murniramli

Agustus berarti merdeka dan tidak merdeka

In Serba-serbi Indonesia on Agustus 21, 2008 at 10:22 am

Upacara 17 Agustus 2008 di Nagoya sepertinya berlangsung hikmad. Maaf saya tidak bisa menggambarkan dengan jelas karena saya telat upacara 🙂

Seperti tahun lalu, kami mahasiswa Indonesia di Nagoya merayakan hari merdeka dengan semangat ingin merdeka. Maka jadilah berbagai lomba diadakan untuk melampiaskan kemerdekaan (kemerdekaan = bersorak). Lomba masak adalah yang paling heboh setiap tahun karena peperangannya sudah dimulai jauh sebelum perlombaan melalui kompetisi resep di milis. Tidak semua bapak-bapak bisa ikut lomba masak, maka agar kami bisa makan siang bersama dengan mempekerjakan bapak-bapak, maka diadakanlah lomba kupas telur 😀

Anak-anak pun merdeka dengan lomba yang sudah menjadi kewajiban setiap 17-an, yaitu lomba makan kerupuk. Ibu-ibu pun turut dalam lomba ini, selain mengikuti lomba kupas apel. Kami merayakan kemerdekaan kami dengan makan krupuk.

Setiap tahun kami memperingati kemerdekaan itu. Tahun ini lebih ramai daripada tahun sebelumnya karena banyak wajah Jepang hadir dalam acara, pun beberapa rekan perawat yang akan bertugas di Aichi dan sekitarnya datang meramaikan acara.

Di tanah air, koran-koran dipenuhi tulisan mempertanyakan kata “merdeka” yang belum juga dirasakan rakyat. Pejabat berbuih berpidato di panggung-panggung upacara menyampaikan patutnya kita bersyukur atas kemerdekaan yang kita perjuangkan dari penjajah, tetapi seturunnya dari panggung mereka tak mampu memerdekakan rakyat.

Ya, tidak ada yang bisa merdeka di dunia ini. Semuanya dalam keadaan menjajah dan terjajah secara bergantian.

Agustus pun diramaikan dengan berita menggembirakan tentang persetujuan presiden untuk melungsurkan budget 20% pendidikan. Semua ramai mempergunjingkan uang triliunan yang akan masuk ke DIKNAS. Semua ramai meributkan ke mana uang itu harus diposkan. Dosen-dosen ramai berharap kenaikan gaji dan tunjangan. Guru-guru menanti dipenuhinya hajat kerja mereka secara adil.

Tinggalah kepada yg diberi uang, dapatkah dia mengatur uang itu dengan pemanfaatan yang adil dan benar?
Saya ragu.

Kita memang telah merdeka mengelola negara dan keuangannya dari tekanan bangsa lain (barangkali), tetapi kita masih terjajah oleh sifat rakus dan serakah.

Ya, Agustus berarti merdeka dan tidak merdeka !

Iklan
  1. hmm…
    manggilnya apa ya?
    kakakkah? atau pak?

    boleh enggak saya minta alamat email kakak?
    saya siswa sma santa ursula…
    kemarin-kemarin nyari-nyari tentang kehidupan orang jepang…
    soalnya saya tertarik banget sama bagaimana prilaku masyarakat jepang hingga mereka bisa maju kayak sekarang…
    saya nyari buku tentang kehidupan orang jepang di Indonesia… enggak ada…
    dan akhirnya sama mutusin buat nyoba-nyoba buat buku tentang kehidupan orang jepang…
    karena kebetulan di sekolah saya, saya ikut kegiatan menulis, dan kalo tulisannya bagus..
    buku itu bisa diterbitin…
    nah…, kalo kakak bersedia…
    saya pengen banyak tanya sama kakak tentang kehidupan masyarakat Jepang…

    kalo kakak bersedia….
    kasih tahu alamat email kakak ke email saya..
    belong_to_zsa@yahoo.com

    murni : ttg kehidupan orang Jepang sudah banyak saya tulis di blog ini.
    Silahkan dibaca dulu.
    Hanya memang kebanyakan ttg kehidupan sehari-hari dan ttg sekolah.
    Mengenai kehidupan anak mudanya, saya tdk banyak mempelajarinya.
    Alamat email saya ada di kolom It`s me

  2. Iya bener, Bu. Kita sudah merdeka dari penjajahan fisik. Tapi bila kita dibilang merdeka dari penjajahan lainnya, sebetulnya kita belum. Oleh diri kita sendiri saja kita belum merdeka… 😀

    Kalau Bu Murni sendiri ikutan lomba apa saja?

    Btw, aneh ya, setiap perayaan 17 Agustusan perlombaan yang hampir selalu ada itu lomab makan kerupuk… 😀 Tanya kenapa? 😀

    murni : jawab, karena krupuk adalah makanan wajib bagi orang Jawa, sedangkan Jawa adalah penguasa negeri hehehhe….sudah di Holland lagi kah ?

  3. merdeka yang sesungguhnya berasal dari hati nurani masing-masing, selama kita masih merasa terjajah hingga kapanpun tak kan pernah merdeka, jika kita selama ini selalu menyalahkan para penguasa, bagaimana dengan diri kita sendiri. sudahkah kita berusaha untuk menjadi yang terbaik bagi bangsa dan negara tercinta ini, terutama untuk diri sendiri. jika sudah berusaha agar diri sendiri sudah baik maka otomatis perlakuan kita terhadap lingkunganpun menjadi baik. ayo kita mulai dari diri sendiri.

  4. setuju sama subpokjepang

    merdeka itu berasal dari hati nurani., hatilah yang memutuskan kita merdeka atau tidak.

    murni : kalau begitu penduduk yang terjajah negerinya, tapi hatinya mengatakan ‘merdeka’ bisa dikatakan merdeka juga dong ? 😀

  5. kutipan obrolan segitiga [A,1A2,E] makna teknologi kebersihan lingkungan sekitar dan kemerdekaan :

    A1,”Begitu banyaknya teknologi sederhana yang sebenarnya bisa kita kerjakan bersama sekarang juga demi anak bangsa… namun karena jati diri bangsa yang tidak jelas…
    …barokah ini seakan berubah menjadi musibah.
    InshaAllah dengan datang Hari Kemerdekaan ini bersama dengan datangnya anggaran pendidikan yang 20% itu, moment of truth untuk water and
    sanitation itu memang segera datang di tanah air tercinta”.

    A1,”benar sekali Pak…ini benar-22x musibah,= bencana
    tapi bagi wong indonesia itulah mahabah,= pengasih-/kasih- an
    jadi ndak usah dirisau-pikirkan Pak,= pemahamannya mboten sami nanti kan berjalan seiring waktu & tempat, karena
    semua itu ada ilmunya
    semua itu ada saatnya….

    memang, budaya kita suka [kaya] kebyar-22x.. . alm. mas gombloh, tapi klentu nafsirnya. hiks..hiks.. hiks….
    kata Jenderal Wiranto [eks Panglima],”larut dalam demam Euforia”
    kata budayawan melayoe STA. [Sutan Takdir Alisyahbana] ,terpapar jelas di alkisah Roman “Salah Asuhan”
    kata almarhum Bung Karno, cikal bakale Indonesia Mardiko ini….
    benar sampeyan Sam, …

    A2,”Apakah sinyalemen Ir. Soekarno ini masih relevan di era 63 tahun Indonesia merdeka: ” …Menjadi bangsa koeli, dan menjadi koeli di antara bangsa-bangsa. ..”?

    Na’udzubillah. MERDEKA!!!!

    On 8/15/08…:
    “Kalau gak salah memang yang dimaksud dengan “bangsa koeli” menurut Bung Karno adalah cenderung ke mentalitas.
    Artinya memang cara berpikir.
    Artinya pendidikan ada porsi di situ.
    Bagaimana menghasilkan anak didik yang berpikir merdeka.
    Alangkah mengerikannya jika hanya untuk berpikir saja kita belum merdeka….

    Monggo Pak Ardi diuraikan lebih lanjut, panjenengan rak taksih sejaman kalian suwargi Bung Karno hehehe…… jadi kesimpulannya apakah kita sudah benar-benar merdeka Pak…?

    A2, “menjawabnya kudhu kepriye iki…., Mbak Murni?”
    apa masih punya jurus buat berkelitnya Mbak?

  6. Pak Ardi :

    ndak usah berkelit, wong disuruh njawab kok, Pak 😀

    mari mendefinisikan kata merdeka dengan lebih sederhana, misalnya :
    merdeka itu enak makan
    merdeka itu enak tidur
    merdeka itu tetap bekerja
    merdeka itu bisa tertawa
    😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: