murniramli

Berhentilah makan sebelum kenyang

In Belajar Kepada Alam, Renungan on Agustus 23, 2008 at 7:17 am

Kira-kira seminggu lagi orang-orang Islam harus mengerem tabiat makannya. Teman-teman asing saya sudah mulai bertanya-tanya apakah tidak akan mati jika tidak makan separuh hari ? Saya seperti biasa selalu menjawab : orang yang makan tiga kali sehari saja mati !  😀

Karena sudah menjelang ramadhan, maka entah kenapa nafsu makan saya juga berkurang. Apakah ini gejala alami metabolisme tubuh bersiap-siap untuk menyambut masa menahan lapar. Naluri untuk membuka-buka Al-Quran dan menekuni huruf-hurufnya menjadi seperti kuncup yang siap merekah. Entah kenapa ini muncul pada saat-saat menjelang Ramadhan. Barangkali karena malaikat mulai memberi tanda siaga 1 kepada para syeithan tentang pembelengguannya. Saya kadang kesal dengan nafsu yang mengekang yang membuat mendadak mengantuk ketika membaca Al-Quran. Kadang pula marah dengan kelemahan pertahanan jiwa, sehingga terbujuk untuk berleha.

Di pesantren dulu saya hafal betul dengan perkataan mulia : makanlah sebelum lapar dan berhentilah makan sebelum kenyang. Atau  jangan makan kekenyangan karena akan mengganggu sholat malammu. Bapak saya bahkan sering menyuruh kami berhenti memamah jika sesekali beliau dapati kami terus-terusan saja mengunyah sambil menonton TV. Katanya, tidak ada ilmu yang akan masuk bagi si perut kenyang.

Dulu saya gemar sekali membaca buku cerita. Buku-buku itu adalah karbohidrat dan protein yang akan menggemukkan daging-daging tubuh.  Mamak, apalagi Bapak sering kali kesal jika melihat kami makan sambil membaca buku, sebab biasanya nasehat yang mereka sampaikan saat acara makan hanya akan lewat gendang telinga saja. Tapi beliau akhirnya bosan juga, dan membiarkan kami meneruskan kebiasaan itu hingga sekarang. Sebenarnya, makan sambil membaca ibaratnya tidak makan. Sebab sesudah makan saya tidak pernah bersendawa sebagai sinyal perut sudah terpuaskan 😀

Karena kebiasaan “makan” buku dan terlambat makan nasi, maka saya menjadi pelanggan opname di RS karena terkena thypus. Biasanya karena pengaruh infus yang bergizi di rumah sakit, badan menjadi melar dan nafsu makan meningkat. Tapi itu hanya sesaat. Berikutnya kembali lagi kepada kebiasaan “makan buku”.

Tapi sejak masuk musim panas saya susah sekali “makan buku”. Orang bilang musim panas biasanya menurunkan nafsu makan. Ah, itu hanya katanya, buktinya saya makan terus. Kenapa saya ingin makan terus ?

Kalau dianalisa, otak manusia adalah penanggung jawab seluruh proses metabolik tubuh kita. Otak bagian hypotholamus adalah bagian yang paling berperan. Kenapa seseorang menjadi lapar atau ingin makan terus walaupun kekenyangan ? Ahli perotakan Joey Gottfried dari Institute of Neurology, London mengatakan bahwa banyak faktor yang menstimuli orang menjadi lapar, misalnya bau, suara, gambar yang terlihat oleh mata, atau melihat orang makan.

Setiap orang semestinya mempunyai gen yang berbeda dalam mengapresiasi makanan. Ada orang yang jika sudah kenyang maka tidak ingin sama sekali makan lagi. Tapi ada pula yang sudah bersendawa berkali-kali bahkan nafas sudah nyekik, tapi masih juga ingin memamah dan memamah 😀

Tapi menurut Pak Gottfried, otak manusia sebenarnya mempunyai ‘brake system’ yang akan menyetop acara makan jika sudah kenyang. Hanya kadang-kadang brake system ini menjadi non aktif, yaitu pada penderita Kluver-Bucy syndrome, yaitu orang yang makan melimpah tapi masih lapar dan kadang-kadang memasukkan ke mulut barang-barang yang tak layak dimakan (contoh makan daun pintu hehehhe…
tidak bermaksud menyindir orang Sunda yang gemar makan sagala daun 😀  )

Saya bukan ahli otak dan saraf, tapi saraf saya alhamdulillah masih baik 😀

Saya pikir masalahnya bukan pada stimulus yang ada di sekitar kita, tetapi kemampuan otak untuk berfikir normal, yaitu mengerem keinginan makan karena “keyakinan” bahwa makan  hingga kenyang akan mengurangi daya kerja otak. Makan kenyang berarti terengah-engah menimba ilmu. Makan kenyang berarti terseok-seok menulis thesis 😀

Tapi….tidak makan juga akan membawa tulang belulang menjadi lunglai, sehingga jari-jari pun tidak bisa mengetik satu huruf pun 😀   Bahkan tak bisa berkutik walaupun digigit nyamuk !

Bagaimana caranya agar otak bisa memikirkan bahwa : makan kenyang adalah bahaya ?
Embuh…..   \(>0<)/

Ini sama saja dengan menanyakan, bagaimana caranya agar orang yang korupsi mampu berfikir bahwa korupsi adalah dosa !!

Iklan
  1. setuju mbak murni,
    mungkin karena rakus (tak mau berhenti sebelum kenyang/ kaya)
    negeri ini tak pernah bebas dari perilaku korup
    sudah punya 1 mobil, mau 2, 3, dan seterusnya
    akhirnya ketangkul KPK,
    rasain lho
    Marhaba ya Ramadhan

  2. Murni, baru kali ini aku mengunjungi blog mu, harapanku mungkin sudah diamini malaikat. Link untuk menemukanmu tersambung sudah. Semoga kamu pun masih ingat aku. Wahyu. temanmu satu almamater dibawah Prof sadjad, pernah sama2 mengaji kitab .. aku harap ada feed back darimu melalui posting ini ..

  3. @ Wahyu P Ikrar :
    Ya, saya masih ingat betul. Apa kabar ?
    Saya sudah kirim email, nyampe ndak ya ?

  4. bukannya yang benar:

    makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang (?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: