murniramli

Hanya sebuah kartu nama

In Serba-serbi Indonesia, Serba-Serbi Jepang on Agustus 4, 2008 at 5:31 am

Setiap kali mengikuti seminar atau berkunjung ke sekolah-sekolah di Jepang ataupun di Indonesia, saya selalu membawa kartu nama.  Kartu nama itu saya buat sendiri dari kertas yang sudah siap pakai yang dijual di koperasi kampus. Bentuknya sederhana karena saya memang tidak suka kartu nama yang terlalu banyak embel-embelnya.

Dulu, ketika masih tinggal di Bogor, saya punya usaha kecil-kecilan membuat beberapa souvenir dari pelepah pisang dan dari tulang daun, termasuk kartu nama. Kartu nama yang saya buat bersama dengan teman itu agak mahal sedikit dibandingkan kartu nama biasa yang terbuat dari kertas.

Ya, bagaimana pun bentuk dan tampilannnya, kartu nama sangat bermanfaat dalam menjalin kerjasama.

Bukan tulisan tentang tatacara pembuatan kartu nama yang akan saya tulis, tapi adab menerima dan memberi kartu nama.

Ketika berkunjung ke sebuah sekolah di Souya 3 tahun yang lalu, saya berkesempatan mewawancarai kepala sekolah SMA Wakkanai. Saya ditemani oleh seorang dosen dan seorang guru dari Hamamatsu yang kebetulan sedang mengambil Master di fakultas kami, sebab kemampuan Bahasa Jepang saya masih sangat terbatas.

Saat memberikan kartu nama, Pak Kepala Sekolah memegang kartu nama dengan dua tangannya dan membungkuk sedikit sambil menyebutkan namanya. Dosen saya pun membungkuk sedikit menerima kartu nama dengan dua tangannya pula.  Setelah itu beliau menyerahkan kartu namanya dengan cara yang sama. Saya pun mengikuti cara tersebut.

Saat kami duduk, kartu nama harus diletakkan di atas meja yang ada di hadapan. Dan ini berlangsung hingga wawancara selesai.

Kenapa sampai demikian serius serah terima sebuah kartu nama ?

Saya baru tahu belakangan bahwa kartu nama sangat berharga bagi orang Jepang sebagai bentuk penghargaan kepada orang yang memberikannya. Karenanya sikap waktu menyerahkan pun harus dengan penuh hormat dan penghargaan sekalipun orang yang memberikan barangkali dari kalangan yang lebih rendah jabatannya.  Peletakan di atas meja itu pun memiliki makna yaitu agar tidak terjadi kesalahan mengucapkan nama yang bersangkutan. Saya sendiri punya kebiasaan lain, yaitu setelah menerima kartu nama, akan segera bertanya ulang bagaimana membaca nama si pemberi, karena tertulis dalam kanji.  Dan segera akan saya tulis hiragana atau katakana di atas atau di samping namanya. Ini untuk memudahkan mengingat nama si pemberi kartu nama.

Semua kartu nama yang saya dapatkan tersimpan rapih di dalam album dan kalau dihitung-hitung selama saya berada di Jepang hampir 4 tahun sudah ratusan orang yang saya temui dari beragam latar belakang. Saya bahkan pernah mendapatkan kartu nama dari Walikota Okayama, sewaktu beliau dan stafnya mempresentasikan tentang ESD (Education for Sustainable Development) di wilayahnya dalam sebuah konferensi internasional di kampus. Barangkali ini pejabat tinggi pertama yang saya berani sapa dan ajak diskusi tentang program di daerahnya.

Berbeda dengan di Jepang, di Indonesia atau Malaysia orang menerima kartu nama sebagai barang biasa saja. Saya teringat saat mewawancarai seorang kepala sekolah di Indonesia, kartu nama saya dipegang dan ditekuknya selama wawancara. Di Malaysia sama saja. Dalam konferensi, sekitar 50 lembar kartu nama yang saya bawa habis. Dan agak iseng saya mengamati bagaimana mereka memperlakukan kartu nama yang saya berikan.  Hampir semua professor yang saya temui memperlakukan kartu nama saya dengan baik, menerimanya, membacanya lalu memasukkannya ke dalam saku baju.  Tapi kebanyakan mahasiswa, baik program S1, S2 atau S3 menerima kartu nama dengan cara yang saya anggap kurang menghargai, yaitu menekuk/menggulung atau memain-mainkannya dengan tangan selama kami berbicara 😀

Jadi, lain lubuk lain belalang.  Beragam pula tatacara orang menilai dan menghargai sebuah kartu nama. Hanya sebuah kartu nama memang……

Iklan
  1. Hal-hal kecil yang dilakukan konsisten dapat menggambarkan siapa jati diri pelakunya. “al-insan ibnu ‘awaidihi”, manusia adalah anak dari kebiasaannya sendiri.

  2. jika ibu memberi saya kartu nama, akan saya tulis nama ibu dengan romaji karena saya tidak bisa baca kanji. he..he..he..

    salam kenal

    murni : salam kenal juga 😀

  3. assalamualaikum.wr.wb
    ibu, saya pernah buat kartu nama dan hanya sempat dipakai beberapa saja. ternyata karena bukan budaya, orang yang saya beri kartu nama tidak menyimpan dengan baik, malah bertanya kembali jika ingin mengetahui alamat atau no hp.
    dan sekarang malah hilang padahal desainnya lama.

    mau dong tukeran kartu nama dengan ibu!
    link ibu sudah saya pasang di blog saya loh, kapan link saya dipasang di blog ibu? >ngarep<

    murni : wa alaikum salam wrwb
    Maaf, Pak Zaenal link-nya akan segera saya pasang 😀

  4. Mbak Murni,
    Setelah menerima kartu nama biasanya saya tambahkan tanggal di belakang kartu nama tsb. untuk pengingat, kapan saya menerima kartu nama itu, atau kapan bertemu dg ybs.. Adakalanya dari seorang teman, saya menerima kartu nama sejak ybs. jadi mahasiswa, sampai menjadi pejabat. Kalau ada tanggalnya, bisa punya cerita tersendiri.

    murni : wah, ide yang baek juga, nih Pak Anto.
    matur nuwun

  5. assalamualaikum wr. wb.
    salam kenal, Mbak Murni.
    menarik sekali memang adab serah terima kartu nama ini. kebetulan cara ini diajarkan oleh big bos saya kepada saya sewaktu di kantor pertama kali saya bekerja. dulu saya bekerja jadi marketing, dan saya pernah ditegur oleh big bos saya sewaktu hendak meeting bertemu dengan calon principal kami dari amerika. karena sewaktu menerima kartu namanya hanya pakai satu tangan, sementara orang amrik itu pakai dua tangan. walau menegurnya secara diam2, membekas di hati juga. hingga sampai sekarang saya selalu melakukan hal itu, menerima dan memberi dengan dua tangan, dan disesuaikan dengan “lawan bicara” saya. kalau orang australia, amerika atau indonesia, yang hanya pakai satu tangan, saya tidak pakai membungkuk. tapi kalo dengan orang jepang, saya ikut agak membungkukan badan juga. memang pengetahuan ini sangat penting, khususnya membangun “first impression”.

    wassalam

    murni : wa alaikum salam wrwb
    salam kenal juga.

  6. dari hal yang kecil kita bisa saling mengetahui karakter masing-masing orang dan dari hal yang kecil ini kita bisa menilai seperti apa budaya suatu bangsa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: