murniramli

Hajimete otsukai- Mendidik anak untuk berani

In Serba-Serbi Jepang on Juli 26, 2008 at 10:31 am

Dulu, saya menggemari sebuah acara TV di channel Nihon terebi, yang berjudul ‘Hajimete otsukai’(はじめてお使い)yang kira-kira artinya pertama kali dimintai bantuan.  Acara ini menggambarkan bagaimana anak-anak berumur di bawah 5 tahun untuk pertama kalinya ditugasi oleh ayah ibunya untuk melakukan sesuatu pekerjaan di luar rumah.  Misalnya tugas untuk mengantarkan sepatu ayah dari rumah ke pelabuhan yang jaraknya berkilo-kilo, atau tugas membeli keperluan dapur (berbelanja), dll.

Acara ini sudah lama tidak pernah disiarkan lagi, tetapi saya masih ingat bagaimana kelucuan dan keluguan anak-anak yang ditugasi tersebut.  Yang masih lekat dalam ingatan adalah seorang anak laki-laki berusia 4 tahun yang tinggal di Hokkaido, daerah paling Utara Jepang.  Ayah ibunya mengelola restoran di sebuah desa.  Tugasnya hari itu adalah pergi ke kota untuk membeli tahu, taoge, ikan, mie dan terong.  Ibunya kelihatan cemas, tetapi si anak dengan bangganya mengatakan : “dekiru yo, okaasan ! sinpai shinaide !  (Saya bisa kok, Bu. Jangan khawatir!). Si Ibu kemudian mengulang-ulang pesanannya dan mengalungkan dompet kecil di leher si anak, lalu memintanya berhati-hati, dan bla…bla…bla…….ittekimasu ! (Pergi dulu, ya !). Itterasshai…(ya, hati-hati !).

Sepanjang perjalanan si anak tampaknya gembira sekali, sambil berjalan dia menyenandungkan lagu-lagu yang pernah didengarnya.  Jarak antara rumah ke kota, kira-kira 1-2 jam berjalan kaki.  Tetapi karena barangkali sering diajak jalan oleh ayah atau ibunya, si anak tampaknya tidak khawatir sama sekali akan tersesat.  Melewati jembatan penyeberangan, dia sempat berhenti sejenak mengobrol dengan burung-burung gagak yang memang jumlahnya banyak di seantero Jepang.

Kameraman yang mengiringi perjalanan si anak, juga beberapa staf TV, menyamar dengan memakai topi, dan memasukkan kamera di dalam tas. Bagaimana pun keselamatan anak tetap harus diutamakan, sekalipun si anak sama sekali tidak menyadari bahkan tidak peduli dengan mereka.

Tiba di toko yang dimaksud.  Karena menempuh perjalanan jauh, si anak agak lupa dengan pesanan yang harus dibeli.  Sambil berputar-putar di dalam toko dia berusaha mengingat barang-barang yang ditugaskan.  Dua tahu, tiga bungkus tauge, ikan A (saya lupa namanya-red), mie dan terong. Pemilik toko yang sebelumnya sudah dikabari tentang acara ini berusaha mengamati dari jauh, tetapi tidak diperbolehkan membantu.  Akhirnya selesailah acara belanja.  Ketika hendak membayar, si anak belum tahu nominal harga, maka semua uang yang ada di dalam dompet dia keluarkan.  Pemilik toko kemudian mengembalikan kelebihan uang, membungkus barang belanjaan si anak dan berpesan : “ki o tsukete ne !” (hati-hati, ya).  “Haik, arigatou gozaimashita. Sayonara !” (Ya, terima kasih banyak. Sampai jumpa!).

Belanjaan kelihatannya cukup berat untuk dibawa oleh tangan kecilnya, tetapi harus bagaimana lagi, pesan Ibu harus dilaksanakan. Melangkah beberapa meter, si anak berhenti, memperbaiki pegangan tas plastik.  Perjalanan pulang agak menyulitkan karena beberapa jalan mendaki.  Sesekali dia harus berhenti karena  tauge yang dibelinya tercecer jatuh. Pada suatu ketika, si anak sudah tidak tahan lagi karena keberatan, dia mulai menangis sambil mengomel-ngomel : “dekinai yo ! omoi, yo!” (Jelas ngga bisa ! Berat !)

Tapi, ingatannya pada Ibunya yang berpesan bahwa mereka tidak bisa menyiapkan makanan untuk tamu jika belanjaan tidak sampai di rumah, membuatnya berhenti menangis.  Tangan kecilnya mengusap air matanya dan mulai melangkah lagi.  Kali ini tidak cukup daya untuk mengangkat tas yang berat itu, maka diseretnya.  Alhasil, tahu dan ikan menjadi agak hancur dan berserakan di jalan. Dia mulai menangis lagi : “Mou taberarenai yo !” (Duh, ngga bisa dimakan !).  Tangisannya makin menjadi tatkala dua ekor burung gagak hinggap dan mulai menggigiti remah-remah tahu.  “Dame ! Dame ! Yamete !” (Ngga boleh! Ngga boleh! Berhenti!). Burung gagak terbang juga.  Tapi si anak tak kunjung berhenti menangis, sebab tahu yang sedianya untuk disajikan kepada tamu, tinggal separuh. Tas yang dipakai untuk membawa belanjaan juga sudah sobek karena diseret di jalan beraspal. Tapi, tidak ada orang yang lewat yang bisa dimintai tolong.

Akhirnya, masih sambil menangis, didekapnya sisa-sisa belanjaan yang ada, berjalan terseok hingga sampai di rumah.  Ibunya yang melihatnya dari balik jendela rumah dari kejauhan tak tahan, mulai menangis juga.  Tapi dia cepat-cepat menghapus air matanya karena si anak sudah di depan pintu.  Sambil menangis, si anak berkata, “okaasan, gomen ne ! waruku natta!” (Ibu, maaf ya. Semuanya jadi hancur !).  Si Ibu sudah tidak tahan lagi, memeluk anaknya sambil berkata, “arigatou ne! yoku ganbatta !” (makasih ya, kamu sudah berusaha !).

Di akhir acara terlihat si anak makan dengan lahap masakan tahu hasil belanjaannya dan dengan bangga mendengarkan pujian dari ayah, ibu, dan neneknya. Hari ini dia sudah berhasil memberikan manfaat untuk ayah ibunya.

Saya jadi ingat ditugasi ibu berbelanja di warung. Tapi saya tidak seberani si anak yang berjalan jauh untuk membeli pesanan ibu. Warung yang saya datangi hanya beberapa meter dari rumah kami. Tapi, bagaimanapun sangat senang dan bangga ketika mulut kecil saya mengucapkan : “Saya mau beli garam 1 bungkus !” Rasanya seperti orang dewasa 😀
Apalagi si anak yang sudah berjalan jauh, betapa bangganya dia ! Pasti !

Orang dewasa harus memberikan ruang dan waktu kepada anak-anak untuk mencoba hal-hal yang biasa dikerjakan orang dewasa, sekedar untuk merasakan sedikit kebanggaan bahwa : saya juga bisa !

Iklan
  1. geguritan ini sungguh benar adanya,
    memberi “kesempatan”, berlaku u/ semua kalangan baik buat :
    – perkembangan & pertumbuhan jiwa anak
    – belajar menyerahkan &rilo legowo buat orang tau eh tua dink…
    senada ulasan sang maestro, tut wuri handayani

    sungguh sequel acara TV menarik, apa slama ini, [romantika dunia anak] tersamar, terpapar jujur apa adanya, tanpa disadari si anak [akting polos;
    bikin ortu belajar kenali & pahami anak mereka jauh lebih baik ; semoga Programmer Acara Stasiun TV di Indonesia berkesempatan mem – “baca”nya dan belajar lebih arief lagi, semoga!
    berbeda di Indonesia, yang terjadi saat ini itu pemaksa- +pemerkosa- +pengeksploitasi- +pengeksplorasi-an “bermain” pemahaman dan kacamata usia kaum dewasa dimain/perankan oleh anak-anak ; karna unsur ekonomi & celakana
    si anak plus keluarga turut menikmati berkahnya!

    bikin ribuan “keluarga” lain berlomba turut serta
    mencoba peruntungan, siapa tahu bisa jadi artis…
    [bagi PH, ini bisnis kesempatan raub keuntungan,
    di tengah ketidak-mengertian &-berdayaan
    & -tahuan …siapa saja ya…?
    kalau tidak, ya kenakalan/kriminalitas anak-anak
    ditayangkan/secara blow up …
    apa kaum dewasa itu tak terfikirkah sejauh mata memandang [efek negatif gambar hidup, skadar lomba cari berita=duit]

    dimana nurani institusi penyiaran kah/orang tua juga ya?

    bagaimana perkembangan kesehatan psikologis anak republik ini dimasa depan? . bisa matang sebelum waktunya

    mungkin [geguritan] ini kelak bekal pembentukan modal awal watak/karakter si anak, untuk berani berinisiatif, PD, dst…. cara dia bersikap di sekolah nantinya [kali terkait,”anak-anak turun ke sawah”]
    & knapa kanak-2 indonesia berkebalikannya..?

    semoga mulai ketemoe jawabannya… siklus saitan:
    bocah jepang emosi berkembang seiring usianya kelak dewasa ia matang emosi & pemikirannya

    bocah indonesia emosinya berkembang lebih cepat
    kelak dewasa ia kembali mencari masa kanak2nya
    yang di”hilang”kan waktu itu…..

    betul begitukah..? walah cilaka’ 12 pas mbak murni
    semoga saja tidak benar, tetapi… besar harapanku..

    inti tersurat dan tersirat dari geguritan mbak murni “Hajimete otsukai- Mendidik anak untuk berani” tersampaikan ke Ahli penyusun Acara program Tayang & Pemilik Stasiun TV Republik Indonesia juga komisi penyiaran apa kuwi…?

    terus tulis dan kabarkan [tentu dengan kebijakan arif dan kebijaksanaan dari Sang Editor, andai berkenan] yang baik tentang Jepun ya, kita yang di Indonesia ini kan maunya serba LN… jadi biar benih-bibit kebaikan itu menular & tumbuh subur di sini ; soal benih-bibit kebaikan lokal kan kurang laku, jadi biarlah dia tumbuh berkembang sebagai yang sekunder, bukan primer.
    kali lagi zamannya ya…

    salam

  2. salam,

    menurut saya keren sekali apa yang bisa dilakukan oleh anak itu, bukan masalah dia berhasil atau nggak, tapi pengorbanan yang dia berikan untuk ibunya…
    saya jadi berpikir, apa yang sudah saya korbankan untuk ibu saya…
    -_-

    wasalam,

  3. Salam kenal, saya tertarik dengan pendidikan karakter, dan saya nilai pendidikan di Jepang konsentrasi mengembangkan karakter. Saya ijin menampilkan artikel ibu di blog saya

    murni : salam kenal juga, Mbak.
    Silahkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: