murniramli

Insting pedagogy Pak Shin’ichi Suzuki

In Pendidikan Jepang, SD di Jepang, Serba-Serbi Jepang, Taman Kanak-Kanak on Agustus 30, 2008 at 12:04 pm

I want to make good citizens. If a child hears fine music from the day of his birth and learns to play it himself, he develops sensitivity, discipline and endurance. He gets a beautiful heart

Barangkali banyak yang tidak kenal beliau. Tapi bagi pecinta pendidikan pra sekolah beliau adalah salah satu sumber ilmu, khususnya dalam pengajaran musik.

Pak Suzuki lahir di Nagoya pada tanggal 17 Oktober 1898 dan tumbuh berkembang dengan pengaruh kuat ayahnya, pembuat biola, Beliau wafat dalam usia 99 tahun. Pak Suzuki terkenal sebagai pencetus philosofi pedagogy yang unik, yang dikenal sebagai “Talent Education (才能教育), Mother Tongue (母語), Suzuki Method” yang sekarang ini diadopsi oleh banyak negara. Tercatat ratusan lembaga musik dengan mengggunakan bendera Suzuki dan mengaku telah menerapkan metode beliau.

Pak Suzuki mulai belajar biola di Jerman, dan sekembalinya ke Jepang mengajar di sebuah sekolah musik. Kisah lengkapnya bisa ditengok di wikipedia. Bagi saya yang menarik adalah proses menemukan metodenya. Untuk memulai eksperimennya, beliau mengajar anak-anak miskin yang tinggal di pinggiran kota, dan mengkhususkan perhatiannya kepada seorang anak laki-laki yatim piatu bernama Matsui.

Konsep berfikirnya sangat sederhana, yaitu bahwa anak-anak tanpa diajar dengan baik sekalipun, dapat menguasai percakapan orang dewasa dalam bahasa Ibunya (Ini ditulis juga dalam buku John Holt yang saya baca). Kebisaan anak menyusun kata menjadi rangkaian kalimat bukan didapatnya dari bangku sekolah, tetapi dari banyak mendengar orang dewasa di sekitarnya berbicara. Dari sini Pak Suzuki mem-postulate-kan prinsip pertama, bahwa karena semua anak bisa menguasai bahasa ibunya dengan baik, maka tentulah mereka juga bisa menguasai musik biola. Atau dengan bahasa lain, anak punya kemampuan luar biasa untuk menampung segala ilmu.

Prinsip kedua, karena anak banyak memperoleh kosa kata baru melalui pembicaraan yang didengarnya di kalangan orang dewasa di sekitarnya (keluarganya) maka tentu dia bisa mahir memainkan biola jika lingkungannya pun bisa memainkannya.

Itulah prinsip dasar philosofi pedagogi Pak Suzuki. Untuk mengujicobakan itu, Pak Suzuki pertama menawarkan kepada beberapa ibu yang berminat, dan tentu saja menjelaskan dengan detil apa manfaat yang akan diperoleh. Bisa dipastikan banyak ibu-ibu Jepang yang mau terlibat. Ini sebenarnya hal yang lazim di Jepang, jika prof A mengatakan resep/tips/teori tertentu, maka 99% ibu2 akan percaya. Pertama yang harus belajar biola adalah si Ibu, dengan muatan belajar yang sederhana yaitu lagu-lagu anak-anak yang semuanya sudah akrab. Sepulangnya ke rumah, ibu harus rajin memperdengarkan alunan biola kepada anaknya (umur 4-5 tahun) . Setelah proses berlanjut, si Ibu diminta membawa anaknya ke sekolah Pak Suzuki, lalu kembali dia akan mendengarkan alunan biola dari permainan ibunya. Besoknya, besoknya dan besoknya dia akan diajak terus ke tempat les biola sang Ibu, dan pada suatu masa, Pak Suzuki menunjukkan sebuah biola kecil kepada anak, dengan mengatakan : “Kamu suka ? ” , maka pelan-pelan si anak akan memegangi biola dan mulai menggesek seperti yang biasa dia lihat pada ibunya. Hari itu dia akan pulang ke rumah dengan membawa biola kecilnya dan ibunya pun demikian.

Selanjutnya di rumah mereka akan bermain bersama, mencoba lagu-lagu sederhana dengan tanpa not balok. Si anak baru akan belajar not balok setelah dia masuk SD kelas 5.

Tentunya tidak sesederhana di atas menerapkan konsep Suzuki. Buktinya dilaporkan banyak sekolah-sekolah bermetode Suzuki yang gagal menghasilkan maestro biola dalam usia dini. Di sinilah letak insting pedagogy yang dimiliki secara natural oleh Pak Suzuki dan mungkin tidak dimiliki oleh guru-guru di sekolah Suzuki.

Seperti halnya anak belajar “sendiri” berbicara ketika kecil, dia mengeluarkan segala bunyi yang tanpa makna, dan kita orang dewasa menyadari itu sehingga kita tidak pernah menegurnya. Ketika dia salah menyebutkan nama-nama benda, kita pun tidak menyalahkannya. Paling-paling hanya tertawa sambil mengulang kembali dengan kata yang benar. Maka demikian pula ketika dia mulai menggesek-gesek biolanya, guru dilarang keras menyalahkan anak. Biarkan dia bereksperimen dengan gesekannya sehingga dia akan tahu segala jenis suara yang akan keluar dari alat aneh itu. Jangan pula mengomentari cara memegangnya yang salah. Tapi teruslah bermain bersamanya. Biasanya anak akan segera meniru orang dewasa tanpa harus disuruh.

Pak Suzuki ingin menanamkan kecintaan kepada sebuah ilmu/pengetahuan/keahlian kepada anak tanpa paksaan. Sedangkan guru-guru di sekolah mungkin ingin mengajarkan itu dengan teknik yang baku dan benar sesuai teori. Pak Suzuki ingin membiarkan anak mengenal segala macam bunyi, tetapi guru-guru mengajari siswanya dengan lagu paten “twinkle twinkle little star”, guru-guru mengajari anak not yang sama. Pak Suzuki ingin membiasakan anak memegang biola sesuai dengan kenyamanannya tetapi tetap menghasilkan gesekan yang indah, sedangkan guru-guru ingin menyeragamkan cara memegang pensil ketika menulis.

Dengan metodenya, Pak Suzuki bisa melahirkan bakat anak, dan mengasahnya tanpa paksaan. Sedangkan sekarang, Ibu-ibu mendatangi psikiatris, atau sekolah bekerjasama dengan lembaga-lembaga psikologi untuk menanyakan : apa bakat anaknya, melalui tes IQ dan minat.

Insting pedagogy yang dimiliki oleh Pak Suzuki boleh jadi tidak dimiliki oleh semua guru, tetapi seperti halnya perkataannya bahwa “all children can be well educated”, maka kita bisa mengatakan juga bahwa :
“all teachers can be good teachers”

Iklan
  1. saya tertarik dengan ungkapan yang disampaikan pada bagian terakhir dari tulisan ini. saya setuju bahwa segala hal yang ada bisa dikembangkan dalam taraf menuju ke optimalisasi manfaat dari keberadaan segala hal tersebut. dalam konteks dunia pendidikan, tujuan pendidikan akan bisa dicapai tergantung pada tiga komponen, yakni guru, murid dan lembaga sekolah.

  2. muathuukkk puooolllllll …. Mbak Murni
    ya iki sing tak enten-enteni akhire methu ugo ……..ilmu pedagogi…

    iya kalau diperkenankan, bolehlah diri ini disampaikan salam kenal sama pak Shin’ichi Suzuki Sun.

    ya, sederhananya itu dalam mengenalkan sesuatu, kerennya itu mengajarkan & mendidiknya…
    itu guru pakai jurus “copy paste persis” jika tidak, sudah bisa dipastikan kleru/klentu…. berat
    sepertinya (maap..kanlah..daku..tuan instruktur/ guru/dosen), Anda lebih menyukai Kacamata dikenakan/kendalikan Kuda, bukan oleh Manusia, mengatasnamakan metodhologi, pakem, disiplin ilmu, ketertiban..dst… sekaligus perangkat kendali dominasi status sosial senior kepada yunior….

    mengapa mereka [tuan instruktur/ guru/dosen] pada mengabaikan “maknawiyah” pelajaran guru bahasa melayoe pernah didapatnya kala itu [masih jadi moerid] skadar ilmu “jasmaniah”, “banyak jalan menuju Mekkah, bukan Roma [kadohan mlakune hehehe…]”?

    andai demikian, wahana ide, kreatif dan kreatifitas akan tumbuh di tanah gersang nan tandus…. & seberapa banyak potensi talenta insan didik terpendam, bukannya tergali oleh pola didik copy paste [minus ilmu pedagogi] pahami individu sesuai kemampuan dirinya, knapa musti diseragamkan bukan beragam?

    Bener Mbak, banyak yang menjalani profesi mulia pendidik [instruktur/guru/dosen]
    asal kadarnya, berkemampuan secara intelektual, namun tanpa instink pedagogy,
    alias ruh penjiwaan, jadi ajarannya terasa datar benar, tak ada greget [malah bikin geregetan kali ya], tak kesan menempel kuat di memori murid
    asal terpenuhi satpelnya, lebih dari cukup

    hanya soeka memandang rendah pada moeridnya, karena penguasa tunggal di kelas
    hanya soeka ketetapan, bukan (anti) perubahan [tergambar jelas dicerita pewayangan sosok Guru diperankan Pandita Durna dihajar oleh Ki Patih Gandamana saat menemui sohibnya Sutjitra– , kini menjadi penguasa di Kerajaan Drupada bergelar Sang Prabu Salyopati]

    hanya terpenuhi rukunnya, luput esensi/ substansi disampaikan
    hanya mencetak moerid pandai penghafal ayat-2 ajaran, [kaya beo menghafal lagu diajarkan tuannya]
    bukan pemaham cerdas makna skaligus penghafal ajaran pandai memanfaatkan ilmu diperoleh untuk eksistensi/aktualisasi dirinya di kemudian hari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: