru saya dapat dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Itupun baru kulitnya saja. Sungguh miris melihat pendidikan Indonesia yang hanya mengejar nilai dan nilai. Bukan pemahaman dasar atas pembelajaran itu sendiri. ……Keep writing mbak, maju terus pantang mundur….

  2. kurangnya pemahaman ilmu dasar di SD menyebabkan pembelajaran di sekolah lanjutan terhambat. jelas sangat merepotkan guru SMP/SMA ….

  3. nyuwun sewu… ini pertanyaan amat sangat bodoh, yang dimaksud “ilmu dasar” sendiri itu apa to?
    apa guna paedahnya dan bilamana bermanfoat?

    kalau kata dasar atao ibarat dasar sebuah bangunan [ayas paham = pondasi, terbenam/ dalam tanah/tak nampak sebelum tongkrongan bangunan “Nan Indah” berdiri diatasnya!

    mohon penjelasan yg. gampang gak bikin gamang
    bagaimana pelajar itu menikmati pelajaran atau belajar mempelajari pembelajaran dasar sekolah
    atau jangan-jangan si moerid wal Seniornya murid
    juga ndak tahu bilamana ilmu tersebut digunakan & buat apa sih “harus” mempelajarinya?
    & bahasa yg di “pakai” boleh jadi susah dipahami/
    pakem bahasa paket, bukan bahasa lokal alias
    sesuai tingkat pemahaman usia kanak-kanak……

    salam bingunk…. wal mbingungi

    murni : Pak Ardi,
    mohon maaf, saya belum bisa jawab sekarang secara lebih menarik,
    krn biasa…tugas akhir disertasi harus dikebut.
    tapi ttg hal ini pernah saya tulis di sini,
    https://murniramli.wordpress.com/2008/03/13/sekolah-dan-ilmu-ilmu-dasar-hidup/

    mudah2an berkenan

  4. Perlu ditanyakan kepada orang tua Azka kun

    Maaf…Kochou sensei…ada apa lagi dengan Azka..ngumpet lagi di kolong meja? atau mogok nulis? Jangan-jangan karena akhir-akhir ini Azka lagi senang baca komik doraemon makanya jadi senang berhitung 🙂

    murni : kalo begitu kita perlu mewajibkan komik doraemon di SD Bhinneka ;D

  5. Barangkali memang tidak banyak guru-guru di negeri kita yang tidak mengetahui hal yang paling dasar dari apa yang diajarkan. Apa yang paling dasar dari pelajaran bahasa? Apa yang paling dasar dari matematika? Apa yang paling dasar dari IPA? Dst.
    Kalaupun mengerti bagian mana yang paling dasar dari bidang ilmu yang diajarkannya, kurikulum di negeri kita tidak memberi waktu yang cukup bagi semua siswa untuk benar-benar meresapi hal yang paling mendasar itu. Mereka dijejali dengan materi. Sebelum rasa ingin tahu dan semangat mengamati tumbuh dengan baik mereka telah dijejali dengan aneka materi di pelajaran IPA. Sebelum rasa nyaman berkomunikasi dirasakan, ilmu tatabahasa sudah dijejalkan. Setidaknya itulah yang saya lihat pada sebagaian sekolah-sekolah kita.
    Duh gusti….

  6. Setuju pak Nazarudin, cara….kembali lagi ke cara untuk memberikan pemahaman pada murid murid. Hal tersebut yang tidak menjadi perhatian para Pejabat Pendidikan kita. Kalau mengenai ilmu dasar, saya rasa, akan sama di semua penjuru dunia ini. Tetapi cara untuk memahami ilmu dasar tersebut yang berbeda, apesnya…Indonesia termasuk kategori “kurang” dalam menanamkan ilmu dasar ini.

  7. Ilmu itu harus paham.Ketika kita berbijara ilmu berarti kita sudah memahami sesuatu.Dasar adalah sesuatu yang kokoh tertancap, sedangkan cabangnya adalah lanjutan.keberhasilan adalah buah dari pemahaman dulu dan sekarang.Tidak usah miris oleh kondisi indonesia.Toh yang menentukan maju dan tidaknya bukan orang diluar Indonesia.Guru,siswa,budaya,dan agama yang membawa kemajuan dalam berbagai aspek di Indonesia. From; urang sunda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: