murniramli

Definisi kata cerdas- Memaksa untuk mencintai belajar (part 2.)

In Belajar Kepada Alam, Manajemen Sekolah, Pendidikan Indonesia, Penelitian Pendidikan on Juli 21, 2008 at 11:33 am

Dalam tulisan sebelumnya saya telah kemukakan tentang pengonsepan ulang kata cerdas dalam ranah tujuan pendidikan dan pengajaran. Bagaimana bentuk aplikasinya, berikut ini akan saya paparkan yang sekarang terlintas di kepala 😀  Artinya, konsep ini sangat mungkin untuk ditolak dan ditambahi.

Karena guru, orang tua, atau pendidik adalah orang yang memegang kendali dalam pendidikan anak, sedemokratis apapun pendidikan itu, maka dalam konsep ini merekalah yang menjadi ‘pemaksa’ agar anak mencintai belajar.

Guru, orang tua, pendidik adalah/harus :

1. gemar/mencintai belajar. Sebab tidak ada yang mustahil bagi orang yang mau belajar (dengan ijin Allah)

2. gemar bertanya dan memancing pertanyaan. Di dinding kelas hendaklah ditulis slogan “Sudahkah anda bertanya hari ini ?” 😀

3. membaca sebuah buku, berita/artikel, komik 😀  atau apa saja dan bisa menjadikannya sebagai bahan cerita menarik di kelas. Ini dilakukan setiap hari.

4. membebani siswa dengan PR kehidupan, berupa persoalan-persoalan nyata dalam kehidupan sehari-hari dalam konteks pelajaran apapun, setiap akhir pelajaran.

5. pendidik harus menerjemahkan soal hitungan yang berwujud angka menjadi soal cerita yang terkait dengan hidup nyata, atau memancing siswa untuk mendefinisikan, menggambarkan (dalam bentuk kata atau gambar) makna sebuah teori atau definisi. Misalnya apa arti koperasi ? Barangkali ada di antara siswa yang akan membuat komik atau cergam tentang aktivitas di koperasi melalui kata-kata kunci yang ia pahami, misalnya simpan pinjam, jual beli, iuran anggota, dll.
Untuk keperluan memperoleh keahlian seperti ini, lagi-lagi guru harus belajar 🙂

6. mewajibkan murid membaca satu artikel, buku, komik, atau apa saja dan menugaskan mereka untuk bercerita pelajaran yang didapat dari bacaan berdasarkan konteks pelajaran. Misalnya pelajaran math dari komik yang dia baca. Jika siswa tidak punya buku, bacaan, guru harus menyiapkan atau memberi alternatif-alternatif mencari sumber bacaan.

7. membebani siswa untuk membawa pertanyaan sebanyak 2 atau 3 buah setiap hari (jumlahnya disesuaikan dengan jumlah murid per kelas) dan bukan guru saja yang boleh menjawab tapi setiap anggota kelas berhak menjawab.

8. mencatat semua pertanyaan dalam buku harian kelas. Barangkali ada ide gila murid yang bisa menelurkan teori baru kelak. Wajibkan juga murid untuk mempunyai buku pertanyaan dan mencatat semua pertanyaan yang pernah dia ajukan. Jika guru tidak sanggup mencatat, tabunglah uang untuk membeli alat rekam atau jika komite sekolah bisa mengupayakan dana, maka hendaklah setiap kelas dilengkapi dengan alat rekam.

9. Tidak keluar dari silabus atau outline pembelajaran, sekalipun pertanyaan atau diskusi mungkin melebar. Untuk itu ingatkan topik yang akan dibahas minggu depan, dan arahkan siswa untuk menyiapkan pertanyaan terkait tema.

10. Menjadikan buku pelajaran sebagai buku acuan agar tidak tersesat rambu-rambu kurikulum nasional. Sekalipun kurikulum KTSP dikritisi oleh banyak pakar pendidikan, materi belajar di sekolah sebenarnya tidak mengalami pergeseran dari segi tematik pokok. Yang perlu diubah hanyalah metode belajar dan pengajaran.

11. mengadakan sistem evaluasi harian. Sebelum dan sesudah pelajaran ada quiz kecil yang tidak membuat anak-anak stress. Misalnya : berapa kalori makanan yang kamu makan tadi pagi, untuk membakarnya apa saja yang harus kamu kerjakan selama di sekolah (ini untuk SMP) ? Atau pertanyaan : sebutkan pohon apa saja yang ada di pekarangan rumahmu, pohon apa yang berbuah dan pohon apa yang tidak berbuah (ini untuk SD).

Demikianlah. Akan saya tambahkan jika saya punya ide baru lagi 😀

Iklan
  1. sekolah…. tempat berekspresi dan ekslorasi anak
    bukan penjara kecil baginya….. mudah2an

    murni : ya, setuju.
    Apa yg saya tulis di atas bukan memaknai sekolah sebagai penjara.
    Dalam pengertian saya, penjara adalah tempat di mana orang tidak boleh bergerak bebas, bertanya bebas, berkreasi bebas.
    Mudah2an saya dan Bapak sepaham dalam hal ini.

    Yg saya paparkan di atas adalah wacana untuk mendorong dan menstimulus munculnya
    ekspresi anak. Sebab jika tidak ada trigger atau suasana yg mendorong, maka mustahil anak akan berekspresi bebas.
    Pembebanan dan pemaksaan mudah2an tidak disalahartikan sebagai pemenjaraan.
    Bagaimanapun anak perlu dilatih dg pembiasaan melalui kegiatan yg menyenangkan, yg dapat mengasah rasa keingintahuannya.

  2. tulisan mbak murni terjaga selalu apik… tajam, dan lagi mengena/gugah sasaran tanpa melukai karena halus pilihan kata dan rangkaian kalimatnya indah.

    ini yang tersurat & tersirat menuturkan sikap [ruh/ jiwa hidup seyogyanya bersemayam] didalam qolbu =penjiwaan/panggilan jiwa] seorang guru, bagaimana harus berperilaku dan bertindak tanduk ; sekaligus mengurai/mengeja juga menafsirkan… kurikulum [acuan, serba kaku, point 9]

    semoga di sekolah pabriknya para guru, ilmu pedagogi ini tetap ditanam&ajarkan oleh para Dosen [umumnya yang mumpuni sampun sepuh-2 bahkan sudah pada pensiun, sebagai bagian dari seni/sekolah kehidupan, bagi dosen-2 usia yunior, [umumnya] amat matang teoritis, namun “agak kering” akan sentuhan pedagogi/psikologi praktis.

    andaikan mendapatinya, baru sampai pada tataran “bagaimana cara melakukannya..? belum pada
    menjalani dan mengimani sekaligus mengamini
    sebagai bagian dari “perangai/jiwa sosok pendidik”
    namun …. baru sampai tahap “sosok seorang instruktur”, yang melihat+memahami & bertindak tanduk kepada peserta anak didiknya ya sebatas fisik luarnya, serba hitam dan putih [sesuai definisi instruktur = instruksi/pemberi perintah, ini lebih cocog dan memang wajib diberlakukan di dunia akademi kemiliteran. ..; tuntutan sifat pendidikan khusus] minus kreatifitas, inovasi dan yang ada turuti & taati perintah komando sederet istilah…. kmana ruh/jiwa pendidikan sipil itu perginya…?

    masing-masing punya dunianya sendiri,
    tampilan/style instruktur memang [tampak luar] lebih gaya, tertib, disiplin [matang fisik luarnya…? belum tentu diikuti kematangan emosi]
    tampilan/style sosok pendidik [tampak luar]
    serba berkebalikan, [matang jiwa didalamnya, fisiknya mengikuti!]

    untuk point 10), kurang lebih sama kondisinya,
    buku-2 saat kini, berbeda jauh dengan dekade yang lalu, isi/content dibikin sang pengarang….kini. saking padat/atosnya…juga muatannya luengkap skali sampai-2 susah dicerna, dan kirang memberi kesempatan si pembaca itu ruang gerak berimajin asi apalagi berkreasi…. sepertinya sang pengarang
    beritikat baik menerangkan sekaligus memberi jawaban pertanyaan yg sekiranya [ditebak sendiri] bakal timbul… atau berjaga-2 dari preseden buruk

    ;berbeda isi/content dengan buku-2 terbitan lawas,
    otomatis pengarangnya kaum toea/sepuh-2, terasa
    sangat menghargai harkat & martabat si pembaca,
    mengesankan geguritan/tulisan ini, menghantar membuka wacana, bukan menuntun, tapi memberi peluang & menimbulkan rasa gatal bagi si pembaca
    berimajinasi & berkreasi bebas seluasnya, tanpa dibatasi oleh frame/outline dari si pengarang…..

    tapi jangan ditanya kualitas/kreatifitas/kritisnya, gak terkalahkan, bahkan memicu si pembaca turut
    larut didalamnya, tentu berbeda hasil dan swasana kalau alur telah ditentukan/dituntun si pengarang [kebanyakan masa kini, …atau ada rasa “khawatir”, sang pengarang harus lebih dari si pembaca] ..ya jadilah buku-buku pelajaran dan buku apa saja… gak mengasyikkan dinikmati……. = mengerdilkan
    potensi berfikir banyak orang lho…

    dibilang pengarang genius & dahsyat, kalau tulisan mampu membuat si pembaca terinspirasi kemudian berimajinasi dan berkreasi selanjutya berkarya lebih jauh dari buku bacaannya;..bukan kebalik-2 pemahamannya, dituntun dan disediakan jawabannya, yang hebat cuma si pengarang seorang = gagal tebar benih kecerdasan!

    matur nuwun sanget mbak Murni, panjenengan telah mengulasnya dengan apik, menebar & menumbuhkan juga merangsang inspirasi, kreasi = Alhamdulilah ketemu Anda yang genius dan tak sombong begitu

    yang bikin puyeng, bingung dan gak ketemu jawabannya…sampai kini…., knapa guru kini khoq identik sebatas dengan instruktur…, [senam pagi,

    mengapa sampai bisa terjadi hal demikian…ya?
    mohon diberi obat anti pening agar ada pencerahan nggih …mbak Murni…

    salam
    tukang njaga & ngamati (profesi anyar) buku
    ( oleh-2 dari inspirasi pengamatan geguritan…. “April 2, 2007 Anak-anak SD turun ke sawah”)

  3. Pak Ardi :

    Wah, punya profesi baru…pengamat buku.
    Nanti kalau saya bikin buku, mohon bantuannya mengamati ya, Pak (^_^)

    Kepeningan Pak Ardi tidak bisa saya jawab dengan mudah. Tampaknya saya perlu melakukan penelitian untuk menganalisa dan menemukan ‘sakitnya’ guru-guru kita apa, berasal dari mana, dan bagaimana mengobatinya.

    Btw, saya jadi membaca ulang tulisan April, 2 2007. Ternyata memang inspiratif sekali apa yg dilakukan guru2 di Jepang, ya, Pak.
    Terima kasih sudah mengingatkan kembali kepada goresan lama saya.

  4. Assalamualaikum Mbak Murni,
    kenalkan, saya masih SMA, tapi menurut saya ide2 di atas bagus sekali kalau guru2 mau menerapkannya di sekolah.
    yang saya lihat sehari-hari malah murid dan guru sama2 terkekang gara2 ujian nasional, jadi kelas terasa sangat sempit dan tidak ada ruang untuk mengeksplorasi diri. kelas terasa membosankan, sumpek, dan tidak terjalin interaksi hangat antar murid dan guru.
    menurut saya kondisi kelas itulah yang membuat banyak orang malas belajar! bagi mereka belajar hanya tuntutan dan rutinitas semata, tanpa ada kesadaran dari diri sendiri.
    selain itu orang2 awam berpikir kalau belajar itu hanya membaca buku pelajaran saja. padahal, belajar itu proses mengamati semua hal yang terjadi di manapun. sehingga, banyak orang tua yang merasa kalau anaknya malas jika dia jarang membaca buku pelajaran, melainkan komik :-D. padahal di komik banyak hal2 lain yang bisa dipelajari (misal: kebudayaan) yang tidak diajarkan oleh guru di sekolah!

    Jadi numpahin unek-unek nih.
    Mbak Murni, teruslah berjuang menulis. Siapa tahu ide2 brilian di atas dibaca dan diterapkan oleh setiap guru yang kita punya di negeri ini. Amin.

    Wassalamualaikum,

    murni : wa alaikum salam
    Wah, saya senang mendapat tamu siswa SMA.
    Kalau bisa coba dibicarakan dengan Bapak/Ibu guru atau boleh juga
    tulisan saya ditunjukkan dan didiskusikan dengan beliau-2 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: