murniramli

Pinjaman kepada Allah

In Islamologi, Renungan on September 20, 2008 at 11:26 am

Sebenarnya Allah tidak membutuhkan pinjaman, tetapi Dia menganjurkan kita meminjamiNya.

QS At-Taghaabun : 16-18

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنفِقُوا خَيْرًا لِّأَنفُسِكُمْ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

إِن تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ

عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

fattaqullaaha (Maka bertakwalah kepada Allah) mastatho’tum (apa-apa yang kamu sanggupi-sesuai dengan kesanggupanmu), wasma’uu (dan dengarkanlah) wa athii’uu (dan taatlah) wanfiquu (dan nafkahkanlah) khairan (kebaikan) li anfusikum (untuk dirimu) wa man (dan siapa) yuuqa (yang dipelihara) syukkha (dari kekikiran) nafsihi (dirinya) fa ulaaika (maka merekalah) hum (mereka) almuflihuun (orang-orang yang beruntung)

in tuqradluu (jika engkau memberi pinjaman) allaaha (kepada Allah) qardan (pinjaman) hasanan (yang baik) yudlooifhu (maka Dia akan melipatgandakan) lakum (bagi kalian) wa yaghfir lakum (dan mengampuni kalian) wa llaahu (Dan Allah) syakuurun (Maha Pembalas Jasa) haliimun (lagi Maha Penyantun)

‘aalimul ghaibi (Dia Maha mengetahui yang ghaib) wassyahaadati (dan yang nyata) al-‘aziizu (Maha Perkasa) Al hakiim (Maha Bijaksana)

Berlaku takwa tidak bisa dipaksakan, harus sesuai keadaan insan. Allah tidak mengatakan takwa itu adalah naik haji, sebab tidak semua hamba dapat menunaikannya. Tetapi Dia mengetahui bahwa sholat lima waktu adalah bentuk ketakwaan dasar yang sanggup diemban oleh semua hambaNya, maka sholat tidak bisa dipilih dalam pengerjaannya. Karenanya Allah mewajibkan yang lima dan menganjurkan dengan memberi pahala tambahan terhadap pelaksanaan sholat-sholat selainnya.

Allah juga tidak mengatakan bahwa takwa itu adalah memiliki harta sehingga bisa menafkahi diri dengan baik, sehingga banyaklah insan yang memakai alasan ini untuk menjadi kaya. Allah tidak mengatakan bahwa ketakwaan itu dengan jalan mengemis sehingga harta terkumpul kemudian dengannya haji ditunaikan, sedekah dialirkan.

Ada hamba yang karena sakit hanya sanggup berpuasa sehari selama ramadhan, maka Allah menerima puasa itu apabila disertai keikhlasan dan kesungguhan. Ada hamba yang sabar tegak beribadah selama berjam-jam, tetapi ada pula yang hanya tahan 5 kali sehari. Maka tentu saja sangat adil jika Allah memberi ganjaran sesuai dengan kesanggupan hamba.

Pinjaman kepada Allah adalah pinjaman yang tak seimbang.
Kita hanya memberiNya 100 yen, sedangkan Dia membalasnya dengan seluas dunia, mengampuni dosa dan kesalahan kita yang menggunung. MemberiNya pinjaman adalah perniagaan yang tak merugi.

Apakah pinjaman itu ?

Pinjaman kepada Allah berupa sedekah yang ditunggu-tunggu oleh faqir dan miskin.
Pinjaman kepada Allah adalah kucuran harta untuk membangun rumah-rumah ibadahNya, melancarkan dakwah menyeruNya, memberikan ketenangan dan kelancaran kepada pencari-pencari ilmuNya.

Suatu kali sebuah amplop diserahkan secara sembunyi-sembunyi oleh seorang ibu kepada pemberi pengajian Al-Quran sambil berkata “Tolong diterima, sekedar uang transport”.  Lalu, si pemberi pengajian menolaknya dengan halus. Tetapi si ibu memegang erat tangannya sambil berkata, “Nak,  tidak ada caraku yang lain untuk menolong agama Allah, selain memberikan bantuan kepada hamba-hambaNya yang telah dianugerahi ilmu untuk menyampaikan Al-Quran”

Banyak sekali cara meminjamkan kepada Allah, maka beruntunglah insan yang diberi kelonggaran harta dan kelapangan hati, dilepaskan simpul-simpul kekikirannya untuk meminjami Allah….

Renungan hari keduapuluh….

Iklan
  1. kelihatannya yang punyakku sendiri gak ada deh… kan semua punya NYA ? kita mah pinjem aja….
    terus sudahkah kita bertanggung jawab tentang apa yang sudah kita pinjam dariNYA ini????

  2. ya selama disebut manusia…
    sifat lupa/alpha/pelupa wajib di -ingat & -kan.
    maka tidaklah mengherankan
    tatkala betingkah s/d naudzubillah,
    lagak-lagunya bergaya end beraksi s/d seksi

    ada tahu diri, adab mengenakan benda pinjaman
    dengan menjaganya dari kelalaian/keterlantaran/kerusakan dan mengembalikannya dengan baik kepada Sang Pemilik-NYA

    ada pula sebaliknya, agak sembrono, lalai, kurang bertanggung jawab, s/d merusakkannya atas benda pinjaman tsb. hingga saatnya dikembalikan
    belum sempat diperbaiki wal mohon maaf ampun hingga membuat kecewa Sang Pemilik-NYA.

    ada pula beruntung & cepat sadar dari kealpaannya
    masih ada kesempatan memperbaiki benda pinjaman dari merekatkan yang retak hingga terserak pecah itu menjadi utuh kembali, walau ibarat tak semulus guci cina disertai permohonan ampun diterima dan dimaafkan Oleh Sang Pemilik-NYA.

    kesemuanya tidak lepas dari ….unsur kelupa’an
    ya balik lagi kelupa’an atau rasa keingin tahuan
    besar … kadang sedikit- nyerempet bahaya-bahaya
    [vivere veri veri coloso] ya kalau lolos, lha kalau keserimpet-keserempet kan berabe…

    semoga kita semua lekas diberikan rasa eling, ingat, tahu diri dan tak malu mengakui…bahwa
    apa yang kita punyai kesemuanya ini barang pinjaman & sewaktu-waktu diminta Sang Pemilik
    beruntung bisa Ikhlas mengembalikan sebagai- mana Kebaikan dipinjamkan Oleh-NYA…

    apalagi pinjam-meminjam sesama kaum peminjam, janganlah dipersulit atau mempersulit
    wong semua itu statusnya barang pinjaman kan…
    knapa kita pada suka lupa diri ya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: