murniramli

Mamak tidak pernah berhenti berdoa, Nak

In Islamologi, Renungan on Juni 22, 2008 at 9:15 am

Belakangan ini setiap kali menelepon ke rumah selalu saja yang saya cari adikku, Yusuf. Karena tengah menulis disertasi, dia sangat kuperlukan untuk membantu mencari data-data tercecer di Indonesia. Jarang sekali sempat bicara dengan mamak.

Kemarin, agaknya suasana di rumah mulai tenang karena Bapak mulai sehat setelah berhari-hari tidak bisa bangun dari tempat tidur karena penyakit komplikasi yang dideritanya.  Seperti biasa kakak dan adik saya, karena tidak ingin membebani pikiran saya, biasanya hanya bercerita hal-hal biasa tentang penyakit Bapak. Tapi saya tahu bagaimana sakit dan penderitaan Bapak. Penyakit yang mungkin tidak ada obatnya kecuali agak terkurangi penderitaannya hanya dengan kepasrahan kepadaNya.

Kemarin, saya sempat bicara dengan Mamak. Sambil bicara saya teringat elusannya di kepala saat saya terbaring tak berdaya selama hampir 1 bulan 4 tahun yang lalu. Seperti biasa pertanyaan pertama selalu tentang kesehatan masing-masing.  Mamak selalu memanggil saya dengan kata, Nak. Panggilan yang menunjukkan betapa kasihnya beliau. Dipanggil nama atau dipanggil ‘Mbak’ barangkali bagi sebagian orang akan lebih nyaman, tapi bagi saya panggilan ‘Nak’ adalah panggilan yang paling indah dari seorang ibu kepada anaknya.

Tidak biasanya Mamak menanyakan kapan saya selesai dan pulang. Tidak biasanya pula saya bercerita bahwa saya akan begini begitu, apalagi tentang studi saya.  Tapi karena Mamak bertanya, maka saya bercerita juga.  Panjang juga cerita saya dan seperti biasa diakhiri dengan, ‘Mak doain ya !’  Di ujung telepon terdengar suara lembut Mamak: Mamak ndak pernah berhenti berdoa, Nak.

Ah, saya, yang kadang alpa berdoa khusyuk untuk Mamak dan Bapak.

Teringat lagu kecil dulu,

Kasih Ibu
Kepada beta
Tak terhingga
sepanjang masa
Hanya memberi
Tak harap kembali
Bagai sang surya
menyinari dunia

Anak-anak ketika dia kecil, rajin sekali guru menuntunnya untuk melafadzkan doa untuk ayah ibu,

Rabbighfirlii wa li walidayya warhamhumaa kamaa rabbayaani shogiiroo

sehingga secara otomatis sehabis sholat dia akan berdoa itu, atau bahkan kadang-kadang saking banyaknya doa yang harus dihafalkan, doa itu terbaca saat mau belajar 🙂  atau saat mau makan 😀

Tapi ketika dia dewasa, doa itu terlupa.  Karena sibuk, doanya terputus pada doa paten selamat dunia akhirat.

Doa adalah pengaduan yang tidak mengenal batasan waktu. Allah yang mendengarnya pun tidak pernah mengeluh untuk dijadikan tempat mengadu. Kita saja yang terkadang ‘terpaksa’ buru-buru mengakhiri perjumpaan denganNya melalui sholat, karena kerja duniawi sudah menunggu.

Karena Yang menjadi Tempat Mengadu juga tidak putus asa mendengar keluhan, maka seharusnya hambaNya pun tak boleh berputus asa memohon kepadaNya. Seperti Mamak yang tidak pernah berputus harapan kepadaNya, maka seharusnya saya yang lebih punya energi, pun tidak.

Iklan
  1. Mbak… saya pernah mengalaminya, ditanya “kapan pulang?” oleh mama&papa dan rasanya…memang berat sekali, ya menjawabnya. Akhirnya memang saya akan minta “do’ain ya, Ma…”. Tapi dengan pertanyaan tersebut, kita jadi tahu, bahwa mereka di rumah memang mengharap-harapkan putrinya segera kembali. Itu bisa jadi semangat, bisa juga jadi beban. Saya yakin Mbak Murni bisa memenuhi harapan Mamak dan Bapak untuk segera menyelesaikan semua urusan di Nagoya dan pulang ke pangkuan beliau berdua. Amin.

    O,ya… ada salam dari Mila Herwina, Mbak… ternyata…dunia memang keciiiillll….. Waktu Mila cerita, “Saya punya teman di Nagoya, dia S2 dan S3 di sana. Hebat deh…” dan saya langsung ingat MbakMurni, lalu bilang, “Jangan-jangan… Mbak Murni Ramli, ya…” Wah…. trus heboh deh kita berdua….hehe… Yuk ah…kok jadi panjang komentarnya….

    murni : Lyn, makasih ya.
    Salam juga untuk Mila, bagaimana dia sekarang ? Bogor memang kecil ya hehehe…

  2. Mbak Murni,
    Keinginan dekat dengan orang tua jugalah yang mendorong saya memutuskan cepat pulang ke Indonesia. Saya berangkat ke Jepang saat bapak-ibu masih berusia 48 tahun, dan adik terkecil masih 3 tahun. Sekarang bapak ibu saya sudah hampir 70 tahun usianya, sedangkan adik bungsu saya sudah hampir tingkat akhir di PTN. Saya masih ingat, dulu bapak dan ibu sangat senang saat saya dapat tawaran bekerja di Chukyo Univ. setelah selesai S3. Tetapi mereka juga bertanya-tanya “sampai kapan di sana ? kapan ya kira-kira akan pulang ke tanah air”.

    Karena itu, tahun yll. saya pulang dengan hati mantap. Ayah ibu saya, mertua saya sudah uzur. Kapan lagi saya dapat berbakti dan berdekatan dengan mereka di hari tuanya. Keberadaan Ine dan anak-anak di Solo terpisah dengan saya, memang berat. Tapi hal itu akan memudahkan kami menjaga orang tua dan mertua yg berada di Solo/Yogya. Juga kebetulan adik-adik saya yg sudah berkeluarga, tahun ini semua pindah keluar dari Jawa. Satu ke Palembang mengambil spesialis, satu lagi ditugaskan di Bali. Jadi tinggal keluarga saya saja, plus adik bontot saja yg dapat menjaga bapak-ibu dan papa. Alhamdulillah. Ternyata keputusan saya untuk pulang tahun lalu, ternyata tepat.

    Semoga ayah mbak Murni senantiasa diberi kesehatan dan kebahagiaan fiddunya wal akhirat.

    murni : Pak Anto, matur nuwun sanget share-nya dan doanya
    Ya, tugas saya menjaga Bapak-Ibu selama ini selalu digantikan oleh kakak dan adik-adik.

    Saya salut tenan dengan Pak Anto yang hilir mudik Jakarta Solo demi keluarga.
    Kalo ngintip di blognya, kelihatannya makin sibuk saja, Pak. Mudah-mudahan diberi kesehatan juga.
    Tahun depan, mudah-mudahan bisa mampir ke Solo lagi.
    Salam u Mba Ine, Tika dan Alya

  3. Mudah-mudahan diberi kemudahan, ya dek…cepat pulang dan terus bermakna bagi kehidupan….nanti mampir di Malang. Kami tunggu…..
    Aas

  4. bikin nangis aja… ;(
    dan semangat pengen pulang, nih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: