murniramli

Jangan cuma mengatakan jangan !

In Belajar Kepada Alam, Pendidikan Jepang, Serba-Serbi Jepang on Juli 28, 2008 at 2:42 pm

Tulisan kali ini lagi-lagi cerita tentang pendidikan anak TK di Jepang yang kemarin saya saksikan di TV.
Tiga hari yang lalu, sekitar jam 12 malam saya tiba di rumah, badan rasanya penat sekali. Seperti biasa mandi air hangat dan minum susu akan menyenyakkan tidur. Tapi tidak kali ini, karena udara gerah Nagoya. Saya tidak bisa tidur hingga pukul 1.00 dinihari. Untuk melawan mata yang masih melek, saya setel TV dan ada acara siaran ulang diskusi pendidikan TK di sebuah channel TV.

Yang menjadi nara sumber adalah seorang guru TK kira-kira berumur 50 tahun. Selain artis dan aktor Jepang, hadir pula sejumlah orang tua. Saya tidak mengikutinya dari awal, tapi sempat melihat cuplikan yang menarik tentang bagaimana anak-anak TK dilatih untuk tidak mudah menyerah.

Kegiatan belajar hari itu adalah belajar di alam.  Tujuannya untuk melatih semangat dan sifat tak kenal menyerah, serta mengenalkan anak TK tentang makna kata “berat”. Sepele barangkali !

Sejumlah anak TK diajak ke kebun ubi, kemudian guru meminta mereka menggendong  ubi jalar yang jumlahnya diputuskan sendiri oleh si anak dengan mengira-ngira kekuatan masing-masing. Ubi jalar ditaruh di dalam ransel dan mereka harus berjalan membawa ubi jalar tersebut dari kebun ke sekolah. Perjalanan yang harus ditempuh cukup jauh dan melewati areal kebun sayur dan jalan agak mendaki, memakan waktu kira-kira 1 jam.

Semua anak tidak mau dikatakan anak yang lemah, jadi mereka berlomba-lomba mengangkat 10 atau lebih ubi jalar besar. Pemandangan selanjutnya menunjukkan seorang anak terjatuh terjerembab tatkala berjalan separuh perjalanan. Seorang anak lagi jongkok memegangi lututnya yang gemetar karena beratnya beban di punggungnya. Gurunya menyemangati : “Ganbatte !” (Ayo, semangat !).

Ketika melihat sebagian anak dalam kondisi terseok-seok, melemah, Ibu Guru menawarkan untuk mengurangi beban ubi jalar, tapi si anak menggeleng tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun. Yang membuat saya terkagum-kagum adalah seorang anak yang sekalipun sudah kelihatan jelas dia tak sanggup lagi berdiri, air matanya pun sudah meleleh, tetap menggeleng ketika ditawari mengurangi beban. Wuih…!

Beberapa temannya yang sudah menyelesaikan tugas datang membimbing tangannya, dan terus menyemangatinya, gambatte ! mou sukoshii yo ! (Ayo, semangat, sedikit lagi !). Orang tua yang melihat ini pasti akan memarahi ibu guru karena mempekerjarodikan putra-putri tersayangnya.  Tetapi ibu guru ingin mengajarkan anak-anak tentang sebuah semangat untuk menjadi orang sukses.

Tindakan yang harus dilakukan setelah tiba di sekolah adalah menimbang ubi jalar yang dibawa dari kebun.  Setibanya di teras sekolah beberapa anak langsung menggeletak tanpa sempat melepaskan ranselnya, jadilah mereka terlentang beralaskan ransel berisi ubi jalar.  Saat ubi jalar ditimbang, semuanya menjadi takjub karena ternyata mereka membawa ubi jalar di atas 10 kilo. Ibu guru kemudian memuji mereka akan kerja keras dan semangat mereka. Hari ini mereka sudah mengenal apa itu beban berat 😀

Di sesi kedua acara TV ditunjukkan seorang guru yang ingin mengajari anak-anak tentang kehati-hatian.  Kegiatan hari itu adalah masak memasak dengan menggunakan peralatan yang sebenarnya.  Peralatan yang digunakan adalah pisau besar (pisau daging) yang tajam. Biasanya untuk mengajari anak-anak TK aktivitas di dapur, banyak ibu guru akan mempergunakan pisau-pisauan dari plastik untuk menghindari tangan teriris.  Tapi kali ini, yang ingin diajarkan adalah kehati-hatian.  Jadi harus benda asli, jika tidak hati-hati tangan akan teriris.

Sebelum mulai acara potong-memotong, semua anak berdiri mengerumuni ibu guru yang menjelaskan bahwa pisau yang akan mereka pakai adalah pisau yang tajam, sekaligus menunjukkan bagian yang tajam dan bagian yang tumpul agar jangan terbalik ketika memakainya.  Ibu guru juga menunjukkan cara mengiris yang benar, mengingatkan bahwa karena pisau ini tajam dan bisa mengiris tangan kalian, maka yang diperlukan adalah bukan kecepatan kerja tetapi kehati-hatian.

Saya yang ikut menyaksikan kejadian itu ikut deg-degan ketika melihat masing-masing anak dengan celemek dan topi koki lengkap berdiri di depan meja sambil memegang pisau yang besarnya dua kali  tangan mereka. Anak-anak harus mengiris wortel, bawang bombay, kentang dan aneka umbi dan sayur lainnya.  Karena sudah dipesani harus hati-hati maka semua anak benar-benar memotong dengan pelan-pelan. Dan alhamdulillah tidak ada yang mengiris jari tangannya 😀

Selesai acara potong memotong, ibu guru kemudian mengolah bahan-bahan tersebut menjadi santapan makan siang yang nikmat.

Begitulah, mengajari anak TK tentang sebuah bahaya tidak bisa jika hanya menceramahi mereka dengan mengatakan pisau itu tajam tetapi tidak pernah membiarkan mereka menyentuhnya.  Ibu di rumah pun akan langsung berteriak ketika anak memegang pisau : Awas, tajam itu, Nak ! Jangan main pisau ! Tapi bukan berarti Ibu harus membiarkan tangan anak teriris untuk menunjukkan bahayanya pisau. Yang harus dilakukan adalah mengenalkan bahaya tersebut melalui pengalaman menggunakannya.

Saya jadi ingat adik laki-laki saya yang bandel ketika masih kanak dulu.  Mamak dan Bapak sudah berpesan jangan bermain di selokan karena air got itu kotor.  Tapi, barangkali adik saya tidak tahu apa ‘kotor’ itu, apa akibatnya kalau terkena badan. Maka dengan menghitung satu dua tiga dia melompat ke dalam selokan besar di dekat rumah kami.  Sekujur badan hingga kepala alhasil penuh dengan kotoran got.  Mamak mengomel panjang pendek, sedangkan adik dengan tenangnya mengatakan  : Aku cuma pengen nyobain bisa ngga ngelumpati selokan itu!  😀

Saya sebenarnya tidak melihat langsung kejadian itu bahkan mungkin akan lupa dengan kebandelan-kebandelan kami di masa kecil dulu, jika saja mamak tidak menceritakannya kembali ketika kami sudah besar.  Ya, Mamak selalu mengulang-ulang cerita-cerita lucu kami di masa kecil dulu dengan gaya bercerita yang sangat berkesan sehingga kami bisa sakit perut tertawa mendengarnya.

Mendidik anak-anak memang tidak bisa hanya dengan mengatakan “Jangan”, tetapi perlu menjelaskan kepada mereka sejak awal kenapa itu dilarang atau kenapa itu berbahaya melalui pengasahan panca inderanya.

Iklan
  1. Mendidik anak memang susah-susah gampang :-(.
    Memang lebih baik untuk memberikan “anjuran ” daripada “larangan”. Tapi lebih mudah dan refleks kita mengatakan “jangan lari!” daripada “jalannya pelan-pelan nak”. Meskipun demikian ada juga saat kita ‘harus’ mengatakan ‘jangan’. Pusyiiing….

    murni : sudah mempraktekkannya untuk 4 orang mestinya ga pusyiing lagi dunk, Bu hehehe…

  2. saya pernah baca dkoran ttg cara mengajar anak, dimana diangjurkan untuk kita tdk mengatakan kata negatif sperti ‘jangan’. tapi saat saya coba, kok susah y? ;p
    btw, awalna saya hnya mencari info ttg HANAMI,tapi akhirna merembet melihat2 info yg lain. Kesimpulanna, saya bersyukur masuk kBlog ini, karna bisa mendapatkan banyak ilmu
    (palagi ngomongin jepang, i like it!) ;D
    Oy, apakah ada info mengenai beasiswa S2 d jepang
    makasih…..

    infonya bisa dicek di site embassy japan, Pak

  3. makasih bu, atas ceritanya. langsung tak kopi paste, print dan tempel di mading sekolah. boleh kan?

  4. saya izin copy paste untuk dibaca bersama temen2,bu..terimakasih

  5. @Ummu Hanin : Ya, silakan.

Tinggalkan Balasan ke Bunda Azka Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: