murniramli

Lihat lagi !

In Belajar Kepada Alam, Pendidikan Jepang, SD di Jepang on Oktober 6, 2008 at 11:11 am

Musim panas yang lalu saya menangkap seekor semi (cicadas) atau tonggeret yang getaran timbals, sebuah struktur yang ada di dekat perutnya menimbulkan bunyi sangat berisik di musim panas.

Semi itu rencananya akan saya jadikan bahan belajar Sekolah Bhinneka.

Binatang itu seperti ini :

Saya akan menugaskan anak-anak kelas Flores (5 dan 6) untuk mengamati serangga ini dan menyusun hasil pengamatannya dalam bentuk kalimat puitis 😀
Tapi tujuan sebenarnya, saya ingin belajar bagaimana anak-anak mengamati sesuatu.

Dulu sewaktu mengajar di Madrasah, saya suka menanyai murid apa gunanya pensil. Dan saya tidak akan berhenti bertanya sehingga sekitar 30-an murid saya menyebutkan apa fungsi pensil menurut dia.

Di kelas Biologi, guru sering membawa sample tanaman ke dalam kelas dan menyuruh murid menggambarnya. Minggu lalu saat mengajar IPA di kelas Bhinneka saya juga melakukan kebodohan  dengan hanya menunjukkan anak-anak beberapa organ tanaman melalui layar komputer dan mengenalkan kepada mereka tentang variasinya. Sayangnya kami tak punya waktu banyak untuk ke luar kelas dan melakukan pengamatan langsung. Pelajaran IPA selanjutnya akan saya manfaatkan untuk melatih anak mengamati tanaman dalam bentuk outdoor class.

Saat meminta anak-anak mengamati dan menggambar organ tanaman, biasanya guru akan puas jika si anak telah menggambar seluruh organ secara berututan dan menuliskan bagian-bagiannya. Kita masih belum sampai kepada membebaskan anak-anak untuk berimajinasi dengan amatannya. Maksud saya, daun yang diamati oleh mata seorang anak tidak akan sama image-nya dengan amatan anak yang lain.

Jika anak hanya mengatakan daunnya bulat, Bu; daunnya lonjong, atau tulang daunnya sejajar atau berselang seling. Maka guru hendaknya mengatakan : Lihat lagi, Nak ! Dan tuliskan karakter yang lain dari daun ini ! Setiap kali si anak mengatakan sudah, maka guru harus mengulang lagi perintah untuk mengamati. Jika anak mulai bosan, maka berceritalah, bahwa kalau dilihat dari atas, daun singkong itu seperti tangan, dan kalau dipegang tangkai daunnya, maka daun yang muda akan tidak seperti jari tangan lagi. Kalau dilihat dari bawah, daun singkong itu tidak sama dengan permukaan atasnya. Bagaimana kalau kau raba daun ini, Nak ? Seperti apakah permukaan atas dan bawahnya ? Dst…

Melatih anak untuk memiliki sudut pandang/amatan yang bermacam-macam sekaligus akan mengajarinya keragaman alam dan isinya. Dan tentu saja dia akan terbentuk menjadi manusia dengan hati seluas samudera, bisa memahami arti kata berbeda. Pengamatan dari berbagai sudut pun akan mengajarinya solusi permasalahan yang bisa dipecahkan dari berbagai sudut pandang.

Sekarang, lihat gambar serangga di atas ! Seperti apakah dia ?

Iklan
  1. kira-kira ad berapa persen sih mahasiswi dari indonesia yang belajar di jepang+

    murni : wah saya tidak tahu persisnya.
    mohon maaf. Di kampus saya ada kurang lebih 30 orang

  2. Pembelajaran seperti ini menumbuhkan daya imajinasi dan analisis siswa untuk berekspresi baik secara tulisan maupun lisan. (Guru yang cerdas… Bravo)

    Susah mengamati suatu makhluk hidup melalui gambar krn pengamatan dari satu sudut. Lebih baik pengamatan langsung ke lapangan agar kita dapat mengetahui perkembangannya saat diam dan saat bergerak.

    Tanya : mereka belajar menggunakan modul atau tidak ? Modul semacam LKS (lembar kerja siswa) untuk praktek lapangan/pengamatan.

    Semoga sukses
    salam

    murni : sekolahnya sekolah2an, Pak…belum pake modul2an.
    Karena yg mengurusnya juga sibuk kuliah. Prinsip awal pendiriannya sebenarnya cuma mau mengajak anak-anak mencintai Bahasa Indonesia, pandai menggunakan Bahasa Indonesia.

  3. belajar lewat suatu pengamatan sedang pembelajaran harus dicermati-diulang, kalau mempelajari ini tentu lebih spesial lagi bukan,

    mengapa-knapa seringkali…? sepanjang usia “belajar” ku alami selama ini kurang percaya/ dipercaya, acapkali diajari/dituntun…? karena … lebih cepat ketahuan hasilnya,
    lebih baik pemahamannya, belum tentu mahir
    lebih aman dari timbulnya segala risiko….

    duh berbahagainya “mereka-mereka” yang mendapatkan kesempatan bahan belajar+sosok guru memahami & tak percuma mendedikasikan kpintaran melainkan benar-2 cerdas+lihai + sistem pembelajaran memberi kesempatan aktualisasi diri… di Sekolah Bhinneka

    semoga virus pembelajaran berikut semangat dedikasi pengabdian memintarkan anak orang
    menjangkiti sesama kolega di negeri nusantara
    walau beda budaya sing penting smangat-spirite rek…. ndak ngono tah Mbak Murni…

    selamet lebaran, mohon maap lair trusing batin

    murni : sami-sami, Pak

  4. menurut saya gambar serangga di atas,
    yang di sebelah kiri seperti lalat,
    yang sebelah kanan seperti kecoa

    murni : hehehe…bagus !!
    Coba lihat lagi, seperti apa kakinya jika fotonya diperbesar ? 😀

  5. Mengamati serangga di atas yah..dari segi dan sudut manapun cuma satu kesannya ; “Jijik” yeeeek..
    Ihh nggilani banget. Udah pernah liat gambarnya sih sebenernya..tp brp kalipun diliat tetep..yeek.

    Kenapa yah org Jepang suka banget serangga??
    Kayaknya kalo saya ada kesempatan ke Jepang..saya bakalan benci musim panas disana..banyak “gituan”..ihh

    murni : jangan benci dulu…
    kalau musim dingin, orang Indonesia di Jepang malah kepengen musim panas 😀

  6. berpikir out of box ya. lumayan sulit karena kebanyakan guru hanya menjejali anak dengan materi pelajaran. kira-kira sistem pendidikan di indonesia bisa diubah gak ya?

    murni : insya Allah bisa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: