murniramli

Asalkan negara mau membayar mereka lebih bijak

In Renungan on Juli 18, 2008 at 8:48 am

Sudah seminggu saya berada di KL, dan seperti biasa kebiasaan jalan dan melihat-lihat tak pernah bisa ditahan. Tempat-tempat yang saya kunjungi mengingatkan saya pada Indonesia. Banyak percakapan logat Indonesia, logat Jawa yang kental dari mahasiswa dan para penyapu jalanan.  Petugas kebersihan di UKM yang saya jumpai pun orang Indonesia.

Dari kawan saya dengar, bahwa orang Melayu tidak mau bekerja kasar, mereka hanya ingin mengerjakan pekerjaan yang bersih dan berderajat.  jadilah, orang Indonesia dan orang India memenuhi pasar-pasar kerja kelas bawah. Tapi orang Melayu sangat suka dengan pekerja dari Indonesia karena mereka ulet dan rapih, dan mungkin hampir tidak pernah memprotes masalah gaji yang memang sudah mencukupi.

Teman-teman mahasiswa yang saya jumpai lebih senang dengan bersekolah di Malaysia yang biaya perkuliahannya relatif rendah dan banyak di antara mereka menikmati beasiswa atau sebagai peneliti lab dengan gaji yang memuaskan.

Saya tepekur melihat kerajinan mereka. saya terharu melihat keuletan mereka. Andaikan itu dilakukan di Indonesia, alangkah beruntungnya negeri kita.  Orang-orang yang ulet dan tak kenal putus asa semacam mereka adalah aset yang tinggal diasah sedikit untuk dapat mempelajari sesuatu ilmu maka makin berkilatlah mereka dengan kecerdasan akal dan budi.

Sayang pemerintah Indonesia tidak mau berpusing-pusing memikirkan untuk memakmurkan mereka dengan biaya yang layak.  Yang memungkinkan mereka untuk menyekolahkan anak dengan tarikan nafas kelegaan karena tidak harus berfikir tentang SPP yang melangit.  Yang juga melempangkan langkah mereka untuk membeli ini dan itu, semata untuk keperluan hidup sehari, yang menyamankan mereka di sebuah rumah sederhana namun mencukupi. Mereka sangat berhak untuk itu semua dengan kerja keras yang mereka lakukan.

Sayang perputaran uang sudah diatur oleh manusia agar terpusat kepada orang-orang kaya saja. Dan tinggalah si miskin menjadi penonton sambil harus mengelus dada, menahan emosi, membujuk anak-anaknya agar senantiasa sabar. Orang sabar disayang Allah, Nak !

Kapan negara akan berpihak kepada mereka ? Kapan anggota dewan dan petinggi negara bersedia dikurangi gajinya agar dapat dibagi untuk kelayakan hidup si miskin ? Kapan kita berfikir untuk mengefisienkan semua pengeluaran yang tak berguna ? Kapan kita menutupi lubang-lubang kebocoran ? Kapan orang tidak lagi menjadi hamba uang ?

wallahu a’lam bishshawab.

Kemarin, saya melewati seorang Ibu yang sedang mengepel tangga perpustakaan UKM.
“Permisi, Bu. Maaf, saya sudah mengotori lantai ini”, ucap saya pelan. “Ah, tidak apa-apa, silahkan !
Lagi-lagi suara Indonesia.  Keringat rakyat yang telah diteteskan untuk mengkilatkan lantai negeri jiran !

Iklan
  1. woalah begitu to latar belakang…….knapa saudara-ri kita berbondong-bondong ngupoyo boga, golek rizki di rantau negeri orang……

    usai “membaca” ini, jadi bingung apakah diriku
    termasuk bagian dari jaringan “mereka-mereka” tega mentala memusingkan uang di sekitar tubuh nya saja, melancarkan pola-rencana sistematis atas nama “bea” ini & itu, karna [“belum”] ada pos operasional, kepaksa pake jurus mandiri / self finance, ampun sungguh kepaksa ;

    Jangan bimbang dan ragu Mbak Murni….
    barangkali ini jalan terpendek, termudah bagi indonesia bakal kesohor di pelosok dunia, lewat
    para saudara TKI/TKW/Paramedis/Pelaut, dmana
    anak-anak generasi muda tuan-tuan mereka, diasah-diasuh dan dikenalkan-ajari budaya dan bahasa indonesia oleh inang-inang pengasuh-2nya
    … dan suatu saat kelak mereka lebih berasa “asia-indonesia ” ketimbang budaya ibu negerinya sendiri… {dikutib dari} oleh Budayawan Mbeling Cak Emha Ainun Nadjib… [dalam pengajian Padang Mbulan].

    salam
    ardijono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: