murniramli

Pendidikan dasar dan pendidikan menengah

In Manajemen Sekolah, Pendidikan Indonesia, Penelitian Pendidikan on Juni 23, 2008 at 10:25 am

Saya tengah menulis disertasi tentang pendidikan menengah di Indonesia. Pada bab 2 saya mencoba membuat studi komparasi antara pengertian, perkembangan/perubahan pendidikan menengah selama masa penjajahan Belanda, Jepang, masa kemerdekaan, Repelita, dan reformasi. Objek kebijakan yang saya kaji adalah UU Sisdiknas dari tahun 1950, 1989 dan 2003, beserta PP, Permen, Kepmen lain yang terkait.

Untuk menganalisa topik itu saya secara umum menggunakan referensi dari dua buku utama yaitu 50 tahun Pembangunan Pendidikan Nasional 1945-1995 karangan Bapak H.A. R Tilaar (1995) dan buku 50 tahun Pendidikan di Indonesia yang dibuat pada jaman Mendikbud Wardiman Djoyodiningrat (1996). Selain itu beberapa literatur supplement dari jurnal.

Kedua buku menguraikan secara rinci sejarah pendidikan di Indonesia. Definisi tentang pendidikan dasar dan pendidikan menengah juga disebutkan dengan jelas dalam UU no 4 tahun 50, tetapi wording menjadi unclear dalam UU no 2 tahun 1989 dan UU no 20 tahun 2003.

Sayangnya saya tidak bisa mengakses online karya-karya di IKIP/UP di Indonesia, sehingga saya tidak mendapatkan apakah sudah ada yang menganalisa perubahan ini dengan detil. Saya minta tolong kepada Pak Dedi Dwitagama, karena saya tahu beliau punya relasi yang luas di dunia pendidikan.

Untuk membandingkan ketiga UU secara komprehensive, saya menggunakan metode/aspek/dimensi yang digunakan R Murray Thomas dalam sebuah papernya ketika menganalisa maturity UU no 20/1989.

Jika menyoroti pengertian pendidikan dasar dalam UU 50 yang disebut dengan pendidikan rendah, definisinya sangat jelas, bahwa level ini adalah level untuk menumbuhkan minat, mengasah kemampuan pikir, olah tubuh dan naluri. Sedangkan pendidikan menengah adalah pendidikan yang lebih mengarah kepada persiapan kerja dan lanjut ke PT. Berikut ini uraiannya,

Pendidikan dan pengadjaran rendah bermaksud menuntun tumbuhnya rohani dan jasmani kanak-kanak, memberikan kesempatan kepadanya guna mengembangkan bakat dan kesukaannya masing-masing, dan memberikan dasar-dasar pengetahuannnya, kecakapan dan ketangkasan, baik lahir maupun bathin.

Pendidikan dan pengadjaran menengah (umum dan vak) bermaksud melanjutkan dan meluaskan pendidikan dan pengajaran jang diberikan di sekolah rendah untuk mengembangkan cita-cita hidup serta membimbing kesanggupan murid sebagai anggota masyarakat, mendidik tenaga-tenaga ahli dalam berbagai lapangan khusus sesuai dengan bakat masing-masing dan kebutuhan masyarakat dan/atau mempersiapkannya bagi pendidikan dan pengadjaran tinggi.

Definisi ini menjadi disederhanakan dalam UU no 2/1989.

Seperti berikut ini :

Pendidikan dasar diselenggarakan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat serta mempersiapkan peserta didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan menengah.

  1. Pendidikan menengah diselenggarakan untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi.

Adapun UU no 20 tahun 2003 menyebutkan seperti ini :

(1)Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah.
(2) Pendidikan dasar berbentuk sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.

(1)Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar.
(2) Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan.
(3) Pendidikan menengah berbentuk sekolah menengah atas (SMA), madrasah aliyah (MA), sekolah Menengah kejuruan (SMK), dan madrasah aliyah kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.

UU 1989 dan 2003 memang dilengkapi dengan ayat bahwa hal-hal yang belum jelas akan dirincikan dalam PP, namun PP terakhir tentang Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah yang saya ketahui adalah PP no 28 tahun 1990 tentang pendidikan dasar, dan saya belum menemukan PP tentang pendidikan menengah.

Tapi dari pendefinisian yang termaktub dalam UU di atas, secara objektif kita dapat mengatakan bahwa definisi UU 50 lebih rasional dan lebih menyentuh esensi pendidikan, yaitu pendidikan tiga dimensi, tubuh, jiwa, dan otak. Bakat dan kesukaan sebagai sebuah hal yang mulai diabaikan saat ini karena semua anak harus digiring menuju arena kompetisi, tidak disebutkan dengan jelas pembinaannya dalam UU selanjutnya.  UU 1989 dan 2003 memberikan beban lebih kepada anak yang belajar di level pendidikan dasar untuk siap menjadi anggota masyarakat, yang sama sekali tidak disebutkan dalam UU 1950.

Pendidikan menengah pda ketiga UU tidak mengalami perubahan yang berarti dalam pemaknaan. Tetapi terjadi perubahan dalam kategori sekolah pada jenjang pendidikan. Yaitu, dalam UU 1950, pendidikan dasar adalah SD.  Sedangkan dalam UU 1989 dan 2003 pendidikan dasar adalah SD dan SMP serta sekolah yang sederajat. Pendidikan menengah adalah SMA, yang semula pada UU 1950, terdiri dari SMP dan SMA.

Perubahan itu barangkali terjadi karena program wajib belajar 9 tahun. Program wajar dalam UU terbaru disebutkan sebagai program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 tahun. Penggolongan baru ini menimbulkan beberapa pertanyaan : apakah pendidikan di level SMP dapat dikatakan sebagai materi pendidikan dasar ? Jika ya, maka mengapa penamaan sebagai sekolah menengah masih dipakai ? Jika ini dimaksudkan untuk mensukseskan wajib belajar, maka seharusnya SD dan SMP digabungkan, sehingga masalah yang muncul  dalam transisi SD ke SMP dapat teratasi (penelitian McClean, 2002 tentang kondisi di Eropa). Konsekuensi lain dalam penggabungan adalah perlu dilakukan perubahan dalam proses penerimaan siswa setelah lulus SD.  Yaitu, tidak perlu ada rayonisasi atau seleksi sekolah, tetapi harus dibuat lokalisasi SD dan SMP. Sebagai contoh siswa SD di kecamatan/kelurahan A hanya boleh mendaftar di SMP kecamatan/kelurahan A, dengan tanpa dipungut uang masuk dan SPP.

Proses lokalisasi akan menghemat pengeluaran penduduk untuk biaya pendidikan dan menjamin semua anak lulusan pendidikan formal, non formal dan informal level SD dapat diterima di SMP di lokasinya.

Saya masih belum menemukan alasan yang tepat tentang perubahan penggolongan pendidikan dasar dan menengah selain alasan penyuksesan program wajar, barangkali di antara pembaca ada yang punya analisa lain ?

Iklan
  1. Nah ini dia
    peduli pendidikan Indonesia
    Semangat ! 🙂

  2. Hmm…kayaknya maksud mbak Murni dengan penggabungan SD dan SMP, tanpa harus ada proses recruitment baru ketika lulus SD utk melanjutkan ke SMP, itu seperti “ikkan kyouiku” nya Jepang ya mbak?.

    pendapat saya, walo belum tentu nyambung, huehehe..

    jika alasan penggolongan SD dan SMP sbg pendidikan dasar itu adalah karena lamanya SD dan SMP itu total 9 tahun (sesuai dg standar pendidikan dasar yg berlama 9 th), lalu mengapa SMP tetep dg istilah sekolah menengah? begitu kira2 “kadai” nya ya mbak?.

    saya kira mbak, mengenai penamaan SMP tetep ada istilah menengah nya gak masalah. Karena dg penambahan “pertama”, maka SMP bisa dijadikan sbg start awal dimasa pendidikan dasar menuju pendidikan menengah selevel SMA.

    Sebenernya trend Ikkan kyouiku nya jepang emang udah menjamur juga di Indonesia. Baik yg didirikan oleh yayasan islam atau kristen, dimana satu lokasi langsung terdiri dari (bahkan) play group – SMA.

    Tetapi tujuannya mungkin belum sampai ke seperti apa yg mab Murni sampaikan di atas alias untuk “penghematan pengeluaran penduduk akan biaya pendidikan”. Mengapa? karena kebanyakan “maaf hanya bocoran sample aja dari tempat kerja dulu hehe”, tujuan mereka apa lagi kalo bukan utk profit yayasan, dimana ikkan kyouiku akan mempertahankan profit mereka sbg lembaga swasta, krn dg bertahannya seorang siswa sekolah dibawah yayasannya sd level SMA itu udah merupakan “anteitekina shigen” alias sumber pemasukan stabil bagi mereka.

    Jadi alasan lain penggolongan pendidikan dasar dan menengah selain utk penyuksesan program belajar 9th, untuk sebagian lembaga swasta pendiri sekolah2 berkelanjutan alias nyambung dari SD- SMP (minimal), adalah utk mepertahankan profit yayasan..^-^

    Heheh..nyambung gak mbak? atau malah Jaka sembung naik ojeg? kagak nyambung Jeck! hehe

  3. Teh, sy dulu berfikir itu ikkan kyouiku, tp stlh diskusi dg Nishino sensei, sy berkesimpulan bukan itu yg saya maksud.
    Yg saya maksudkan bukan menyatukan bangunannya (spt pengertian ikkan kyouiku), sebab itu tdk mungkin dilakukan di sekolah negeri yang sudah kadung berbentuk bangunan terpisah.
    Tp yg perlu dihilangkan adalah barrier yng menyulitkan siswa u melanjutkan ke SMP, sehubungan dg program wajib belajar 9 tahun.
    Ikkan kyouiku kebanyakan hanya feasible di sekolah swasta, sebagaimana di Jepang.Kalaupun negeri biasanya adalah sekolah afiliasi Universitas.

    SMP sbg start awal SMA adalah pemahaman berdasarkan UU 4/1950. Tetapi perUU sesudahnya tdk lagi menyatakan hubungan ini. Yg ingin saya kritisi adalah ketidakkonsistenan nomenklatur tersebut. Krn sudah tidak ada hubungan vertikal antara SMP dan SMA, tetapi yang ada adalah hubungan vertikal antara SD dan SMP, maka kata menengah semestinya tidak dipakai, dan sy setuju dg Penpres 19/1965 yg menamakan semua lembaga sekolah di tingkat pendidikan dasar 9 th dengan nama Sekolah Dasar (S.D)(di atas saya tdk menuliskan ttg ini, tp saya bahas dalam tulisan yg lain).

    Lalu, dalam tulisan yg lain, sy uraikan pula bahwa penggunaan SMA sebenarnya tidak nyambung dengan konsep tersebut, dan yg lebih tepat adlh SMU, dengan pertimbangan nomenklatur ini sebagai bentuk horizontal antara pendiidkan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan.

  4. Pak, saya tertarik dengan tulisan anda. untuk lebih jelasnya boleh saya minta email bapak. atau no telp yang bisa saya hubungi…

  5. @Mba Yenny : Silakan kirim email. Alamat email saya ada di HOME (klik HOME).
    Btw, saya bukan bapak2 🙂

  6. Assalamu’alaikum..
    nice blog sir,
    pak,bagaimana tentang pengajaran multiple intelligences (kecerdasan majemuk)??
    mhn penjelasanannya.
    nuwun,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: