murniramli

Tidak ada cara lain kecuali berusaha keras !

In Serba-Serbi Jepang on Juli 11, 2008 at 1:22 pm

Besok terbang ke Malaysia untuk sebuah konferensi tentang pendidikan guru di negara muslim.  Saya belum sempat membenahi power point untuk presentasi tanggal 15 Juli. Karena berhari-hari saya harus memeras otak dan mengurangi jam tidur yang sudah minim, untuk membaca, menulis, bongkar pasang paper untuk sebuah jurnal berbahasa Jepang.

Professor saya yang saya paksa untuk menyediakan jam konsultasi sebulan sekali, sampai menyediakan waktu dua hari untuk membantu saya mengoreksi bagian-bagian penting dalam paper. Tapi seperti biasa di jurusan saya ‘kyouiku keiei’, yang terkenal sangat strict dalam penggunaan istilah, maka paper yang saya buat pun mental untuk beberapa pengistilahan.  Sayangnya, Sensei juga tidak menunjukkan jalan keluar yang jelas selain memaksa saya untuk berfikir lagi mencari kata-kata yang tepat.

Tadi malam, hari paling telat saya lembur di kampus selama berada di Jepang. Karena pulang dengan naik sepeda, maka saya tenang saja menulis, tidak terasa sudah jam 1.30. Waktunya mengistirahatkan badan. Janji mengirimkan perbaikan paper malam hari kepada sensei untuk diperiksa hari ini, tidak bisa terpenuhi. Terpaksa pagi-pagi baru sempat dikirimkan, dan untungnya sensei berbaik hati memberikan coretan-coretan lagi. Tapi kali ini, kertasnya agak mulus.

Saya sangat bersyukur dengan kelancaran menulis hingga saat ini. Sekalipun mental beberapa kali karena tidak sukses merangkai kata yang bagus untuk thesis sekelas orang Jepang, saya sempat mau mundur. Kalau saja, sensei tidak mengatakan ‘omoshiroi’, saya mungkin akan kehabisan energi menulis paper. Saya terpompa betul dengan ucapan sensei dua hari yang lalu : “Penelitian dan opini yang diajukan sangat menarik. Tinggal menyusun bahasanya agar orang Jepang tidak salah interpretasi ketika membacanya”.

Keketatan menggunakan istilah membuat saya putus asa dan hari ini sempat terlontar kata : Sensei, kono ronbun wo dasu no wa jishin ga nai desu (Sensei, saya tidak percaya diri mensubmit paper ini ). Tapi saya sangat terharu dengan ucapan sensei :  Murni san sudah berusaha sampai sejauh ini, mundur tidak boleh. Masalah istilah yang tidak sempurna, orang Jepang juga tidak bisa menulis sempurna. Jishin o motte, ganbatte kudasai ! (Percaya diri ! Dan lebih keras berusaha !)

Sashuga nihon jin !

Saya teringat sebuah buku tentang sejarah pendidikan peralihan Belanda ke Jepang, dan pendidikan di zaman Jepang. Di dalamnya dilukiskan bagaimana orang Indonesia yang sudah terjajah selama 3,5 abad dididik oleh tentara Jepang untuk punya percaya diri memerangi Belanda, bahkan pementasan budaya rakyat diaktifkan di sekolah-sekolah supaya rasa kebangsaan tumbuh secara tidak langsung.

Ya, langkah saya sekalipun agak loyo karena kurang tidur, tapi semangat dan kata-kata sensei teringat terus. Di tengah jalan berpapasan dengan seorang teman Jepang yang selalu saya ajak bercanda, lalu seperti biasa komentarnya, kenapa tidak pernah cuti jadi kuncen di kampus ? 😀    Sambil ngobrol ngalur ngidul tentang thesis dan kerja, mengeluh ini itu, kami seperti biasa mengakhiri obrolan dengan : Ganbarou shikanai wa !  (Tidak ada cara lain selain bekerja keras ! )

Besok, saya akan ke Malaysia. Malam ini saya sempat mengintip para presenter di konferensi. Kembali nyali saya menciut…ah, semuanya orang-orang top. Tapi, saya sudah membayar fee dan tiket sudah di koper….
Ganbarou shikanai wa !

Iklan
  1. memang. tidak ada pilihan lain selain berusaha! semangat!^ ^

  2. Murni San, kamu sungguh luar biasa, buktinya semangat dan kegigihan kamu menepis segala kegalauan di hati untuk tampil menjadi terbaik, trus hormat kamu kepada shensei merupakan kunci keberhasilan kamu, salam hangat dari saya.

  3. Mba Murni,,,
    saya suka sekali sama tulisan Mba,,,
    sepertinya Mba kuliah S2 di sana ya, karena sedang ngerjakan tesis yang belibet ^-^
    temanya apa?

  4. mbak, tulisan2 nya bagus banget, blog ini dah agak lama ak bookmark,
    mengenai kerja keras, ak jg lagi kerja keras buat belajar bahasa jepang, terutama hurufnya dulu, dimulai dari hiragana, tapi ak bingung baiknya belajar baca dulu atau menulis dulu yak?cara menghafal yang efektif gimana yak agar hasilnya seperti kita hafal huruf hijaiyah, soalnya dulu ak perlu waktu 2 tahun–dari tk nol kecil–sampai kelas 1 SD untuk ngapalin huruf hijaiyah sehingga bisa baca Al-Quran, apa hiragana juga gitu?
    ada tips yg efektif gak untuk belajar huruf secara otodidak dulu?(soalnya di kota ak gak ada kursus jepang, rencananya tahun depan kalo dah lulus SMA, baru ngambil kursus sambil kuliah di luar kota)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: