murniramli

Kepekaan bertutur

In Renungan on Juli 7, 2008 at 5:32 am

Kenapa anak harus diajari Bahasa Indonesia yang baik dan benar, kalau pada akhirnya mereka akan bercakap dengan sebayanya dengan menggunakan bahasa ABG 😀

Dari semua materi pelajaran Bahasa Indonesia yang saya dapatkan dari SD hingga SMA, saya sebenarnya menyenangi semua bagian, apalagi tentang peribahasa dan sastra. Sayang, saya hanya menerimanya sebagai bahan hafalan.

Saya bahkan lupa apakah pernah belajar perbedaan antara kata saya dan aku, atau anda dan kamu, atau anda dan saudara, atau anda dan Bapak A atau Ibu A. Rentetan kata yang sederhana, tetapi mengandung makna yang mendalam ketika digunakan.

Beberapa waktu lalu, saya mendapat telepon dari seorang murid Bahasa Indonesia yang pernah saya ajari, dalam sebuah kalimatnya dia mengatakan : “Saya tunggu anda datang ke rumah saya”.
Di masa yang lain, seorang teman menjawab email yang saya kirim dengan kalimat seperti ini : “Saya akan membalas email anda secepatnya”

Dari kedua contoh di atas sebenarnya tidak ada kalimat yang salah. Tetapi barangkali karena saya dilahirkan dengan sensitivitas yang terlalu berlebihan 😀 maka saya agak terkejut mendengar dan membaca itu.

Ketika belajar Bahasa Jepang di kampus dan saat berkonsultasi dengan Academic Advisor ataupun dosen lain di Nagoya University, saya belum pernah dipanggil dengan kata ‘anata’ (=anda/kamu), tetapi selalu dipanggil dengan nama : Murni san. Beberapa kali saya dipanggil `anata` oleh orang Jepang yang tidak kenal dengan saya, saat bertanya tentang jalan misalnya.

Bagi saya pribadi, memanggil orang yang sudah saya ketahui namanya dengan panggilan `anda` atau ‘kamu’ rasanya tidak sopan (ini lagi-lagi karena sensitivitas yang berlebih). Lebih baik memanggilnya dengan sebutan Bapak/Ibu A, atau Mas/Mbak A, atau Dik atau panggil namanya saja. Ketika seseorang memanggil seseorang dengan anda, maka kita memposisikan diri sebagai orang yang punya jarak dengan lawan bicara dan agak sulit untuk menjadi teman. Tetapi ketika seseorang dipanggil Bapak/Ibu, maka si pemanggil bermaksud menghormatinya. Lalu ketika seorang anak kita panggil dengan Mas/Mbak atau namanya, maka kita menganggapnya bagian dari keluarga.

Kehalusan dan kesopanan dalam bertutur mungkin tidak diajarkan sebagai salah satu bentuk keahlian berbahasa di sekolah-sekolah. Tetapi menurut saya, kehalusan dan kesopanan inilah yang akan membedakan tingkat kehalusan budi pekerti orang 😀

Tidak hanya dalam memanggil nama seseorang, banyak kosa kata yang mesti dipertimbangkan kelayakan pengucapannya agar tidak menyinggung perasaan lawan bicara, dan tentu saja tetap dapat dimengerti.

Tapi bagaimanapun, beruntung sekali Bahasa Indonesia tidak mengenal tingkatan bahasa seperti Bahasa Jepang atau Jawa. Sebab kalau ada, keterbukaan mungkin akan semakin sulit terwujud.

Iklan
  1. Murni san, eh bu Murni, saya juga pernah /sering mengalami hal serupa. lantas saya bertanya kepada guru bahasa tentang penggunaan “Anda”, walaupun risih tapi katanya benar, asalkan jika dalam ragam tulisan huruf “A” kapital.

    murni : Ya, dalam penulisan memang menggunakan kapital.

  2. Ibu Murni… topiknya sangat menarik. saya berharap ada pembahasan lebih lebih lanjut. Saya pecinta bahasa Melayu.

    murni : Wah, sayang saya bukan ahlinya.
    Barangkali bisa membagi cerita tentang kecintaan anda kepada Bahasa Melayu ?

  3. Memang ada semacam dikotomi atau polarisasi paham di sini, Bu Guru. Ada yang mengaitkan bahasa halus dengan sopan santun seperti anda. Ada juga yang mengaitkan dengan feodalisme yang kata mereka sudah nggak jamannya lagi.

    Mau dibawa kemana sebuah bahasa termasuk bahasa kita – saya rasa terkait dengan tarik ulur dua kelompok tersebut – dalam merumuskan mana batas yang mereka atau kita anggap sopan, serta mana batas yang kita anggap berbau feodal.

    Saya rasa demikian Bu Guru….-
    Salam untuk anda dan rekan-rekan….-

    (Saya salah ya kalau pake kata “anda”. Hi Hi Hi )

    murni : terimakasih atas pandangannya.
    Ngga salah 😀

  4. Wah, iya juga ya. Knapa harus belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar?

    Saya hampir selalu menggunakan kata “saya” ketimbang “aku”. Entah kenapa? Rasanya, kalau menggunakan kata “aku” itu menggambarkan rasa posesif berlebih. 😀

    Bu, saya juga sering menggunakan kata “Anda” dalam tulisan di blog, jadi terkean menjaga jarak ya dengan pembaca, Bu?

    murni : tulisan yang mana ….? Perasaan ngga pernah nemu 😀 (memang jarang mampir…
    hhehe…). Apa kabar ? Masih di Jabar ?

    Penggunaan kata ‘saya’ atau ‘aku’ itu juga dipengaruhi oleh suku. Pak Jupri kan orang Sunda, jadi pakai ‘saya’. Yang orang Jawa biasanya selalu menggunakan ‘aku’ Suku Bugis juga pakai ‘saya’. Suku yang lain mesti diwawancarai dulu satu-satu perwakilannya 😀

  5. suku betawi menggunakan ‘kita’ padahal maksudnya saya/aku (satu orang)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: