murniramli

Menjadi penerjemah

In Serba-Serbi Jepang on September 16, 2008 at 10:41 am

Jumat lalu secara mendadak saya diminta menjadi penerjemah wawancara TV Nagoya dengan para perawat yang baru datang ke Jepang. Ada sekitar 25 perawat yang sedang dilatih di TC Toyota yang terletak di sebuah bukit di luar kota Toyota.

Wawancaranya berlangsung sekitar 1 jam-an, tetapi acara pergi pulang dan menunggu memakan waktu berjam-jam. Kegiatan menerjemahkan lancar, sebab sebelumnya pertanyaan sudah disampaikan dulu kepada saya secara garis besar, sambil saya sedikit-sedikit mengusulkan kira2 apa yang menarik untuk ditanyakan.

Beberapa kali saya kelepasan, serasa menjadi pewawancara asli. Saya bertanya spontan saja keluar dari teks yang sudah disepakati, karena terdorong rasa penasaran dengan program “barter” ini. Jepang memasukkan produk mobilnya ke Indonesia dan Indonesia memenuhi pangsa pasar perawat Jepang yang memang kekurangan.

Karena ini adalah tugas menerjemahkan pertama kali untuk sebuah TV, dan sejatinya kemampuan Bahasa Jepang saya masih poor, saya agak khawatir juga dengan hasilnya. Tapi setelah melihat sesi wawancaranya diproses hari ini saya agak lega. Lumayanlah….

Barangkali teman2 yang sudah terbiasa menjadi penerjemah sudah tahu pakem menerjemahkan bahwa tidak semua kata harus diterjemahkan dan berputar2 seperti apapun jawaban yang diberikan oleh responden, kita tetap harus mampu mengetahui mana inti kalimatnya, dan itulah yang diterjemahkan.

Saya tidak tahu menahu lebih jauh pakem menerjemahkan, tapi insting saja, saya berusaha mencari kata-kata kunci yang gampang dicari padanan katanya dalam Bahasa Jepang. Inti kalimat itulah yang disimpan di kepala kemudian menyusunnya menjadi Bahasa Jepang yang mudah dipahami agar pewawancara bisa melanjutkan pertanyaan berikutnya. Teknik ini ternyata cukup membantu pihak TV.

Hari ini kembali saya diminta datang ke Nagoya TV yang kantor besarnya ada di Higashi Betsuin, sebab ada sedikit kesulitan bahasa yg dialami oleh PJ acara ketika bermaksud memendekkan durasi wawancara. Memasuki ruang lobby kantor Nagoya TV, saya langsung disambut satpam yang menanyai siapa yang dicari dan seorang gadis cantik di front desk menyapa dengan sangat sopan. Tunggu sekitar 5-7 menit, lalu seorang Mbak staf datang mengantar saya naik ke lt.4, ruang produksi yang dipenuhi orang2 TV yang sedang berkutat dengan editing programnya masing-masing.

Saya menemui PJ acara yang menjadi pewawancara waktu di Toyota, lalu langsung saja dia minta maaf karena mengganggu waktu saya lagi. Dia kemudian menunjukkan subtitle Bahasa Jepang, dan meminta bantuan saya untuk mencari frase yang sesuai dengan terjemahan itu. Kami memotong-motong jawaban responden yang sedianya nanti akan diberi subtitle berbahasa Jepang atau didubbing. Tugas mencari frase jawaban yang sesuai dengan terjemahan subtitle tidak lama, hanya sekitar 30 menit. Selebihnya saya tambahkan informasi tentang Indonesia, terutama bahasa yang beraneka dialeknya.

Alhasil, wawancara yang aslinya berdurasi 1 jam dipotong hanya menjadi sekitar 10 menit, dan selebihnya digabungkan dengan potongan-potongan scene yang mengisahkan pekerja asing di Jepang, terutama perawat asing.

Saya takjub melihat kecanggihan alat-alat itu. Dan terfikir bahwa berita bisa dimanipulasi dengan alat secanggih itu, sehingga misalnya seorang politikus mengatakan “tidak setuju”, menjadi “setuju” dengan memotong kata “tidak”. Well….tentunya ada kode etik produksi yang harus ditaati, dan ada pula hak komplain berita.

Sebelum pulang, PJ acara sekali lagi mengingatkan bahwa acara akan disiarkan hari Kamis, pkl 18 lewat dikit, channel 11.
Saya diantar turun ke bawah oleh Pak PJ, sebab saya tak ingat liku-liku jalannya, mengembalikan kartu guest di lobby dan menjadi rikuh karena tiga orang membungkuk hormat (2 Mbak front desk dan Pak Satpam) sambil mengucapkan arigatou gozaimashita.
Di depan lampu penyeberangan yang menuju stasiun, gantian Pak PJ yang membungkuk dalam: “mata yoroshiku onegai shimasu”. Saya sudah tidak bisa membalas dengan kesopanan yang sama sebab lampu hijau sudah kelap-kelip. Lariii…..!!!

Iklan
  1. Selamat ibu… 🙂

    murni : makasih, Mba

  2. saya pernah ikut semacam workshop menjadi penterjemah/interpreter,
    namun karena bahasa Inggris pas-pasan jadi cuma teorinya ajah,

  3. Selamat siang ^^

    Saya tertarik sekali dengan artikel anda. Jika anda berkenan, bisakah anda menulis tentang isi wawancara anda dengan para perawat indonesia yang datang ke Jepang tersebut?

    Terima kasih ^^

    murni : wah, sayang sekali isi wawancara adalah hak miliknya TV Nagoya. Saya tidak berhak menuliskannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: