murniramli

Apa yang harus diajarkan kepada anak ?

In Islamologi, Renungan on September 11, 2008 at 3:04 pm

Bagaimana mendidik anak ? Banyak sudah buku-buku nasehat yang disampaikan oleh pemikir dari ujung Barat dan Timur tentang bagaimana mendidik anak. Dan semuanya bisa jadi benar berlaku bagi sebagian orang dan bisa juga tidak.

Apa yang harus diajarkan kepada anak ?

Mari kita lihat cara yang dipergunakan Luqman a.s (QS Luqman : 13- 19)

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Pelajaran kesatu :

wa idz (dan ingatlah) qoola (berkata) Luqmaanu (Luqman) libnihi (kepada anaknya) wa huwa (dan dia) ya’izuhu (sedang mengajarinya) yaa bunayya (wahai anakku) laa (janganlah) tusyrik (engkau mempersekutukan) billaahi (Allah) Inna (sesungguhnya) as-syirka (syirik itu) lazolmun (kekejian) adziim (yang besar)

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

وَإِن جَاهَدَاكَ عَلى أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Pelajaran kedua

wa wasshoinaa (dan Kami telah mewasiatkan) al-insaana (manusia) biwaalidaihi (terhadap kedua orang tuanya) hamalathu (telah mengandungnya) ummuhu (ibunya) wahnan (dalam keadaan payah) alaa (atas) wahnin (kepayahan) wa fishooluhu (dan menyapihnya) fii (dalam) ‘aamain (dua tahun) anisykur lii (dan bersyukurlah kepadaKu) waliwaalidaika (dan kepada kedua orang tuamu) ilayya (kepadaKula) almashiir (tempat kembali) .

fa in (dan apabila) jaahadaka (mereka mengajakmu) ‘alaa an tusyrika bii (untuk mempersekutukanKu dengan sesuatu) maa (yang tidaklah) laisa laka (ada padamu) bihii ‘ilmun (pengetahuan tentang hal itu) fa laa (maka janganlah) tuthi’humaa (engkau mengikuti keduanya) washoohibhumaa (dan perlakukanlah keduanya) fiddunyaa (di dunia) ma’ruufan (dengan kebaikan) wattabi’ (dan ikutilah) sabiila (jalan) man (yang) anaaba ilayya (orang yang kembali kepadaKu) tsumma (kemudian) ilayya (kepadaKulah) marji’ukum (kembalimu) fa unabbiukum (maka Aku akan kabari kalian) bimaa (dengan apa-apa) kuntum (yang kalian) ta’malauun (yang kalian kerjakan)

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

Pelajaran ketiga

yaa bunayya (wahai anakku) innahaa (sesungguhnya) in taku ( jika ada perbuatan) mitsqoolan (seberat) habbatin (biji ) min (dari) khardalin (sawi) fatakun (lalu dia berada) fii (di dalam) shakhratin (batu) aw (atau) fissamaawati (di langit) aw fiil ardli (atau di dalam bumi) ya ti bihaa (maka membalasnya) Allahu (Allah) inna llaaha (sesungguhnya Allah) lathiifun (Maha halus) khabiir (lagi Maha mengetahui)

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Pelajaran keempat :

yaa bunayya (wahai anakku) aqimi shholaata (dirikanlah sholat) wa mur bil ma’ruuf (dan berbuat baiklah) wan ha ‘anil munkar (dan cegahlah kemungkaran) washbir (dan sabarlah) ‘alaa (atas) maa (apa-apa) ashoobaka (yang menimpamu) inna (sesungguhnya) dzaalika (yang demikian itu) min (di antara) ‘azmil Umuur (perbuatan yang berat)

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Pelajaran kelima :

wa laa (dan janganlah) tusho’iir (memalingkan) khaddaka (mukamu) linnaasi (dari manusia) wa laa (dan janganlah) tamsyii (engkau berjalan) fiil ardhi (di muka bumi) marahaa (dengan sombong) inna llaaha (sesungguhnya Allah) laa yuhibbu (tidak menyukai) kulla (setiap) mukhtaalin (orang yang berpaling) fakhuur(lagi sombong)

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ إِنَّ أَنكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

Pelajaran keenam :

waqshid (dan sederhanakanlah) fii (dalam) masyiika (cara berjalanmu) waghdlud (dan lunakkanlah) shautika (suaramu) inna (sesungguhnya) ankaro (seburuk-buruk) al-ashwaati (suara) lashautul khamiir (adalah suara keledai)

Demikianlah urutan yang hendaknya diajarkan oleh orang tua kepada anak-anaknya.
Ajaran-ajaran di atas adalah ajaran yang akan membawa anak kemanapun dengan keleluasan dan kemampuan beradaptasi yang baik.
Nasehat-nasehat di atas adalah nasehat untuk menjadi insan yang mulia.

Setelah anak memahami bahwa demikianlah manusia yang baik, maka selanjutnya biarkanlah dia mengembangkan sayapnya untuk menjadi insan yang memahami ilmu dan misteri bumi dan langit. Biarkan dia terbang ke angkasa luas, menyelam masuk ke dalam luasnya samudera untuk mereguk semua ilmu yang ada di dalamnya.

Renungan hari kesebelas…..

Iklan
  1. sepertinya pelajaran di atas harus diajarkan dulu ke para orang tua, kemudian para orang tua menjalani, barulah mengajarkannya ke anak.
    sebelum punya anak , sering berfikir bahwa mereka yang punya anak sering salah dalam mengajar anaknya, sekarang malah bingung sendiri, apakah saya sudah benar mengajar anak.

    iroiro osewani narimashita

  2. Subhanallah, benar-benar menyentuh ane sebagai seorang anak….

  3. Penanaman nilai – nilai agama sejak usia dini akan lebih memberikan bekas yang luar biasa pada diri anak, keteledoran orang tua yang lebih mengutamakan pemenuhan gizi jasmani, dengan mengabaikan aspek rohani, adalah salah satu bentuk penyepelean akan amanah Alloh yg dipercayakan kepadanya…
    Mudahan mudahan Alloh memberikan kekuatan kepada kita dalam mengemban amanah ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: