murniramli

Mengapa harus ada SMP dan SMA ?

In Pendidikan Indonesia, Pendidikan Jepang, Penelitian Pendidikan on Juni 26, 2008 at 10:59 am

Tulisan saya yang lalu membahas tentang  perubahan makna pendidikan dasar dan pendidikan menengah dalam sistem pendidikan di Indonesia.  Kali ini saya akan menyampaikan sebuah pendapat mengapa pendidikan menengah harus dipisahkan menjadi SMP dan SMA.  Bagian ini juga menjadi salah satu poin yang saya angkat dalam disertasi.  Untuk pembahasan kali ini, saya menggunakan literatur berbahasa Jepang tentang reformasi SMA di Jepang yang ditulis secara bersama oleh dosen-dosen di Fak. Pendidikan, Nagoya University pada tahun 1998, sebagai acuan.

Banyak pendapat dari pakar psikologi yang mengatakan bahwa usia anak didik mempengaruhi daya tangkap dan kemampuan belajarnya.  Usia SMP berkisar antara 11 th-14 th, dan usia SMA berkisar antara 15 th-18 th. Pada usia SMP, anak-anak memasuki usia remaja, yang mengubah kondisi fisik dan mentalnya dari alam kanak-kanak menjadi alam remaja. Pada tahap ini anak mulai mencari jati dirinya, siapa dia, dari mana dia berasal, ke mana dia akan menuju (cita-cita). Dan tentu saja jawaban itu tak bisa didapatnya dalam pendidikan di SMP. Oleh karena itu pendidikan di masa SMP hendaknya menyediakan peluang/pilihan ilmu, keahlian yang banyak kepada para siswa.

Adapun anak-anak usia SMA, mereka mulai menyadari eksistensinya, dan mulai membentuk diri dan karakternya.  Anak-anak mulai mantap cita-citanya dan sudah melatih diri untuk menjadi sesuai yang dicita-citakan.  Misalnya anak-anak yang bercita-cita menjadi olah ragawan, mulai latihan menggembungkan otot.  Anak-anak yang ingin bekerja di bidang sains mulai menyukai dan melatih diri di bidang ini. Karenanya pendidikan di masa SMA harus dibuat dengan pilihan yang menyempit dan mendalam.

Secara garis besar kurikulum SMP harus bersifat : banyak, luas, tidak mendalam/general, pendek, dan ringan.  Sedangkan kurikulum SMA harus bersifat sedikit, sempit, mendalam, panjang, dan berat dari segi muatannya.

Di Jepang, kurikulum SMP terdiri dari mapel wajib dan mapel pilihan yang diberikan di kelas 2 dan 3.  Jumlah mapel pilihan hanya 2 atau 3 saja.  Sedangkan di SMA, melalui penjurusan, mapel pilihan lebih banyak daripada mapel wajib. Selain pelajaran yang termuat dalam intrakurikuler, minat dan keinginan siswa juga dikembangkan melalui ekstrakurikuler yang biasa disebut `bukatsudo`.

Di Indonesia tampaknya pembinaan ekstrakurikuler masih belum optimal, dan hanya dianggap sebagai pelengkap kurikulum intra.  Oleh karenanya kita agak sulit menghasilkan olahragawan atau seniman berprestasi dari jalur sekolah.  Berbeda halnya dengan di Jepang, karena ekskul menjadi salah satu rute untuk menjadi `orang` di masa depan, maka tidak mengherankan jika banyak atlet yang terlahir dari kegiatan ekskul sekolah.

Landasan berfikir di atas, yaitu bahwa usia SMP dan SMA memiliki dampak pada daya tangkap dan nalar siswa, menjadikan kita mudah memahami pemisahan jenjang ini.

Tetapi apakah sisi psikologis ini secara umum akan senantiasa demikian adanya dengan kemajuan IT dan informasi yang menyebabkan anak SMP mungkin lebih cepat berkembang secara psikis (mental) daripada fisiknya ? Atau pertanyaan lain, globalisasi yang menuntut kompetisi di semua bidang menyebabkan anak-anak SMP harus diajarkan materi SMA agar dapat mengejar kemampuan anak-anak di negara maju ?

Saya belum tahu jawabannya.  Tapi saya pikir akan menarik jika dibuat analisa terhadap content pelajaran di Indonesia dengan negara lain untuk melihat apakah anak-anak SMP di Indonesia sudah belajar selayaknya yang harus dia dapat atau justru dia belajar pelajaran/ilmu yang semestinya dia dapat di SMA di negara lain.

Ditulis ketika sedang suntuk menyiapkan bahan presentasi di Tohoku Univ (>_<)

Iklan
  1. Kalau saya pribadi, saat SMP memang perilakunya lebih ke arah “belajar yang baik dan jalani saja”. Sudah punya cita-cita sih, tapi sepertinya belum terlalu serius merealisasikannya.

    Saat SMA baru saya habis-habisan mengembangkan diri agar bisa menggapai cita-cita. Waktu itu saya ingin menjadi programmer game, dan karenanya saya banyak belajar matematika, fisika, dan pemrograman, bahkan sampai meminjam2 buku di perpus universitas tempat orang tua saya sedang sekolah waktu itu.

    Ya, walaupun pada akhirnya saya mengambil jalur lain (nggak jadi programmer game), tetap saja saya senang masa-masa tersebut dan usaha saya waktu itu.

    Pertanyaan besar buat saya adalah: apakah waktu itu saya berusaha keras seperti itu karena “pada tahap ini anak mulai mencari jati dirinya, siapa dia, dari mana dia berasal, ke mana dia akan menuju (cita-cita)” seperti yang ditulis, ataukah saya melakukan itu karena “terdesak” kenyataan bahwa saya harus segera menentukan pilihan mengenai apa yang harus saya lakukan setelah lulus SMA? Kalau berangan-angan, misalnya setelah SMP jenjang berikutnya langsung universitas, akankah saya berjuang menggapai cita-cita lebih awal? Atau kalau misalnya setelah SMA masih ada SMLA (sekolah menengah lebih atas), akankah saya “santai-santai” lebih lama dan menunggu masa-masa mendekati lulus SMLA tersebut?

  2. Mas Agro :

    wah pertanyaannya radha mbulet.
    tapi barangkali begini, karena manusia itu bertindak bukan saja karena faktor internalnya tetapi juga eksternal, maka kemungkinan yg dilakukan pada usia SMP adlh karena keduanya.

    Contoh lain pd tanaman, kalau dia tumbuh sesuai dg faktor internalnya saja (genetik), maka dia akan normal, tp jika sedikit dilakukan manipulasi dalam lingkungan, mis pupuk dilebihkan, maka dia akan segera melakukan tindakan untuk bertahan hidup di antara komunitas tanaman yang lain.

    Jadi seandainya stlh SMP, siswa boleh lgsg ke Univ, maka tentu saat masih di SMP dia akan terpaksa berfikir ke sana.
    Tetapi, setelah dia di univ, apakah dia bisa menyesuaikan dg kehidupan mahasiswa lain yg melebihi usianya ?
    Loh, kok jadi ke sini 😀

    Yg pasti, siswa tdk mikir sendiri, tp dipengaruhi pleh ortu, guru dan teman2nya.

  3. […] dari Ibu Murniramli: Banyak pendapat dari pakar psikologi yang mengatakan bahwa usia anak didik mempengaruhi daya […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: