murniramli

SMT…SLTA…SMA…SMU…SMA….capek!!!

In Pendidikan Indonesia, Penelitian Pendidikan, Serba-serbi Indonesia on Agustus 28, 2008 at 9:47 am

Saya sedang menulis dan menganalisa bab terberat dalam disertasi saya karena kaitannya dengan sejarah,yaitu tentang perubahan dan reformasi yang terjadi dalam pendidikan menengah di Indonesia dengan membagi periode bahasan, yaitu jaman Belanda, Jepang, era merdeka, era pembangunan, dan era OTDA. Point yang saya soroti ada 2 yaitu memahami aspek vokasionalisasi dan generalisasi dalam pendidikan menengah, dan menganalisa konteks penjenjangan pendidikan menengah.

Poin pertama di dalam bahasa Jepang dikenal dengan istilah 職業化 (syokugyouka = vokasionalisasi) dan 一般化 (generalisasi), sedangkan poin kedua diistilahkan dengan 前期中等教育(zenki chuutoukyouiku) dan 後期中等教育(koukichuutoukyouiku), yang dalam Bahasa Inggris bisa dicari dengan kata kunci lower secondary education dan upper secondary education.

Pertanyaan mendasar dalam poin pertama adalah :
1. Sejak kapan vokasionalisasi itu muncul di Indonesia ?
2. Bagaimana konsep vokasionalisasi di Indonesia ? (Saya punya dua definisi untuk ini yaitu vokasionalisasi berarti penambahan jumlah sekolah kejuruan, dan yang kedua vokasionalisasi bermakna pula penambahan jam pelajaran yang terkait dengan krida,kerja dan karir di sekolah umum).
3. Bagaimana trend vokasionalisasi di Indonesia dan apa latar belakang kemunculan trend itu?
4. Apakah kebijakan vokasionalisasi 70%:30% atau 60%:40% di beberapa daerah pada era OTDA layak untuk diterapkan? (Salah satu sample daerah yang saya teliti menerapkan program pengembangan SMK:SMA dengan ratio seperti itu).

Poin kedua didasari beberapa pertanyaan :
1. Apakah perlu pendidikan menengah dibagi 2, SMP dan SMA? atau pendidikan dasar yang dibagi 2, SD dan SMP ?
2. Bagaimana konsep penjenjangan itu dalam dunia pendidikan di Indonesia?
3. Jika dalam UU 1950 pendidikan dasar adalah SD, dan pada UU 1989 dan UU 2003 pendidikan dasar adalah SD dan SMP, maka apakah konsekwensi pendefinisian ini ?
4. Apakah mungkin penerapan SD dan SMP sebagai bagian pendidikan satu jenjang dikelola dalam satu institusi pendidikan publik ?
5. Atau sebaliknya bagaimana jika itu diterapkan untuk SMP dan SMA ?

Nah, hasil temuan dan analisanya agak panjang jika dikemukan di sini. Tapi karena yang sering dikeluhkan banyak orang adalah perubahan nama sekolah di Indonesia yaitu seperti judul di atas, maka saya akan menulis tentang itu saja (hehhee…ga nyambung dengan preambule-nya)

Suku Jawa punya mitos bahwa anak yang sakit-sakitan harus diganti namanya, “keabotan jeneng”, istilahnya ya 😀
Jadi, apakah ganti-ganti nama sekolah juga karena alasan sekolah kita sakit-sakitan ? Tapi anehnya hanya SMA yang paling banyak ganti nama.

SD hanya berganti sedikit dari Sekolah Rakyat (SR) dan permanen dengan penamaan SD hingga sekarang. SMP mengalami sedikit perubahan SLTP, SMTP dan akhirnya mentok di SMP.  SMA mengalami penggantian sebanyak 6 kali, mulai dari istilah SMT (Sekolah Menengah Tinggi-sesuai konsep BP-KNPI ,1945-1950), SMA (Sekolah Menengah Atas -jaman kurikulum 1951-1961), SLTA pada saat kurikulum (1963-1967), kembali menjadi SMA (1968-1993), SMU (1994-2003), dan terakhir SMA pada saat ini.

Penamaan SMT pada era kemerdekaan bisa dipahami karena masih ada sisa-sisa Jepang yang menamai semua sekolah di level ini dengan 高等学校(koutougakkou), kanji 高等 berarti level tinggi. Tapi ini juga agak membingungkan dengan penamaan SMP (Sekolah Menengah Pertama). Kata “pertama” seharusnya diikuti dengan “kata kedua”.  Atau dengan kata lain jika SMA disebut SMT pada waktu itu maka SMP seharusnya SMB (Sekolah Menengah Bawah) atau SMR (Sekolah Menengah Rendah).

Selanjutnya perubahan ke SMA. Kata “tinggi” berubah menjadi “atas”. Perubahan ini sepertinya mengikuti penamaan gaya Inggris, Upper Secondary School, dan bukan cara Amerika (Senior High School). Lalu istilah SLTA ini sebenarnya tidak mengacu kepada penempelan nama sekolah, tetapi merupakan penamaan jenjang sistem persekolahan. Misalnya sekarang ini kita menerapkan jenjang pra sekkolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Maka pada tahun 1961 penamaan jenjang tersebut adalah Pra Sekolah, Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, dan Perguruan Tinggi. Pada jenjang SLTA terdapat SMA, SMK, SMEA, SKKA, dll.

Penamaan jenjang seperti di atas dengan mengganti kata “pendidikan” menjadi “sekolah”, sebenarnya bermasalah jika terus diterapkan. Sebab makna Pendidikan Dasar tidak sama dengan Sekolah Dasar. Atau makna pendidikan menengah tidak sama dengan SLTP atau SLTA.

Sekarang mengapa pada tahun 1994 nama SMA berubah menjadi SMU ? Kata “Umum” dalam istilah Bahasa Inggris barangkali cocok dengan “general”. Pada tahun yang sama, pemerintah mengeluarkan kurikulum yang baru, yaitu kurikulum 1994. Kandungan isi dari kurikulum ini, pertama adanya perubahan pengelompokkan mata pelajaran yaitu Kelompok Mata pelajaran Umum yang jumlah jamnya sama untuk kelas 1 dan kelas 2 di semua jurusan (IPA, IPS, dan Bahasa), dan kelompok Mapel Khusus yang berbeda bobotnya tergantung dengan jurusan. Yang menarik pada era ini terjadi penekanan yang benar-benar signifikan antara tujuan pendidikan di SMU dan pendidikan di SMK.  Kalau sebelumnya pendidikan SMA dan SMK tidak ada spesifikasi tegas tentang kelanjutan jenjang, maksudnya, kedua sekolah ini adalah jenjang sebelum memasuki perguruan tinggi dan atau dunia kerja, maka kurikulum 1994 menegaskan bahwa SMU adalah jenjang pendidikan untuk menuju ke PT saja, dan SMK adalah jenjang pendidikan untuk memasuki dunia profesional. Dengan kata lain bisa disimpulkan bahwa pada era ini terjadi diferensiasi yang jelas dalam dunia pendidikan kita.

Kalau kita tengok pada saat yang sama di belahan dunia yang lain, memang sedang terjadi tarik ulur antara mengijinkan anak SMK melanjutkan ke PT atau mengijinkan anak SMA memasuki dunia profesional ? Pakar di Amerika dan Eropa ramai mengungkit kembali isu vokasionalisasi atau generalisasi pendidikan menengah.

Kembalinya penamaan kepada SMA pasca kurikulum 1994, semestinya dipengaruhi oleh sebuah laporan UNESCO tentang secondary education reform (saya baca edisi tahun 2005) yang harus menggambarkan visi ke depan pendidikan menengah yaitu memberi kesempatan kepada anak-anak SMK untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi.

Demikianlah, jadi penggantian nama itu barangkali tidak sekedar karena pergantian menteri. Tetapi bagi kita yang awam, kita kurang dapat mengakses kebijakan negara atau pejabat yang diwawancarai oleh media selalu saja berbicara dengan gaya bahasa pejabat yang tidak dimengerti rakyat 😀

Btw, penamaan jurusan di SMA juga berubah-ubah loh !
Aakh….capek deh !!

Iklan
  1. Artis pasti punya nama beken. Nama asli disimpan di KTP saja. Ternyata pemerintah pandai bikin nama dan istilah. Sebenarnya itu kreatif, ikut-ikutan tren, atau kebingungan, (hehehe).
    Thanks buat infonya.

    Salam kenal bu.

    Penulis “Ice Lemon Tea for School”

    murni : salam kenal juga, Mba

  2. Mbak Murni, ini aku forward copy dari Friendster : YuNzZ mungkin bermanfaat, tadi sebetulnya searching Cafe Gaul, koq masuk kesini, aku inget Mbak Murni yg lagi perlu masukan masalah ini. OK ? Salam dari Solo.

    Beda pendidikan sistem Eropa dan AS
    Ada beda falsafah SMA antara Eropa daratan (Sistem Gymnasium Jerman atau Lyceeum Perancis) dengan Highschool Anglo Saxon seperti Inggris atau Amerika.

    Kalau Gymnasium ujian masuknya susah sekali hanya menerima siswa SMP terbaik. Tapi lulusan Gymnasium bisa masuk ke universitas manapun di Jerman tanpa tes. Karena sudah terselaksi baik pemerintahpun tidak berkeberatan menggelontorkan dana yang cukup besar untuk SMA dan semua gymnasium gratis (dan jumlahnya terbatas). Maka ujian masuk universitas dilaksanakan pada saat lulus SMP.

    Yang nggak masuk Gymnasium juga malah pesta karena akan masuk ke SMK (Fachhogeschule) dan tidak perlu lagi disiksa dengan matematika dan fisika yang tinggi. Sebaliknya SMK atau STM Jerman hebat sekali. Lulus STM ada yang ngerti dan trampil Turbo system untuk mobil sport, misalnya. Atau ngelas standard kapal selam nuklir.

    SMA Amerika (yang saya tahu sedikit) semacam education for all. Semua boleh masuk, mulai rada bodo sampai yang pinter. Sebaliknya mereka boleh milih pelajaran sesuai minat dan bakat. Yang suka bikin film bisa buat video clip bagus sekali. Saya pernah lihat film mengenai siswa SMA ikut perlombaan masak lewat kelas masak-memasak. Dapur SMA tempat prakteknya standard hotel dan restoran kelas atas. Gurunyapun hampir setingkat chef / cooks. Juga di film yang sama tokoh sempat lewat bengkel mobil SMA yang peralatannya lengkap sekali. Dan sebagian kecil belajar fisika sendiri sampai tingkat yang cukup tinggi.

    Lulusan SMA Amerika tidak otomatis masuk univesitas tapi ikut SAT (Scholastic Aptitude Test) yang lumayan susah dan dipastikan 60-70% lulusan SMA Amerika tidak akan tembus. Hanya untuk yang ambil pelajaran matematika dan fisika yang cukup tinggi. Kebanyakan lulusan “kualitasnya” rendah dan ada yang kerja sebagai kasir tidak bisa bekerja kalau listrik atau cash register mati. Ngga bisa aritmatika. Harga barang $12.75 kasih $20 dia sudah nggak bisa ngitung berapa kembaliannya. Ini diherankan
    oleh banyak turis yang mengunjungi kota-kota besar di Amerika.

    Orang kaya dan berpendidikan Jerman atau Eropa akan berusaha agar anaknya sedapat mungkin masuk gymnasium dengan berbagai cara termasuk bimbel. Baru menyerah kalau melihat anaknya kewalahan. Working class Eropa pasrah dan menyerahkan pada sesampainya anaknya masuk mana. Mereka tidak khawatir karena lulusan SMK eropa tidak masalah memperoleh lapangan pekerjaan.

    Kalau sistim Amerika atau Anglo Saxon sangat tergantung lokasi. Kalau masuk SMA di darah ghetto kulit hitam hampir tidak ada harapan masuk universitas. Demikian pula di London dimana dari defek bahasa (KIng’s english) saja sudah menjadi penghalang ke SMA yang bagus. Dan hanya SMA yang bagus saja yang memberi harapan masuk universitas. Di Boston misalnya, yang top Boston Latin School atau di suburbnya SMA Lexington. Dari situ bisa masuk Harvard. Kalau SMA Jamaica Plain atau Roxbury yah mendingan narik taxi aja.

    Orang kaya di Amerika akan mengirimkan anaknya ke Preparatory College yaitu mengulang kembali kelas 2 SMA baru kelas 3 SMA (hanya 2 tahun dan sifatnya boarding school)). Gurunya paling sedikit Master dan ada yang PhD. Contoh yang bagus bisa dilihat di film Scent of a Woman (Al Pacino) dimana tokoh utama adalah siswa miskin yang dapat beasiswa di sekolah prep ini. Biasanya siswa prepschool ini pakaiannya bermerek seperti Gucci dll (asli). Maka kalau sebagai anak muda kita pakai pakaian bagus sering digoda: Man you look preppies. Kamu seperti siswa prep school aja. Sekolah seperti ini setiap tahun didatangi wakil Harvard, Princeton dll untuk interview siswa langsung. Semua perguruan tinggi itu berminat karena orang tua siswa akan menjadi sumber keuangan universitas. SPP tahunan universitas bagus katanya sudah mencapai 40000$ pertahunnya.

    Orang miskin atau bahkan working class di Amerika hampir tidak punya harapan mengirim anak mereka ke universitas beneran. Sebaliknya dikembangkan community college dimana ada kuliah malam dan setelah beberapa tahun bisa juga dapet S1. Kuliah yang ada biasanya akuntansi dll yang sifatnya terapan. Biasanya hanya sampai level D3 (associate
    degree / AD) dan bukan BSc.

    SMA di Indonesia bingung. Aslinya dari AMS atau HBS standar Belanda yang persis Gymnasium dan jumlahnya terbatas (waktu saya kecil belum ada SMA 110 di Jakarta, baru sampai 11 atau 13 (Priok)). Dulu lulusannya jadi pimpinan bangsa ini. Lama kelanmaan SMA diperbanyak karena tidak tahu sejarahnya atau falsafahnya. Dan kemudian pengaruh Amerika masuk dan hampir boleh milih mata pelajaran lewat SMPP (Skolah Menengah Persiapan Pembangunan) . Lalu gagal tapi mutu sudah semakin menurun karena jumlahnya banyak dan perguruan tinggi terpaksa mengadakan SKALU(1976), SKASU (1977-78), Perintis 1(1979-1980an) , UMPTN, SPMB dll untuk lebih menyeleksi lebih baik mana yang pantas masuk UI, ITB dll. Kemudian menjadi acceptable bahwa semua siswa harus lulus seperti sistim Amerika dan de facto meninggalkan falsafah gymnasium Eropa yang sebelumnya menjadi acuan.

    Sekarang pemerintah mau mengembalikan kembali ujian negara seperti jaman Belanda atau periode awal Republik. Padahal hampir semua sudah menerima format SMA Amerika dimana semua orang harusnya lulus setelah berjalan begitu berpuluh tahun. Biasanya para ahli pendidikan yang anti UAN seperti Prof Dr. Arief Rachman akan mengatakan pendidikan
    khan seharusnya melihat proses dan bukan hasil akhir. Khan yang tahu standar muridnya gurunya atau sekolahnya dan bukan orang Kantor Dinas Pendidikan? Yah itu alasan saja. Sebenarnya mereka itu maunya sistemnya sistem Amerika dan bukan eropah lagi dan semua anak diluluskan saja. Mereka juga berargumentasi bahwa orang yang sukses dimasyarakat tidak harus yang akademisnya bagus tapi justru punya softskill, EQ, EI dlsb. Jadi lulusin aja semuanya, ntar khan kelihatan yang mana yang akan sukses.

    Pemerintahpun juga belum kelihatan bermaksud kembali ke Sistem Eropa. Mereka hanya ingin standarisasi yang lebih baik atau bisa juga dugaan orang bahwa ini sekedar bikin proyek.

    Standarisasi memang diperlukan jika akan digelontorkan lebih banyak dana ke pendidikan. Jadi maksudnya uang apapun turun dari pemerintah adalah untuk menaikkan mutu. Dan baku mutu haruslah standar. Nanti dana turun ada yang ke sekolah unggulan dan ada dana yang akan turun untuk SMA yang “tertinggal” . Di koran bahasanya ditulis UAN hanya untuk “prestige”. Demikian pula gaji guru akan lebih besar kalau “mutunya” baik . Lalu digelarlah sertifikasi guru. Hanya yang bersertifikat menerima tunjangan lebih. Diharapkan bahwa guru terpacu ke arah kinerja sehingga akhirnya mutu pendidikan naik. begitulah grand designnya.

  3. Salam. Menarik sekali. Apapun seharusnya pendidikan membuat anak menjadi siap hidup dalam dunia dewasa. tentu saja siap bukan berarti hanya siap bekerja, melainkan siap berinteraksi dengan orang lain dan segala pranata sosial yang ada.

    Oya, saya belajar menulis tentang komunikasi di: http://www.amintr.wordpress.com, dan tentang life-skill di http://www.lsslc.wordpress.com akan senang bila berkenan mampir.

  4. Mbak Murni, saya belajar menulis di Dongeng Planologi dan Edukasi. Tapi bahasanya kaku. Saya jadi belajar dengan blog ini, banyak hal yang perlu saya dalami bagaimana menulis dengan sense yang enak dibaca oleh orang lain seperti tulisan-tulisan panjenengan.

  5. @Wap Koes : Salam kenal, Pak. Terima kasih sudah berkunjung 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: