murniramli

Sakit telinga dan pemeriksaan telinga di Jepang

In Serba-Serbi Jepang on Agustus 16, 2008 at 6:22 am

Gara-gara terlalu rajin membersihkan telinga, saya terpaksa harus berhadapan dengan ahli telinga. Sekitar 5 hari yang lalu, sambil menonton siaran olimpiade, saya korek-korek telinga dengan cotton bud yang agak besar (yang kecil habis…hiks). Malam itu tidak terasa apa-apa. tapi keesokan harinya mulai agak aneh di telinga sebelah kiri.

Seperti biasa saya tidak bisa tinggal dan berdiam diri di rumah, sekalipun telinga mulai sakit. Maka dengan naik sepeda, saya nekat berangkat ke kampus. Saya masih seperti biasa, bercanda dengan teman, tetapi sakit di telinga makin menjadi dan badan mulai meriang. Besok harus ke dokter.

Hari ketiga, telinga kiri tersumbat, suhu badan naik、dan pendengaran mulai berkurang. Mata juga mulai bengkak karena air mata keluar secara reflek, dan hidung juga mulai tersumbat. Saya pernah membaca bahwa ada sekitar satu juta saraf yang berhubungan dengan telinga. Sehingga pada saat telinga mengalami gangguan, maka secara otomatis semua anggota badan akan mengalami gangguan, termasuk keseimbangan. Sebenarnya ini bukan pertama kali saya mengalami penyakit gangguan pendengaran ini. Di Indonesia saya termasuk pelanggan, dengan penyebab yang hampir sama, yaitu rajin membersihkan atau kemasukan air.

Hari ketiga sebenarnya berniat untuk pergi ke RS/klinik, tetapi terlanjur janji dengan teman dan ada rapat dengan Atdikbud KBRI. Jadi rencana berobat di pagi hari batal, lalu setelah rapat saya paksakan mendatangi klinik telinga atas rekomendasi seorang teman, apes sekali karena semua klinik tutup sebab libur obon sudah mulai sejak 13 Agustus. Saya coba ke rumah sakit, tapi tidak ada dokter khusus telinga yang praktek hari itu. Akhirnya dengan badan yang mulai melemah, saya paksakan pulang ke kampus untuk mengecek RS dan klinik yang buka selama liburan obon via internet. Alhamdulillah ada spesialis telinga yang buka tetapi Hari Jumat (15 Agustus). Malamnya saya pulang agak pagian (jam 10.00 malam), sambil mengayuh sepeda saya berulang-ulang membaca ayat kursiy, takut jatuh dari sepeda. Ini nekat juga !

Hari Kamis saya benar-benar keok. Terpaksa terkapar di rumah dengan suhu badan tinggi dan suara ombak mendesau di telinga 😀 Alhamdulillah walaupun nafsu makan berkurang, saya bisa memaksa diri untuk makan agar tidak pingsan di dalam kamar. Bisa memalukan kalau sampai itu terjadi 🙂

Keesokan harinya, masih dengan jalan yang tak seimbang dan pendengaran yang terganggu, saya berangkat juga ke Nagoya University Hospital, yang ada di Tsurumai, sekitar 20 menit naik kereta bawah tanah dari kediaman saya. Selama berada di Jepang (4 tahun), alhamdulillah saya belum pernah menderita penyakit yang parah, yang mengharuskan pergi ke RS. Jadi karena ini adalah kejadian pertama, maka saya harus mengikuti prosedural yang agak panjang. Mendaftar di bagian registrasi pasien yang kena charge 4200 yen, lalu melaporkan keluhan penyakit kemudian menunggu giliran dipanggil dan menerima berkas yang mengharuskan saya untuk pergi ke bagian “jibika”. Saya tidak tahu apa itu jibika, tetapi karena di petunjuk tertulis pergi ke Lt.3, maka saya pergi ke sana dan mencari lorong yang ada tulisan kanji telinga (耳=mimi). Belakangan baru saya ketahui kalau “jibika” seperti ini 耳鼻科 dalam kanjinya. Artinya otology, atau ENT (Ear, Nose, Throat).

Sesampai di jibika, saya diminta mengisi kuesioner berisikan keluhan, gejala, kapan munculnya gejala sakit, penyakit yang pernah diderita, alergi obat, dan lain sebagainya tentang kondisi dan status kesehatan saya. Semuanya berbahasa Jepang, jadi saya hanya mengisi bagian yang saya bisa baca saja.

Ada tiga permeriksaan yang saya lewati. Pertama, pemeriksaan awal untuk mendiagnose awal penyakit. Ruangan yang saya masuki adalah 耳鼻科ゼミ室 (jibikazemisitsu), yang kira-kira artinya Ruang Seminar tentang Otology. Setelah itu, satu jam lebih menunggu, seorang perawat menemui saya dan mengatakan ada 4 pasien yang harus diperiksa sebelum saya, dan setiap orang kemungkinan memakan waktu 30 menit lebih, maka saya disarankan untuk makan siang dulu. Waktu menunjukkan pukul 11.30, dan kemungkinan saya akan diperiksa jam 12.30. Jadi saya keluar dulu cari makan.

Sepulangnya, saya diberitahu untuk mengikuti pemeriksaan kedua, yaitu pengecekan kemampuan pendengaran, nama ruangannya saya lupa. Tapi dokter yang menangani sangat ramah, mempersilahkan saya masuk ke ruangan agak gelap yang kedap suara, lalu setelah duduk, dokter meminta ijin untuk memasang alat di telinga saya. Berkali-kali dokter mengucapkan “shitsureitashimashita” (mohon maaf), karena dengan terpaksa kerudung yang menutupi bagian telinga harus dibuka untuk dipasangi alat. Saya mulai dites dengan suara yang sangat pelan dengan aneka bunyi, mulai dari tit..tit..tit..hingga pong…pong…pong. Hasil tes menunjukkan telinga kiri saya agak bermasalah.

Keluar dari ruang pengecekan pendengaran, saya harus menunggu lagi sekitar 30 menit, untuk kemudian dipanggil masuk ke ruang pemeriksan penyakit. Dokter hari itu bernama dr. Terada (nama depannya tidak terbaca kanjinya). Setelah ditanya macam-macam tentang gejala yang saya rasakan, mulailah dokter memeriksa dan membersihkan telinga kiri saya dengan alat yang dimasukkan ke lubang telinga yang sakitnya bukan main, lalu nozzle yang menyemprot lubang telinga sehingga pendengaran saya plong. Tetapi sakitnya masih terasa sehingga air mata saya meleleh. Telinga kanan juga diperlakukan sama.

Setelah itu dokter menuliskan semua laporan langsung di komputer, sembari menanyai saya tentang alergi obat, kondisi kesehatan dan mengatakan bahwa telinga sudah bersih, tapi dari tes pendengaran telinga kiri agak kurang beres, dan dokter tidak bisa memastikan apa penyebabnya sebab bagian dalam telinga tidak bisa terlihat, karenanya saya disarankan melakukan CT scan telinga yang hasilnya akan didiskusikan Jumat depan.

Setelah menerima resep obat, dan surat pengantar ke CT scan berikut kartu sakit, saya selanjutnya harus ke Lt.1. Seorang perawat di Lt.3 memberi saya peta menuju ruang CT scan. Di sana sudah berdiri seorang petugas yang siap membantu pasien untuk registrasi secara otomatis melalui sebuah mesin. Hanya dengan memasukkan kartu pasien. Saya kemudian diminta menunggu di Ruang Tunggu 1. Tak lama, kira-kira 10 menit, nama saya dipanggil. Ini juga merupakan CT scan pertama yang pernah saya alami. Perawat bertanya apakah boleh melepaskan kerudung ? Saya bilang tidak. Sebab saya tahu bahwa kerudung tidak akan menghambat proses scan. Maka akhirnya saya dibaringkan di alat yang biasanya hanya saya lihat di TV, berupa terowongan setengah lingkaran. Sebuah alat dimasukkan ke telinga saya, dan saya diminta memejamkan mata selama proses berlangsung. Pelan-pelan tempat tidur yang saya tempati bergerak maju mundur, dan sekitar 7 menit proses scan selesai.

Beres semua, pergi ke lt.1 bagian pembayaran. Melapor di bagian account, menerima secarik kertas dan menunggu giliran bayar melalui mesin. Seluruh proses pemeriksaan termasuk uang registrasi berjumlah 11,510 yen. Total yang seharusnya saya bayar di luar uang registrasi adalah 24,380 yen, tapi saya hanya membayar 30% saja, jadi 7,310 yen, sebab saya mempunyai asuransi kesehatan. Beruntung sekali mendapatkan ini. Dan karena saya mahasiswa asing di Jepang, maka saya akan mendapatkan reimburshment sebesar 35% dari JASSO, yang berada di bawah monbukagakushou. Semuanya bisa ditebus di kampus.

Penebusan obat tidak berlangsung di rumah sakit tetapi di lembar resep obat yang diberikan dokter tertulis keterangan bahwa obat ditebus di luar rumah sakit, di tempat yang bernama 処方せん薬 (syohousennkusuri=apotek). Ada tiga macam obat yang saya terima, satu obat bernama Promox (プロモックス)untuk 7 hari, obat itamidoki, 痛み止め (=itamidome) (tablet penahan sakit, diminum hanya jika sakit), dan satu obat tetes telinga. Total biaya obat 1,130 yen. Plus saya dapat bonus satu kotak kecil susu morinaga. Asyiik 😀

Selesai sudah rentetan pemeriksaan telinga. Telinga saya walaupun masih sakit tapi sudah mulai mendengar agak jelas. Tapi mungkin karena kelelahan, saya jadi tidak berminat makan, dan tidak bisa tidur, jadi saya langsung ke kampus mengerjakan laporan untuk KBRI.

Uang saya melayang 11 ribu hari itu. Ah, kesehatan memang mahal !!
Tapi saya sudah belajar banyak tentang nikmatnya pendengaran. Tidak terbayangkan saudara-saudara yang tidak bisa mendengar, bagaimana sepinya dunia ! Subhanallah, segala puji bagiNya yang menyempurnakan penciptaan makhlukNya dengan pendengaran yang sempurna.

Iklan
  1. alhamdulillah…
    sudah sembuh dan mensyukuri Nikmat Milik-NYA
    sepertinya lebih mengerikan sakit di negeri sendiri
    ketimbang sakit di negeri orang [kaya hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, masih nikmat yang..mana ya…?]

    elho mbak Murni tu pake kerudung to…
    skali-skali numpang nampang lho Mbak
    hehehe….

    untung loro di Jepun, coba ndik tanah air
    sopo yang ngasih duit Pelajar boeat berobat hayo..
    ojo loro maneh to mbak… sedih akoe… mengke

  2. Susu Morinaga yang untuk bayi itu?

  3. ibu, coba di tulisan kanjinya dikasih cara baca, biar saya bisa baca.
    makasih

  4. sy skrg jg lagi sakit telinga/bengkak/ mudah2an sembuh dengan sendirinya;;doakan ya!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  5. yuuu ahhh…byee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: